JAKARTA, AFU.ID — HSBC, bank terbesar kedua di Eropa, dilaporkan menginvestasikan lebih dari US$130 juta melalui dana berbasis syariah ke sejumlah perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan industri militer Israel. Investasi tersebut dilakukan pada semester pertama 2026, di tengah berlanjutnya dampak perang di Jalur Gaza dan konflik di kawasan Timur Tengah. Laporan Al Jazeera menyebutkan, investasi itu disalurkan melalui HSBC Islamic Global Equity Index Fund.
Dana tersebut mengalir ke sejumlah perusahaan teknologi dan pertahanan, mulai dari produsen perangkat analisis data hingga perusahaan pembuat rudal dan komponen persenjataan. Perusahaan yang menerima investasi antara lain Palantir Technologies, RTX Corporation, Analog Devices, dan Honeywell. Sejumlah produk perusahaan tersebut dilaporkan memiliki keterkaitan dengan rantai pasok militer Israel.
Investasi ini memunculkan pertanyaan mengenai penerapan prinsip syariah dalam pengelolaan dana tersebut. Pasalnya, HSBC memasarkan produk investasinya sebagai instrumen yang mengikuti prinsip keuangan Islam, termasuk pembatasan terhadap perusahaan yang memiliki keterlibatan signifikan dalam bisnis senjata. HSBC Islamic Global Equity Index Fund memiliki aset lebih dari US$8 miliar. Produk ini menghimpun dana investor untuk ditempatkan pada saham perusahaan global yang telah melalui penyaringan berdasarkan prinsip keuangan Islam.
Dalam penjelasan produknya, HSBC menyatakan investasi tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Bank itu menggambarkan filosofi syariahnya sebagai investasi etis yang dapat meningkatkan kesejahteraan sosial. HSBC juga menyatakan memiliki komite syariah independen yang terdiri atas dua ulama Islam untuk mengawasi kesesuaian investasi dengan prinsip-prinsip Islam.
Dalam kebijakan penyaringannya, HSBC menyebut perusahaan yang menjadi tujuan investasi tidak boleh memiliki eksposur signifikan terhadap sumber pendapatan yang tidak diperbolehkan, termasuk penjualan barang atau jasa yang berkaitan dengan senjata. Namun, laporan mengenai investasi pada perusahaan yang produknya digunakan dalam sektor pertahanan Israel menimbulkan pertanyaan mengenai penerapan kebijakan tersebut.
Wahyu Jatmiko, dosen University of Southampton Business School yang mendalami keuangan Islam, menilai terdapat alasan kuat untuk mengkritisi tata kelola, transparansi, dan pemenuhan ekspektasi etis investor oleh HSBC. Menurut Jatmiko, persoalan utamanya adalah ketegangan antara pembatasan investasi yang dinyatakan bank dan investasi yang dilaporkan dilakukan melalui dana tersebut. Ia juga menilai kasus ini menjadi pelajaran bagi industri keuangan syariah agar label syariah benar-benar mencerminkan komitmen terhadap prinsip etika Islam.
Palantir dan RTX Terima Investasi Puluhan Juta Dolar
Berdasarkan laporan Middle East Eye dan Hyphen yang dikutip Al Jazeera, Palantir Technologies menerima investasi sebesar US$38,3 juta dari dana HSBC pada semester pertama 2026. Palantir merupakan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat yang mengembangkan perangkat lunak analisis data dan kecerdasan buatan untuk lembaga pemerintah, intelijen, dan militer.
Pada Januari 2024, perusahaan itu mengumumkan kemitraan strategis dengan Kementerian Pertahanan Israel untuk mendukung misi terkait perang. Palantir juga menggelar rapat dewan di Tel Aviv sebagai bentuk solidaritas terhadap Israel. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Juni 2025 turut menyoroti peningkatan dukungan Palantir terhadap militer Israel sejak perang Gaza dimulai. Laporan tersebut membahas teknologi yang dapat mendukung pemrosesan data, pengambilan keputusan di medan perang, dan penyusunan daftar target.
Selain Palantir, dana HSBC menginvestasikan US$35,7 juta pada RTX Corporation, salah satu perusahaan pertahanan terbesar di dunia. RTX memiliki bisnis Raytheon yang memproduksi rudal, sistem pertahanan udara, dan teknologi militer. Melalui Raytheon, perusahaan tersebut bekerja sama dengan Rafael Advanced Defense Systems, perusahaan pertahanan milik pemerintah Israel, untuk memproduksi komponen dan rudal pencegat Tamir bagi sistem pertahanan udara Iron Dome.
Raytheon dan Rafael juga mengembangkan sistem pertahanan rudal David's Sling. Selain itu, Raytheon memproduksi rudal Tomahawk dan sistem Patriot yang digunakan militer Amerika Serikat. Keterkaitan tersebut menempatkan RTX dalam rantai industri pertahanan yang produknya digunakan dalam berbagai operasi militer. Namun, hubungan bisnis dengan sektor pertahanan tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan langsung perusahaan dalam setiap serangan tertentu.
Perusahaan Semikonduktor Militer
Investasi HSBC juga mencakup US$20,3 juta pada Analog Devices, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat. Perusahaan tersebut memproduksi komponen elektronik yang digunakan dalam sistem pengawasan, pesawat, dan persenjataan berpemandu presisi. Pada Juli 2025, media investigasi Irlandia The Ditch melaporkan bahwa Analog Devices International, anak perusahaan yang terdaftar di Irlandia, mengirimkan komponen dari pabriknya di Filipina kepada Elbit Systems, produsen senjata swasta terbesar Israel. Pengiriman itu dilaporkan berlangsung pada Agustus, Oktober, dan November 2024.
Perusahaan lain yang menjadi sorotan adalah Honeywell, konglomerat Amerika Serikat yang memproduksi sensor dan perangkat pemandu untuk berbagai persenjataan militer. Analisis Al Jazeera sebelumnya menemukan bahwa sebuah unit pengukuran pada rudal yang digunakan dalam serangan Israel terhadap Sekolah Al-Sardi di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, pada Juni 2024 diproduksi oleh Honeywell.
Serangan terhadap sekolah yang dikelola PBB tersebut dilaporkan menewaskan hampir 40 warga Palestina, termasuk sedikitnya 14 anak-anak dan sembilan perempuan. Keterkaitan perusahaan-perusahaan itu dengan rantai pasok militer menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana dana berbasis syariah mengevaluasi aktivitas bisnis perusahaan, termasuk penggunaan akhir produk mereka. Meski demikian, penilaian kepatuhan syariah memerlukan pemeriksaan terhadap kriteria penyaringan, aktivitas bisnis, serta keputusan komite syariah yang berwenang.
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara HSBC mengatakan pihaknya memahami pentingnya memastikan produk investasi mencerminkan nilai-nilai para investor. HSBC menyatakan akan meninjau persoalan itu bersama penasihat ahli independen untuk menilai apakah pendekatan investasi yang diterapkan masih sesuai dengan ekspektasi nasabah.
Bank tersebut juga berjanji melakukan peninjauan secara cepat dan menyampaikan langkah-langkah yang diperlukan kepada para investor. Kasus ini menjadi sorotan karena investasi tersebut menggunakan produk yang dipasarkan berdasarkan prinsip keuangan Islam, sementara beberapa perusahaan dalam portofolionya memiliki hubungan dengan industri pertahanan Israel. (EER)