JAKARTA, AFU.ID — Menteri Sosial RI sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama (NU), Gus Ipul, membeberkan arah PBNU setelah pergantian ketua umum melalui Muktamar NU. Ia menyebut ada tiga mandat utama yang harus dijalankan, yakni konsolidasi organisasi, penguatan umat, dan kontribusi terhadap peradaban. Hal itu disampaikan Gus Ipul dalam podcast Akbar Faizal Uncensored di Jakarta, Senin (28/9/2026) malam. Pernyataan tersebut disampaikan saat membahas posisi NU yang dinilai tidak lepas dari dinamika politik serta upaya mengembalikan fokus organisasi pada kepentingan keumatan.
"Kalau lihat hasil muktamar itu ya paling tidak pertama ada semacam titipan dari peserta untuk konsolidasi organisasi. Penataan organisasi. Yang kedua ada penguatan umat. Yang ketiga berkontribusi terhadap peradaban," ujar Gus Ipul. Menurutnya, mandat tersebut menjadi arah kerja PBNU setelah Muktamar NU. Konsolidasi internal juga dilakukan melalui penyusunan berbagai aturan mengenai tata kelola organisasi, pengembangan ekonomi, hingga pengembangan digital.
Ia mengatakan rancangan untuk memperbaiki tata kelola NU telah disiapkan. Sementara jika nantinya berkaitan dengan regulasi pemerintah maupun DPR, hal tersebut menjadi proses tersendiri. Ia mengakui NU memiliki sejarah panjang dalam dinamika politik Indonesia. Posisi NU sebagai organisasi dengan basis massa besar membuatnya kerap dikaitkan dengan kepentingan politik, termasuk dalam kontestasi pemilu dan pilpres.
Dirinya memandang aktivitas di NU sebagai bagian dari pengabdian keumatan. Ia menegaskan bahwa dirinya aktif di NU untuk mencari berkah, bukan kepentingan politik tertentu. Terkait isu Muktamar NU akan digelar ulang, Gus Ipul menilai hal tersebut tidak memiliki dasar. Menurut dia, muktamar telah berlangsung dan menghasilkan keputusan yang diterima para pihak. "Emang ada potensi untuk melakukan muktamar ulang? Ya jauh lah. Itu mungkin harapan dari orang. Tapi itu tidak pernah terjadi. Enggak bisa. Saya kira enggak mungkin," ujarnya.
Gus Ipul juga menyinggung dinamika internal PBNU sebelum muktamar. Ia menyebut periode tersebut menjadi salah satu dinamika besar karena adanya pengembalian mandat ketua umum, yang menurutnya merupakan kejadian yang jarang terjadi dalam sejarah PBNU. Meski demikian, ia menilai dinamika tersebut akhirnya diselesaikan melalui Muktamar NU. Menurutnya, keputusan muktamar dihasilkan melalui proses rapat dan bukan pemaksaan.
Penentuan lokasi muktamar, kata Gus Ipul, juga sempat mengalami kebuntuan beberapa kali sebelum akhirnya ditetapkan di Tambakberas, Jombang. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan dengan salah satu pendiri NU. Muktamar menunjukkan adanya proses penyelesaian konflik melalui mekanisme organisasi. Ia juga kembali menyinggung tuduhan terkait pelaksanaan muktamar yang menurutnya perlu dibuktikan.
Sikap NU Menghadapi Pemilu
Mengenai sikap NU menjelang pemilu, Gus Ipul menegaskan NU sebagai jamiah atau organisasi keagamaan tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Namun, pengurus, tokoh, dan pengasuh pesantren tetap memiliki hak politik secara pribadi. Ia menyebut terdapat sejumlah aturan yang harus dipatuhi pengurus NU ketika terlibat dalam aktivitas politik. Di antaranya tidak menggunakan kantor NU sebagai lokasi kampanye dan tidak membawa atribut organisasi dalam kegiatan kampanye.
"Pertama misalnya tidak boleh kita kampanye di kantor NU. Kedua, tidak boleh membawa atribut NU. Membawa atas nama pengurus NU jika kita tengah-tengah suasana kampanye. Dan banyak lagi lah. Aturan-aturannya cukup jelas," jelasnya. Ia membedakan antara kantor NU dan pesantren. Menurutnya, kegiatan politik di pesantren bergantung pada kebijakan kiai atau pengasuh pesantren, sedangkan kantor NU tidak boleh digunakan untuk kampanye.
Dalam perbincangan tersebut, Gus Ipul juga ditanya mengenai hubungannya dengan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin setelah pergantian ketua umum PBNU. Ia mengaku belum bertemu Cak Imin sejak Muktamar NU selesai. Gus Ipul mengatakan pertemuan terakhirnya dengan Cak Imin terjadi sebelum keberangkatan ke muktamar. Saat itu, ia bertemu untuk meminta doa restu. "Sebelum berangkat saya sempat ketemu. Minta doa restu," katanya. (EER)
Nantikan episode lengkap bincang-bincang dengan Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf di podcast Akbar Faizal Uncensored untuk mendapatkan informasi yang utuh.