JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah mengakui sekitar 11 juta warga Indonesia turun dari kelompok kelas menengah ke kelas menengah bawah dalam beberapa tahun terakhir. Temuan tersebut diungkap Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Syahganda Nainggolan saat memaparkan evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. “Kelas menengah kita, middle class kita itu turun sekitar 11 juta yang menjadi lower middle class,” kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Syahganda Nainggolan. Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Fenomena tersebut sejalan dengan sejumlah laporan ekonomi yang menunjukkan melemahnya posisi kelas menengah Indonesia. Laporan Bank Dunia dalam Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 mencatat proporsi pekerja yang memperoleh pendapatan setara kelas menengah turun dari 14,5 persen pada 2018 menjadi sedikit di atas 7 persen pada 2025. Pada periode yang sama, upah riil pekerja berkeahlian menengah dan tinggi juga menyusut sekitar 1-2 persen per tahun. Data lain dari Mandiri Institute menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Proporsinya terhadap total penduduk ikut menyusut dari 17,1 persen menjadi 16,6 persen.
Pada saat yang sama, kelompok aspiring middle class atau masyarakat yang berada tepat di bawah kelas menengah justru bertambah sekitar 4,5 juta orang. Kelompok ini kini mencapai 50,4 persen populasi Indonesia. Artinya, lebih dari separuh penduduk berada di level yang cukup dekat untuk menjadi kelas menengah, tetapi juga cukup rentan untuk kembali turun ketika mengalami guncangan ekonomi. Ekonom Universitas Gadjah Mada Wisnu Setiadi Nugroho menilai penyusutan kelas menengah tidak hanya berkaitan dengan angka statistik. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan semakin banyak keluarga yang kehilangan ruang untuk menabung, merencanakan masa depan, membeli rumah, atau membiayai pendidikan yang lebih baik.
Wisnu menyebut struktur kelas menengah Indonesia relatif tipis dan didominasi kelompok menengah bawah. Kondisi itu membuat banyak keluarga mudah terdorong turun akibat pemutusan hubungan kerja, kenaikan biaya pendidikan, cicilan, maupun meningkatnya biaya hidup. Menurut dia, salah satu penyebab utama adalah kualitas lapangan kerja yang belum cukup mendorong mobilitas ekonomi. Pertumbuhan pekerjaan banyak terjadi pada sektor informal, ekonomi gig, dan pekerjaan berproduktivitas rendah yang mampu menyerap tenaga kerja tetapi tidak memberikan stabilitas pendapatan maupun jalur karier jangka panjang.
Tekanan juga datang dari sisi daya beli. Upah riil kelompok menengah bawah cenderung stagnan, sementara biaya perumahan, pendidikan, dan transportasi terus meningkat. Banyak rumah tangga masih terlihat stabil secara ekonomi, tetapi kemampuan mereka untuk menyimpan tabungan dan menghadapi kondisi darurat semakin menyempit. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengaku mempertanyakan kondisi tersebut. Menurut dia, ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen per tahun selama beberapa tahun terakhir, tetapi jumlah masyarakat miskin dan rentan justru meningkat, sementara kelas menengah mengalami penyusutan. “Nah, kelas menengah, kok turun? Berarti there is something wrong with our system,” kata Prabowo dalam program Presiden Menjawab.
Bagi perekonomian nasional, penyusutan kelas menengah menjadi masalah serius karena kelompok ini selama ini menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga. Ketika jumlah kelas menengah mengecil dan semakin banyak keluarga turun ke kelompok rentan, tekanan terhadap daya beli berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. (RHU)