JAKARTA, AFU.ID — Konflik antara Arab Saudi dengan kelompok Houthi di Yaman kembali memanas setelah keduanya saling jual-beli serangan. Kali ini, keduanya saling menyasar fasilitas minyak. Serangan terbaru dari Houthi menyasar gedung administratif milik perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran yang memicu kebakaran hebat
Serangan terhadap fasilitas Aramco terjadi setelah juru bicara Houthi, Yahya Saree, memperingatkan seluruh pegawai dan warga sipil yang berada di sekitar fasilitas minyak Arab Saudi agar segera mengungsi. Houthi menyebut fasilitas-fasilitas tersebut sebagai target yang sah jika serangan terhadap wilayah yang mereka kuasai di Yaman terus berlanjut.
Peringatan itu muncul setelah koalisi pimpinan Arab Saudi mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil di sekitar stasiun pusat Perusahaan Minyak Yaman di kawasan al-Sabah, Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi. Saree memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Sanaa akan dibalas dengan tindakan yang keras dan menyakitkan di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.
Tak lama setelah perintah evakuasi dikeluarkan, ledakan terdengar di Sanaa. Media yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan serangan udara oleh pasukan koalisi yang didukung Arab Saudi menghantam fasilitas minyak di kawasan al-Sabah. Koresponden Al Jazeera di Yaman, Yousef Mawry, melaporkan bahwa serangan Saudi juga menyasar dua lokasi lainnya, yakni pelabuhan Ras Isa dan sebuah stasiun minyak di Provinsi Hodeidah yang dikuasai Houthi.
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menuduh Houthi memanfaatkan fasilitas tersebut beserta depot bahan bakar bawah tanah untuk menyimpan persenjataan rudal dan pesawat nirawak. Sebelum serangan terjadi, perusahaan minyak setempat menyatakan bahwa tangki penyimpanannya dalam keadaan kosong. Karena itu, serangan tersebut diklaim tidak akan berdampak terhadap cadangan minyak maupun pasokan bagi masyarakat.
Meski demikian, sejumlah saksi melaporkan antrean kendaraan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar di Sanaa. Warga khawatir serangan terhadap fasilitas minyak akan memicu kelangkaan bahan bakar. Saudi memperingatkan bahwa Houthi akan menghadapi konsekuensi atas serangan yang dilakukan terhadap wilayah kerajaan tersebut. Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional juga terus berlangsung. Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman dalam operasi serangan balasan yang dikenal sebagai “Dawn of Yemen”, menyusul perebutan sejumlah wilayah strategis oleh Houthi pada bulan sebelumnya.
Eskalasi di Yaman berlangsung di tengah konflik regional yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan terhadap fasilitas minyak, bandara, dan infrastruktur sipil meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan energi dan stabilitas kawasan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Houthi bertindak sangat buruk. Ia juga menyebut kemungkinan meminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk turun tangan mendukung kepentingan Arab Saudi.
PBB mengungkap, sedikitnya 46 warga sipil tewas dan lebih dari 130 lainnya terluka di Yaman sejak Agustus. Lebih dari 200.000 orang juga dilaporkan mengungsi sejak September. Dengan serangan yang terus menyasar fasilitas minyak dan infrastruktur strategis, konflik Saudi-Houthi berisiko memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman sekaligus menambah tekanan terhadap keamanan energi di kawasan Timur Tengah. (EER)