JAKARTA, AFU.ID — Ancaman keluarnya Indonesia dari kelompok emerging market atau pasar berkembang menjadi perhatian media dan pelaku pasar global. Setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi terkait kemungkinan perubahan status Indonesia menjadi standalone market, sejumlah media internasional menyoroti risiko yang dapat dihadapi pasar keuangan nasional.
Perubahan status tersebut dinilai jauh lebih besar daripada sekadar pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika Indonesia benar-benar keluar dari kelompok emerging market, saham-saham domestik berpotensi dikeluarkan dari indeks global yang selama ini menjadi acuan banyak dana investasi internasional.
Media Reuters menyebut peringatan MSCI telah memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia. Dalam laporannya, Reuters mencatat IHSG menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir, sementara kapitalisasi pasar saham Indonesia menyusut sekitar 65 miliar dolar AS dalam satu hari perdagangan.
Reuters juga menyoroti alasan yang menjadi perhatian MSCI, termasuk dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi dan efektivitas penegakan aturan di pasar modal. Apabila status Indonesia diturunkan, pasar domestik berisiko kehilangan sebagian daya tariknya di mata investor global yang selama ini mengikuti indeks MSCI.
Sorotan serupa datang dari media Singapura, The Straits Times, yang menilai Indonesia dapat kehilangan akses terhadap sebagian aliran modal internasional apabila tidak lagi masuk kategori pasar berkembang. Media tersebut menyebut Indonesia berpotensi bergabung dengan kelompok negara yang masuk kategori standalone market, yang memiliki keterbatasan akses terhadap investasi global.
The Straits Times mengutip analisis S&P Global Ratings yang memperingatkan bahwa dampak terbesar mungkin bukan berasal dari pasar saham, melainkan dari menurunnya kepercayaan investor terhadap pasar obligasi pemerintah dan investasi asing langsung. Kondisi tersebut dapat memengaruhi biaya pendanaan dan iklim investasi secara lebih luas.
Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan penghapusan penuh saham Indonesia dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif hingga 5,6 miliar dolar AS. Di saat yang sama, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia senilai 4,88 miliar dolar AS sepanjang 2026, yang berpotensi menjadi arus keluar terbesar dalam sedikitnya 16 tahun terakhir.
Media regional Channel News Asia (CNA) juga menyoroti kekhawatiran bahwa tekanan di pasar saham dapat merembet ke sektor keuangan lain. Sejumlah investor global yang dikutip CNA menilai risiko terbesar bukan hanya keluarnya dana dari bursa, melainkan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah dan pasar obligasi domestik.
Meski demikian, proses konsultasi MSCI masih berlangsung dan belum menghasilkan keputusan final. Indonesia masih memiliki waktu hingga pertengahan tahun depan untuk menunjukkan perbaikan tata kelola pasar serta menjawab berbagai catatan yang menjadi perhatian investor internasional.
Bagi pasar keuangan nasional, isu ini menjadi penting karena status emerging market selama ini menjadi salah satu pintu masuk utama dana investasi global. Kehilangan status tersebut tidak otomatis membuat pasar modal Indonesia berhenti beroperasi, tetapi dapat mengubah cara dunia memandang Indonesia sebagai tujuan investasi. (RHU)