Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Di Balik Kelangkaan BBM di Bali dan Wilayah Lain di Indonesia: Dari Pemangkasan Kuota, Ketimpangan Harga, Hingga Sistem Rantai Pasok yang Amburadul
Bagikan:
Penulis: Agung Riyadi
Ringkasan Berita
Kelangkaan BBM di Bali dan beberapa wilayah Indonesia semakin parah, menyebabkan antrean panjang di SPBU dan mempengaruhi berbagai sektor, termasuk transportasi dan pariwisata. Penurunan kuota BBM bersubsidi, disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi, serta masalah dalam sistem rantai pasok menjadi penyebab utama krisis ini. Gubernur Bali telah meminta Pertamina untuk meningkatkan pasokan, sementara lembaga seperti IESR mengingatkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap manajemen energi nasional dan langkah-langkah darurat untuk mengatasi masalah ini.
Masyarakat mengantre BBM bersubsidi di Denpasar Bali (ANTARA)
Sentimen Berita
100% sumber condong ke netral
Kiri0%
Netral100%
Kanan0%
JAKARTA, AFU.ID — Antrean kendaraan di Bali belum hilang. Sejak Minggu (11/10/2026), pengendara di Denpasar, Badung, Klungkung, Tabanan, Buleleng, hingga Bangli berburu Pertalite dan Pertamax dari satu SPBU ke SPBU lain. Laporan berbagai media menyebutkan, di Jalan Raya Buduk, Badung, antrean di SPBU Dalung-Abianbase memanjang sekitar 1 kilometer. Arus ke Dalung, Pusat Pemerintahan Badung, dan Kerobokan tersendat.
Di Denpasar, antrean di simpang Jalan HOS Cokroaminoto-Gatot Subroto mencapai sekitar 500 meter pada Selasa siang. Di Kintamani, antrean di SPBU Jalan Raya Penelokan mencapai sekitar 200 meter. Sebagian pengendara menginap di SPBU. Sebagian menyerah dan beralih ke pengecer. Di Jalan Pulau Tarakan, Denpasar, antrean juga terjadi di Pertamini pada Senin (12/10/2026) malam. Seorang warga bernama Aries mengaku berkeliling sekitar satu jam dan mendatangi empat SPBU sebelum ke pengecer. Setelah antre sekitar 20 menit, ia tetap tidak dapat BBM karena stok habis. Pemilik Pertamini, Akmal Yadi, mengatakan pasokan 90 liter yang ia terima sekitar pukul 21.15 Wita habis pada pukul 23.00 Wita.
Di Klungkung, warga mengantre Pertamax di SPBU Besang, SPBU Siku, dan SPBU Batu Tabih pada Selasa (13/10/2026). Stok Pertalite kosong. Di Buleleng, antrean terlihat di SPBU Jalan Gajah Mada, Singaraja. Warga asal Desa Tajun, Suanda (61), membawa sebotol bensin cadangan karena takut mogok di jalan. Perempuan pingsan, ojol kehilangan order, travel batal menjemput pelanggan menjadi pemandangan sehari-hari saat ini di seluruh wilayah Bali, yang berlangsung hingga hari ini, Rabu (14/10/2026).
Seorang perempuan warga Desa Bongkasa pingsan sekitar pukul 09.00 Wita setelah antre berjam-jam. Korban diduga lelah dan kondisi fisiknya kurang fit. Polisi dan petugas SPBU menolong korban sebelum ambulans membawanya ke Puskesmas Abiansemal 1. Hingga pukul 14.30 Wita, antrean di SPBU itu masih padat. Pengemudi ojek online bernama Dodik menonaktifkan aplikasi saat antre di SPBU kawasan Renon, Denpasar. Ia sudah mendatangi empat SPBU. Waktu untuk mencari bensin memangkas peluang menerima pesanan.
