JAKARTA, AFU.ID — Luky Alfirman menjadi salah satu yang paling menyita perhatian dalam reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, Kamis (1/10/2026). Pasalnya, birokrat senior Kementerian Keuangan itu baru sekitar enam bulan lalu kehilangan jabatannya sebagai Direktur Jenderal Anggaran. Kini, ia justru kembali ke lingkungan yang sama dengan posisi lebih tinggi sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Luky dilantik bersama an untuk memperkuat jajaran Kementerian Keuangan di bawah Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Dengan pengangkatan tersebut, Kementerian Keuangan kini memiliki tiga wakil menteri yang bertugas membantu pengelolaan fiskal, anggaran, dan kebijakan keuangan negara. Pemerintah menilai penguatan struktur pimpinan diperlukan untuk menghadapi tantangan ekonomi dan pengelolaan APBN ke depan.
Pengangkatan Luky menjadi sorotan karena terjadi tidak lama setelah dirinya dicopot dari posisi Direktur Jenderal Anggaran pada 21 April 2026. Saat itu, namanya ikut menjadi perhatian publik setelah muncul polemik terkait penganggaran sepeda motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam penjelasannya kala itu, Purbaya Yudhi Sadewa menyebut terdapat celah dalam sistem perangkat lunak Direktorat Jenderal Anggaran yang membuat usulan pengadaan motor listrik tetap lolos meskipun sebelumnya telah ditolak.
Pergantian jabatan tersebut sempat memunculkan pertanyaan mengenai masa depan karier Luky di lingkungan Kementerian Keuangan. Sebab, sebagai Direktur Jenderal Anggaran, ia memegang salah satu posisi paling strategis dalam pengelolaan keuangan negara. Namun hanya beberapa bulan setelah dicopot, Presiden Prabowo justru memberikan kepercayaan baru dengan mengangkatnya ke level pimpinan kementerian.
Luky sendiri sempat menyinggung masa setelah dirinya dicopot saat memberikan sambutan usai pelantikan. Di hadapan Menteri Keuangan Suahasil Nazara, ia berkelakar mengenai periode yang dilaluinya sebelum kembali ke pemerintahan. “Kemarin saya ada masa hibernasi, Pak Menteri,” katanya, Kamis (1/10/2026).
Di luar polemik yang sempat mengiringi pergantian jabatannya, Luky dikenal sebagai birokrat karier yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun di Kementerian Keuangan. Ia merupakan lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) dan kemudian meraih gelar Master serta Ph.D. bidang Economics dari University of Colorado Boulder, Amerika Serikat. Kombinasi pengalaman birokrasi dan latar belakang akademik tersebut membuat namanya lama dikenal sebagai salah satu figur penting dalam perumusan kebijakan fiskal nasional.
Selama berkarier di Kementerian Keuangan, Luky pernah menduduki berbagai posisi strategis. Ia pernah bertugas di Badan Kebijakan Fiskal, menjabat Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, hingga Direktur Jenderal Anggaran. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) secara ex-officio.
Kini, setelah sempat keluar dari lingkar pimpinan Kementerian Keuangan, Luky kembali dengan status baru sebagai Wakil Menteri Keuangan. Perjalanan tersebut menjadikannya salah satu figur paling menarik dalam reshuffle kabinet kali ini. Dari pejabat yang dicopot pada April 2026 hingga kembali ke Kementerian Keuangan sebagai wakil menteri pada Oktober 2026, Luky menunjukkan bahwa karier birokrasi tidak selalu berakhir ketika sebuah jabatan dilepas. (RHU)