JAKARTA, AFU.ID — Misteri di balik pembunuhan Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy (JFK), pada 22 November 1963 di Dallas, Texas, tidak pernah kehabisan ruang spekulasi. Di tengah gelombang rilis arsip rahasia pemerintah AS yang dibuka tanpa sensor oleh National Archives and Records Administration (NARA)—atas arahan Presiden Donald Trump yang mulai digulirkan sejak 18 Maret 2025 hingga pembaruan berlanjut pada awal 2026—sejumlah narasi liar di media sosial kerap mengaitkan memo intelijen lama dengan motif pembunuhan sang presiden.
Salah satu klaim yang paling gencar disebarkan oleh akun-akun pengawas data seperti @DeepLeaksHQ. "CIA merencanakan seluruh pembunuhan JFK karena keterkaitannya dengan operasi intelijen luar negeri, termasuk hubungan dengan Israel," demikian ungkap Deepleaks, dikutip Senin (12/10/2026).
Namun, penelusuran mendalam terhadap dokumen resmi yang telah terverifikasi menunjukkan fakta yang jauh lebih kompleks. Memo-memo FBI yang kerap dijadikan bahan "bocoran" sensasional—seperti memorandum bertanggal 30 April 1954 dari V. A. Branigan kepada A. H. Belmont, memo 17 Maret 1965 soal "Bureau Informant 100", hingga memo lanjutan dari James Angleton—pada dasarnya hanya menjelaskan jalur koordinasi dan operasional khusus antara CIA dan FBI dalam mengelola sumber informasi lewat Counterintelligence Staff CIA di bawah pimpinan James Angleton.
Dokumen-dokumen tersebut membuktikan adanya pengaturan penghubung antara CIA dan Israeli Intelligence Service (Mossad), serta pemantauan rutin terhadap perjalanan warga negara AS yang bepergian ke Rusia melalui Israel. Kendati demikian, arsip-arsip resmi NARA tersebut sama sekali tidak memuat perintah, ancaman, ataupun kaitan sebab-akibat langsung dengan peristiwa penembakan di Dallas pada November 1963. Sekalipun dokumen-dokumen Angleton tersebut tidak membuktikan adanya konspirasi pembunuhan secara langsung, para sejarawan dan peneliti arsip nasional mencatat bahwa friksi terbesar antara pemerintahan JFK dan pihak asing justru berakar dari isu non-proliferasi nuklir, khususnya kekhawatiran mendalam Kennedy terhadap proyek reaktor nuklir Israel di Dimona, Gurun Negev.

Berdasarkan dokumen deklasifikasi dari National Security Archive, John F. Kennedy adalah figur presiden AS yang paling vokal dan terobsesi mencegah penyebaran senjata nuklir yang ia anggap sebagai "mimpi buruk pribadinya" (private nightmare). Ketegangan ini bermula ketika pemerintahan Eisenhower secara diam-diam mendapati pembangunan reaktor rahasia di Dimona sesaat sebelum masa transisi kekuasaan. Dalam pertemuan transisi di Gedung Putih pada 19 Januari 1961, Menteri Luar Negeri Christian Herter secara khusus memperingatkan Presiden terpilih JFK bahwa reaktor Dimona yang dibangun dengan bantuan Prancis berpotensi menghasilkan hingga 90 kilogram plutonium weapons-grade pada tahun 1963.
Merespons hal tersebut, Kennedy mengambil sikap tegas dengan menekan Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion agar mengizinkan inspeksi berkala guna memastikan fasilitas tersebut murni untuk tujuan damai. Puncak tekanan diplomatik ini terjadi pada "KTT Nuklir" di Hotel Waldorf Astoria, New York, pada 30 Mei 1961, di mana Kennedy menjadikan izin kunjungan inspeksi sebagai syarat mutlak normalisasi hubungan bilateral. Meskipun Ben-Gurion berdalih bahwa fasilitas di Dimona sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan ekonomi dan energi damai, laporan intelijen AS seperti National Intelligence Estimate (NIE) 35-61 justru menyimpulkan sebaliknya: Israel dinilai sengaja merancang fasilitas nuklirnya agar berada dalam posisi siap memproduksi senjata nuklir kapan pun mereka memutuskan untuk melakukannya.
Tekanan beruntun dari Gedung Putih berlanjut melalui pengiriman ilmuwan dari Komisi Energi Atom AS (Atomic Energy Commission) untuk melakukan inspeksi ke kompleks Dimona pada Mei 1961 dan September 1962. Walaupun kunjungan-kunjungan singkat tersebut sempat meredakan ketegangan diplomatik di permukaan, para pejabat CIA dan Departemen Luar Negeri tetap bersikap skeptis terhadap transparansi pihak Israel.
Kendati friksi geopolitik terkait reaktor Dimona menjadi salah satu dinamika luar negeri paling melelahkan di era kepemimpinan Kennedy, komunitas sejarawan menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat diseret begitu saja sebagai motif pembunuhan. Profesor sejarah Harvard, Fredrik Logevall, beserta sejumlah peneliti arsip menegaskan bahwa gelombang rilis puluhan ribu halaman dokumen NARA memberikan kejelasan yang lebih tajam mengenai operasi rahasia CIA di Amerika Latin dan Kuba, namun sama sekali tidak menggoyahkan kesimpulan Warren Commission bahwa Lee Harvey Oswald bertindak sebagai pelaku tunggal penembakan di Dallas.
Dokumen-dokumen intelijen yang kembali beredar luas di ruang publik pada tahun 2025 dan 2026 ini pada akhirnya lebih berfungsi sebagai catatan sejarah tentang bagaimana badan intelijen melindungi sumber dan metode kerjanya. Dokumen-dokumen tersebut sendiri belum menjadi lembar jawaban yang pasti atas motif utama dari sebuah konspirasi pembunuhan seorang presiden. (MAR)