Di Kintamani, sopir jeep wisata berburu Pertalite agar tidak mogok saat membawa wisatawan ke black lava dan sunrise point Gunung Batur. Pemilik Mr. Bali Tour, Gustu Kompyang, mengatakan dua mobil kecilnya tidak beroperasi. Sebanyak 2-3 pemesanan penjemputan pada Selasa tidak bisa dilayani. "Sangat berpengaruh. Dan banyak tamu booking yg ga bisa kami jemput sudah ada 2-3 booking-an hari ini (kemarin)," kata Gustu. "Jadi tamunya jauh-jauh datang ke Bali untuk menikmati aktivitas dan keindahan alamnya malah sangat kecewa, mereka hanya bisa memilih kegiatan di sekitar hotel," ujarnya.
Mengatasi masalah kelangkaan BBM ini, Gubernur Bali Wayan Koster telah memanggil jajaran Pertamina Patra Niaga ke Jaya Sabha, Denpasar, Senin (12/10/2026). Ia meminta penjelasan dan mendesak perbaikan pasokan serta distribusi, terutama Pertalite dan Pertamax. Sehari kemudian Koster menilai kepanikan ikut memperpanjang antrean. Warga yang takut kehabisan mengisi BBM bersamaan sehingga stok SPBU cepat habis. Ia mengimbau warga tidak panik dan menyebut pasokan tersedia.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan permintaan maaf setelah rapat di Fuel Terminal Sanggaran. "Pertama-tama atas nama PT Pertamina Persero, saya selaku direktur utama menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya khususnya bagi warga Bali atas kejadian antrean yang beberapa hari ini kita alami bersama, khususnya di SPBU-SPBU yang berada di wilayah Bali," ujar Simon.
Simon menyebut satu penyebabnya adalah kendala bongkar muat kapal tanker. Kapal sulit memasang jangkar sehingga jadwal yang direncanakan pukul 06.30 Wita baru berjalan pukul 22.00 Wita. Ia juga mengakui konsumsi BBM subsidi naik karena selisih harga dengan nonsubsidi cukup jauh. Ia menegaskan hal itu bukan pembenaran atas antrean.
Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan konsumsi Pertalite di Bali mencapai sekitar 2.200 kiloliter per hari. "Kami mengoptimalkan pengiriman dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing SPBU serta menjalankan suplai secara kontinu selama 24 jam. Dengan langkah ini, kami berharap proses pemulihan pelayanan BBM kepada masyarakat dapat berlangsung lebih cepat," ujar Ahad.
"Dengan sandarnya kapal pengangkut BBM, kami memperkuat pasokan Pertalite dan Pertamax untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bali. Penyaluran ke SPBU terus kami optimalkan dengan mempertimbangkan kondisi stok dan tingkat konsumsi di masing-masing wilayah," ujarnya.
Kapal yang membawa 18.000 kiloliter Pertalite dan 2.500 kiloliter Pertamax tiba di Terminal Manggis. Kapal MT Klasogun yang membawa Pertalite dan Biosolar tiba di Fuel Terminal Sanggaran pada Selasa. Tambahan 26.200 kiloliter dijadwalkan tiba bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober melalui Sanggaran dan Manggis.
Pada Selasa, Pertamina menyatakan mendatangkan 19,2 juta liter Pertalite untuk kebutuhan 6-7 hari dan 3 juta liter Pertamax untuk 3 hari. Koster menyebut pasokan terjadwal 15-17 Oktober mencapai 25 juta liter Pertalite, plus tambahan 13 juta liter Pertamax pada 13 dan 17 Oktober. Menurut Koster, stok itu mencukupi sekitar dua pekan. "Yang pertama ingin di-clear-kan ketersediaan BBM Pertalite dan Pertamax itu ada sampai 2 minggu ke depan," kata Koster usai bertemu direksi Pertamina.
Armada tangki ditambah dari 90 menjadi 105 unit. Terminal Sanggaran dan Manggis beroperasi 24 jam. SPBU prioritas di Denpasar dan Badung dibuka 24 jam mulai Selasa malam, menyusul Tabanan dan Gianyar. Data Rabu (14/10/2026) menyebut 52 SPBU siaga 24 jam di enam kabupaten/kota. Koster sebelumnya menyebut 92 SPBU di Denpasar dan Badung. Perbedaan angka itu menunjukkan skema masih berubah mengikuti kondisi lapangan. Hingga Rabu pagi, antrean masih terlihat di sejumlah titik.
