JAKARTA, AFU.ID — Pengumuman susunan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 di Kantor Pusat PBNU, Jakarta, menghadirkan kejutan sekaligus angin segar bagi umat. Di antara jajaran ulama sepuh yang memegang kendali tertinggi di Dewan Syuriyah, nama KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha resmi ditunjuk sebagai salah satu Wakil Rais Aam mendampingi Rais Aam KH. Miftachul Akhyar.
Masuknya pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran LP3IA Narukan, Rembang, ini menarik perhatian publik luas mengingat sosoknya yang selama ini dikenal sebagai ulama kharismatik peneduh umat, mufassir Al-Qur'an terkemuka, dan cenderung menjaga jarak dari hiruk-pikuk politik praktis.
Ketua Umum PBNU KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menyambut baik kesediaan ulama asal Rembang tersebut untuk masuk dalam struktur formal organisasi. Menurut Gus Kikin, Gus Baha merupakan salah satu figur ulama yang pengaruh dan pemikirannya sangat menonjol di Indonesia. "Kehadirannya di jajaran pimpinan tertinggi Syuriyah dinilai sebagai berkah dan hal yang sangat luar biasa bagi masa depan organisasi Islam terbesar di tanah air ini," kata Gus Kikin, di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Selama ini, Gus Baha memang dikenal sebagai figur ulama yang tidak pernah memburu jabatan struktural, baik di panggung politik maupun di dalam organisasi massa. Murid kesayangan mendiang KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) ini memilih mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu tafsir Al-Qur'an melalui gaya dakwah yang logis, ringan, kaya referensi kitab kuning, serta sarat humor khas keseharian.
Meskipun demikian, bukan berarti Gus Baha menutup mata atau bersikap anti terhadap dunia politik. Dalam berbagai kesempatan pengajian maupun saat menerima kunjungan tokoh-tokoh politik nasional—seperti jajaran petinggi Partai Gerindra yang dipimpin Sekjen Ahmad Muzani di kediamannya pada 11 Agustus 2021—Gus Baha kerap menyampaikan pandangan mendalam bahwa politik pada hakikatnya adalah perkara substansial yang menyangkut kemaslahatan publik.
"Jadi, politik itu kembali ke kemaslahatan publik. Istilahnya kamu punya kamar seribu, yang dipakai tidur cuma satu kamar. Kalau punya beras satu ton, yang kamu makan hanya satu liter. Artinya kebutuhannya adalah sama-sama satu piring," tegas Gus Baha.
Bagi ulama kelahiran 29 September 1970 ini, politik harus dijalankan dengan penuh amanah agar tidak membawa keterpurukan bagi bangsa. Ia juga kerap memandang dinamika politik modern, seperti praktik demokrasi elektoral, sebagai sebuah kemajuan peradaban yang jauh lebih baik dan beradab jika dibandingkan dengan pertumpahan darah pada masa perebutan kekuasaan era kerajaan di masa lampau.
"Alhamdulillah, politik sekarang tidak seperti dulu. Politik saat ini pertarungannya lewat seni mencari daya tarik masyarakat, seni mengelola simpati publik. Saya anggap bahwa ini kondisi yang lebih baik daripada perang darah-darah di kerajaan dulu. Artinya (politik) ini tidak pernah mencapai suatu proses yang ideal, selalu mengalami pergeseran-pergeseran ke arah membaik," ujarnya.
Pandangan politik Gus Baha tidak pernah terjebak pada ambisi kekuasaan personal, melainkan diletakkan dalam kerangka perlindungan terhadap kepentingan umat (hifzh al-ummah). Dalam salah satu kajiannya, ia pernah menegaskan bahwa umat Islam harus memiliki kekuatan secara ekonomi dan politik agar bisa menjalankan ajaran agama dengan aman, nyaman, dan tanpa hambatan.
Sikap tawadhu (rendah hati) dan qonaah (merasa cukup), menurutnya, harus ditempatkan pada konteks yang tepat agar tidak disalahartikan menjadi pembenaran atas kemiskinan struktural maupun kelemahan kolektif. "Karena ada hal yang tidak bisa diselesaikan dengan kalah, harus lewat kemenangan. Ketika menang secara ekonomi, maka bisa membuat aturan," ujar Gus Baha.
Ia mencontohkan kondisi di Indonesia di mana umat Islam dapat leluasa mendirikan tempat ibadah, melaksanakan shalat, dan menyelenggarakan pengajian secara aman karena stabilitas negara terjaga dengan baik. Posisi menang, menurutnya, memiliki sisi positif karena membuat ajaran agama Allah dapat dilaksanakan dengan baik.
Oleh karena itu, bagi kelompok masyarakat yang belum memiliki kesempatan memegang kendali ekonomi atau politik, ia mengingatkan agar tidak menghalalkan segala cara, melainkan menempuh jalan perjuangan yang elegan, terarah, dan damai. "Menang itu baik, hanya saja jangan maksa dengan jadi teroris. Yang belum ditakdirkan menang secara ekonomi dan politik, jangan maksa. Tiru Wali Songo, caranya halus, tapi tepat sasaran," ungkapnya.
Kini, dengan posisinya yang resmi duduk di jajaran pimpinan tertinggi Syuriyah PBNU bersama para ulama besar lainnya seperti KH. Nurul Huda Jazuli, KH. Anwar Iskandar, KH. Afifuddin Muhajir, dan KH. Muhammad Musthofa Aqiel Sirodj, kehadiran Gus Baha diharapkan tidak hanya memperkuat otoritas keilmuan pesantren, tetapi juga menjadi kompas moral bagi arah kebijakan kebangsaan dan keumatan Nahdlatul Ulama dalam lima tahun ke depan. (MAR)