JAKARTA, AFU.ID — Jaringan media Al Jazeera mengungkap dugaan serangan perangkat lunak mata-mata (spyware) yang menargetkan perangkat milik sejumlah jurnalisnya. Investigasi Citizen Lab, lembaga riset keamanan siber dari Universitas Toronto, Kanada, menemukan bahwa perusahaan teknologi periklanan asal Israel, Discover-Tech, diduga membantu menyebarkan spyware ke puluhan perangkat milik Al Jazeera dan sejumlah organisasi lainnya.
Pihak Al Jazeera pada Kamis (15/10/2026) menyatakan mengecam serangan spyware yang menargetkan sejumlah stafnya. Jaringan media tersebut juga menegaskan akan terus melindungi karyawan dan sistem yang digunakan dalam operasional perusahaan. Menurut Al Jazeera, penargetan terhadap jurnalis merupakan serangan terhadap kebebasan pers. Mereka juga mendesak agar pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut dimintai pertanggungjawaban.
Investigasi Citizen Lab dilakukan setelah tim internal Al Jazeera menemukan aktivitas mencurigakan pada perangkat yang digunakan sejumlah jurnalis. Hasil penyelidikan mengonfirmasi adanya spyware buatan Candiru, perusahaan pengembang perangkat lunak mata-mata asal Israel yang masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat pada 2021 karena aktivitas siber berbahaya.
Laporan Citizen Lab mengungkap dugaan penggunaan metode yang belum pernah didokumentasikan sebelumnya, yakni serangan bertarget melalui iklan digital dengan teknik zero-click. Metode ini memungkinkan perangkat menjadi sasaran infeksi tanpa mengharuskan pengguna mengeklik iklan atau melakukan tindakan tertentu. Dalam skema tersebut, Discover-Tech diduga membeli iklan yang telah disisipi perangkat lunak berbahaya. Iklan itu kemudian mengarahkan perangkat yang menjadi sasaran ke perangkat lunak perusak milik Candiru.
Teknik tersebut dinilai berbahaya karena pengguna dapat terpapar spyware hanya ketika iklan yang terinfeksi muncul di perangkat mereka. Dengan demikian, pengguna belum tentu menyadari bahwa perangkatnya sedang disusupi. Spyware yang digunakan dirancang untuk mengumpulkan berbagai informasi sensitif. Data yang dapat dicuri meliputi berkas, dokumen, riwayat dan data peramban, kuki, penanda halaman, hingga kredensial yang tersimpan.
Perangkat lunak itu juga memiliki kemampuan untuk merekam ketukan papan ketik, mengambil tangkapan layar, mengakses masukan mikrofon dan kamera, serta mengekstrak surat elektronik dan pesan dari sejumlah platform komunikasi populer. Untuk menghindari deteksi sistem keamanan, spyware tersebut disebut menggunakan saluran komunikasi terenkripsi dan mengirimkan data curian dalam potongan-potongan kecil secara bertahap.
Awal Mula Ketahuan
Tim teknologi internal Al Jazeera pertama kali menemukan pola aktivitas tidak biasa pada perangkat sejumlah jurnalis pada 2024. Aktivitas tersebut berlanjut hingga 2025, sehingga memicu penyelidikan lebih mendalam. Al Jazeera kemudian meminta bantuan Citizen Lab untuk memeriksa dugaan penggunaan spyware. Peneliti menganalisis catatan lalu lintas jaringan yang dikumpulkan selama periode serangan. Dalam laporan yang diterbitkan pada Kamis, Citizen Lab menyatakan bahwa catatan jaringan yang diberikan Al Jazeera memperlihatkan pola waktu yang jelas mengenai bagaimana serangan tersebut dijalankan.
Al Jazeera menyebut kerja sama dengan Citizen Lab membantu memverifikasi sekaligus mendokumentasikan serangan tersebut secara terbuka. Sejumlah jurnalis Al Jazeera termasuk di antara jutaan pengguna yang perangkatnya diduga menjadi sasaran iklan berbahaya. Beberapa di antaranya diketahui melaporkan isu-isu sensitif, meskipun laporan tersebut tidak merinci seluruh identitas maupun bidang liputan para jurnalis yang ditargetkan.
Ancaman dari iklan berbahaya tersebut tidak hanya menyangkut organisasi media. Perusahaan keamanan periklanan asal New York, Confiant, dalam laporan terpisah menyebut sejumlah iklan Discover-Tech juga muncul di jaringan penting yang digunakan Pentagon, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Temuan tersebut menyoroti potensi luasnya jangkauan distribusi iklan yang diduga mengandung spyware. Namun, kemunculan iklan di jaringan-jaringan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh perangkat atau institusi terkait berhasil terinfeksi. Candiru sendiri sebelumnya dikaitkan dengan penggunaan spyware untuk mengawasi sedikitnya 100 jurnalis, pembangkang, dan pihak lainnya di sejumlah negara.
Kasus yang menimpa Al Jazeera kembali menyoroti risiko penggunaan teknologi periklanan digital sebagai sarana pengawasan. Metode zero-click membuat serangan semakin sulit dikenali karena pengguna tidak harus mengeklik tautan atau mengunduh berkas untuk menjadi sasaran. Al Jazeera menegaskan akan terus melindungi karyawan dan sistemnya serta menyerukan pertanggungjawaban terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam serangan yang dinilai mengancam keselamatan jurnalis dan kebebasan pers tersebut. (EER)