Kelangkaan BBM: Bukan Cuma Bali
Kelangkaan BBM bukan hanya terjadi di Bali, dan bukan hanya terjadi di pekan-pekan ini saja. Kelangkaan BBM ini sudah terjadi di setidaknya tujuh provinsi. Di Kalimantan Barat, laporan menyebut telah terjadi kelangkaan Pertalite di Ketapang dan Kubu Raya, termasuk Jalan Arteri Supadio. Bupati Kubu Raya Sujiwo meminta Pertamina memitigasi. "Pertamina yang mengetahui persis kondisi stok, sehingga tidak ada alasan untuk tidak melakukan mitigasi," ujar Sujiwo.
Di Sulawesi, kelangkaan Pertalite dan Biosolar dilaporkan terjadi dari wilayah Gowa sampai Makassar di Sulawesi Selatan, serta Polewali Mandar di Sulawesi Barat. Harga eceran melonjak hingga Rp25.000 per liter. Di Sumatra, laporan menyebut Palembang, Medan, dan Lampung mengalami kelangkaan BBM. Di Palembang, sumber menyebut kesenjangan antara pengajuan kuota 2,8 juta kiloliter BBM bersubsidi dan persetujuan 630 ribu kiloliter menjadi penyebabnya, meski angka itu belum terverifikasi ke BPH Migas dan Pertamina. Di Medan, penyebab yang disebut adalah kendala awak mobil tangki, lonjakan permintaan subsidi, dan pembenahan sistem penyaluran. Di Lampung, konsumsi Biosolar dan Pertalite naik sekitar 6,8 persen sehingga Biosolar diprediksi habis 24 November dan Pertalite 18 Desember 2026.
IESR pada 13 Oktober mencatat rentetan terbaru: Bali, setelah sebelumnya Malang, Sintang, Kefamenanu, dan Bone Bolango. Di Bondowoso, Jawa Timur, Pertamina mencatat konsumsi Pertalite naik 16-20 persen dari normal, ditambah kepadatan jalur Ketapang-Banyuwangi karena perbaikan dermaga. Dari sejumlah kejadian itu, menurut IESR, Makassar menjadi contoh paling lengkap tentang bagaimana tekanan konsumsi berubah menjadi antrean.
Kelangkaan Pertalite dan Pertamax di Makassar dan Gowa yang terjadi pada September lalu, berlangsung selama setidaknya sepekan penuh. Kelangkaan terhitung, terjadi sejak Senin (7/9/2026). Antrean di SPBU Jalan Ratulangi, Jalan Poros Pallangga, dan SPBU Andi Toron memanjang hingga sekitar 2 kilometer dan meluber ke badan jalan.
Di Jalan H.M. Yasin Limpo, Gowa, petugas sempat memasang palang "Pertalite Habis" di tengah antrean. Di Jalan Hertasning, Pettarani, dan Hasanuddin di Makassar, antrean memperparah macet harian. Konsumsi Pertalite Makassar naik dari normal sekitar 800 kiloliter per hari menjadi 1.300 kiloliter per hari. Itu setara 160 persen dari kondisi normal, atau naik sekitar 60 persen dalam sepekan.
"Sekarang meningkat sampai 1.300 KL per hari. Dahsyat enggak? Berarti dahsyat, ini pispot kita lakukan. Jumlah mobil tangki juga sudah disiapkan secara bergantian, semula 83 mobil tangki ditambahkan 25 mobil tangki, sekarang beroperasi adalah 108 mobil tangki," ujar Kepala BPH Migas Wahyudi Anas di Makassar.
BPH Migas dan Pertamina menambah SPBU 24 jam dari 11 menjadi 25 titik, lalu 14 titik lagi diperpanjang jamnya. Dari 45 SPBU di Makassar, lebih dari 35 SPBU disebut kondusif pada Senin (14/9/2026). Pemprov Sulsel menerapkan ganjil-genap pelat nomor 13-20 September.
"Waktu tunggu masyarakat juga semakin singkat. Berbagai langkah yang telah kami lakukan masih terus berjalan dan kami optimalkan bersama Pemerintah Daerah agar kondisi pelayanan BBM Subsidi terus membaik," ujar Pjs. Area Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Okky Aditya Wibowo, Senin (14/9/2026). Antrean mereda pada 14-17 September. Namun harga eceran telanjur naik. Pertalite di Pertamini dijual Rp25.000 per liter, kemasan botol 1,5 liter Rp35.000.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan antrean terurai dan melaporkan ke Presiden. Ia menyebut stok nasional 18-20 hari. "BBM secara stok nasional kan eh dalam standar minimum kebutuhan nasional kita di angka 18 sampai 20 hari. Dan yang terjadi kemarin di Makassar alhamdulillah sudah bisa terurai. Dan sudah selesai dan saya sudah laporkan kepada Bapak Presiden," kata Bahlil.
Bahlil menyebut dua pemicu: peralihan dari Pertamax ke Pertalite dan indikasi penimbunan lewat tangki modifikasi. Dirjen Migas Laode Sulaeman mengatakan pemerintah menganalisis temuan itu. "Kami sudah melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah, PT Pertamina Patra Niaga, dan PT Pertamina Persero Kantor Pusat untuk melakukan evaluasi terhadap layanan penyaluran BBM, khususnya Pertalite dan Biosolar, di Kota Makassar," ujar Wahyudi Anas.
"Nanti secara kontinu suplai akan dijaga dengan kapal, baik itu dari Tuban maupun dari Balikpapan, termasuk Biosolar. Kondisinya adalah normal, rata-rata stok yang tersimpan antara tujuh sampai dengan 12 hari. Semua terjaga dengan baik," katanya.
Akar Krisis: Harga Timpang, Kuota Kaku, Distribusi Rapuh
IESR menilai kelangkaan berulang bukan sekadar keterlambatan kapal atau ulah penimbun. Ada tiga lapis masalah. Pertama, disparitas harga melebar setelah penyesuaian harga nonsubsidi. Pada Juni, Pertamax naik menjadi sekitar Rp16.250 per liter di tengah harga Pertalite tetap Rp10.000 dan Biosolar Rp6.800. Di Sulsel, Pertamax tercatat Rp16.300, Pertamax Turbo Rp20.000, Dexlite Rp24.200, Pertamina Dex Rp25.750. Selisih itu mendorong pengguna nonsubsidi pindah ke subsidi, sementara kuota wilayah kaku.
Data BPH Migas mengungkapkan, konsumsi harian Pertalite pada Agustus mencapai 84.368 kiloliter, sekitar 11,3 persen di atas level sebelum kenaikan harga Pertamax. Penyaluran solar naik 15,1 persen menjadi 58.271 kiloliter per hari. Pada periode Juni-Agustus, kebutuhan solar naik 10-15 persen di Sulawesi.
Pada saat bersamaan, kuota BBM bersubsidi 2026 justru dipangkas. Pertalite ditetapkan 29,267 juta kiloliter, turun 6,28 persen dari 31,23 juta kiloliter pada 2025. Solar ditetapkan 18,6365 juta kiloliter, turun 1,32 persen dari 18,885 juta kiloliter. Minyak tanah 526.000 kiloliter. Pemangkasan merujuk pada realisasi 2025 yang di bawah kuota: Pertalite 28,06 juta kiloliter atau 89,86 persen, solar 18,41 juta kiloliter atau 97,49 persen. Negara disebut hemat Rp4,98 triliun.
Namun laju 2026 bergerak ke arah berlawanan. Sampai 20 Agustus, Pertalite tersalur 18,22 juta kiloliter dan solar 12,44 juta kiloliter. Biosolar sudah 104,48 persen dari target year-to-date per 25 Juli. Hampir semua provinsi serapan Pertalite-nya melebihi kuota periode. Anggota Komisi XII Sigit Karyawan Yunianto mempertanyakan selisih data Kalimantan. BPH Migas mencatat 868.000 kiloliter, data pemda 734.000 kiloliter.
Kekacauan di hulu ini kemudian juga diperparah di hilir dengan kelemahan sistem rantai pasok yang amburadul. Contohnya apa yang terjadi di Bali. Keterlambatan bongkar di Bali beberapa jam bergeser menjadi ritase tangki telat dan stok SPBU habis. Di Makassar, keterbatasan armada, penyimpanan, dan kapasitas SPBU memperparah lonjakan. Penyalahgunaan memperburuk, tetapi bukan satu-satunya sebab.
"Kelangkaan BBM yang terjadi serentak dalam dua minggu terakhir di Sulawesi Selatan, Jawa, dan Sumatra menunjukkan buruknya tata kelola energi nasional dan lemahnya kapasitas institusi menghadapi krisis," ujar CEO IESR Fabby Tumiwa.
Dia memaparkan, situasi ini membuktikan bahwa penilaian ketahanan energi nasional masih berada di atas kertas, belum diikuti kemampuan membangun cadangan energi, memperkuat manajemen logistik, dan menjalankan strategi krisis sebagaimana diamanatkan Undang-undang Energi. "Presiden harus mengevaluasi secara menyeluruh kinerja kementerian dan lembaga yang bertugas mengamankan pasokan energi nasional serta protokol krisis energi kita," kata Fabby.
IESR mengingatkan krisis BBM datang setelah tekanan listrik di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali pada Mei-Juli. Polanya sama: cadangan, distribusi, dan respons krisis lemah. "Pernyataan bahwa stok BBM nasional aman tidak cukup untuk menjawab krisis. BBM baru dapat disebut tersedia jika sampai ke SPBU dalam jumlah memadai dan pada waktu masyarakat membutuhkannya," tutur Fabby.
IESR mendesak langkah darurat 7 hari. Langkah-langkah itu adalah, membentuk koordinasi krisis, redistribusi stok ke daerah terdampak, audit pasokan sampai SPBU, dahulukan layanan publik dan ekonomi vital, dan perbaiki komunikasi publik. "Pemerintah tidak cukup hanya menjamin bahwa stok BBM nasional aman, tetapi harus memastikan BBM benar-benar tersedia dan dapat diakses masyarakat di seluruh daerah. Kelangkaan yang terus berulang menunjukkan perlunya penanganan segera terhadap rantai pasok dan distribusi BBM," ujar Fabby. "Kelangkaan BBM yang terjadi berulang bukan sekadar masalah distribusi, tetapi peringatan terhadap ketahanan energi nasional yang membutuhkan tindakan segera," tegas Fabby.
Untuk 7-10 hari, IESR mengusulkan empat langkah: tambah volume sementara di wilayah terverifikasi kurang dan redistribusi antar-terminal tiap hari; sediakan antrean atau jam layanan khusus angkutan umum, ambulans, logistik pangan, nelayan, petani; buka data stok terminal, jadwal kapal, ketersediaan SPBU, waktu antre, dan kuota harian; tindak pembelian berulang dan tangki modifikasi berbasis data transaksi tanpa menghambat konsumen sah.
Untuk jangka menengah, IESR menyarankan agar pemerintah mengubah subsidi komoditas menjadi bantuan berbasis penerima. Kemudian, memperbarui data sosial ekonomi, menyiapkan kanal aduan, memberikan kompensasi sebelum penyesuaian harga, menlindungi angkutan umum, nelayan, petani, dan usaha mikro secara terukur. "Penghematan subsidi harus diarahkan untuk memperkuat transportasi publik, elektrifikasi kendaraan, cadangan BBM regional, dan energi terbarukan," kata Fabby. "Reformasi subsidi BBM tidak boleh terus ditunda demi popularitas jangka pendek. Presiden perlu segera menyampaikan rencana, tahapan, dan perlindungan sosial yang jelas," katanya. (MAR)