JAKARTA, AFU.ID — Di saat sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan masih mencekam akibat kepungan kabut asap pekat dan ratusan hektare lahan masih membara, para gubernur di wilayah tersebut malah bikin marah warga dengan aksi tone deaf (tidak peka) mereka. Mulai dari melontarkan gurauan kontroversial, pengakuan tak berdaya kewalahan menangani bencana, ribut dengan mahasiswa, hingga kedapatan berada di luar negeri saat rakyatnya berjuang melawan api dan sesak napas.
Kritik pedas publik salah satunya menghantam Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, yang mendadak viral di media sosial setelah tertangkap kamera sedang menikmati sarapan pagi di kawasan resor dan hotel ikonis Marina Bay Sands, Singapura, di tengah situasi karhutla di Kaltim yang masih memerlukan atensi penuh. Foto yang diunggah oleh akun media sosial Threads dan menyebar luas pada Senin (12/10/2026) tersebut, memang tak menyebutkan secara spesifik, kapan Rudi tengah berada di sana, apakah baru saja, atau foto lama. Namun beredarnya foto tersebut langsung memicu kemarahan warganet. Pasalnya, di saat warga Kaltim harus hidup di bawah ancaman ISPA akibat langit yang tertutup asap, sang kepala daerah justru terlihat melancong ke luar negeri.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Ririn Sari Dewi, memberikan klarifikasi resmi. Pihak Pemprov membenarkan bahwa Rudy Mas'ud memang bertolak ke Singapura pada Sabtu (10/10/2026). "Untuk menjalani pemeriksaan kesehatan rutin (medical check-up) di Rumah Sakit Mount Elizabeth," ujarnya, dikutip Selasa (13/10/2026). Ririn juga mengklaim perjalanan tersebut telah mengantongi izin Mendagri. Kendati diklaim menggunakan dana pribadi dan telah kembali ke tanah air pada Senin siang, keberangkatan tersebut tetap dinilai publik sebagai bentuk defisit empati pejabat publik di tengah krisis ekologis daerah.
Perilaku Rudi bukan satu-satunya yang bikin emosi. Ketidakpekaan serupa juga ditunjukkan oleh Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran. Ketika dimintai solusi taktis mitigasi karhutla yang melanda wilayahnya—terutama setelah munculnya titik api masif seluas ratusan hektare di Taman Nasional Tanjung Puting—Agustiar justru mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut bencana tahunan tersebut sebagai "takdir". Tidak hanya itu, dalam agenda resmi di hadapan publik, ia sempat melontarkan plesetan jargon nasional dengan berseloroh tak pantas. "Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi," ujar sang gubernur. Sontak, gurauan yang dianggap meremehkan penderitaan masyarakat yang kesulitan bernapas itu menuai kecaman luas. Di sisi lain, ia juga bersikeras menolak usulan agar Kaltim menetapkan status darurat bencana nasional.
Kritik juga dilontarkan kepada Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, yang secara terbuka mengakui kewalahan menghadapi luasnya sebaran titik api. Sambil melayangkan permohonan maaf terbuka kepada netizen, Muhidin menyatakan bahwa pemerintah daerahnya memiliki keterbatasan personel dan armada sehingga tidak sanggup membantu seluruh wilayah Kalsel yang terbakar. Pemprov Kalsel terpaksa menerapkan politik anggaran dan pengamanan tebang pilih dengan hanya memprioritaskan kawasan "ring satu" di sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor demi menyelamatkan jalur penerbangan, sementara kabupaten lain seperti Barito Kuala dibiarkan berjuang dengan pengawasan seadanya.
Ketegangan paling memanas bahkan pecah di Kalimantan Barat. Gubernur Kalbar, Ria Norsan, terlibat adu argumen sengit hingga nyaris bergesekan secara fisik dengan massa dari Aliansi Mahasiswa Kalbar di depan Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya. Alih-alih merespons keluhan mahasiswa terkait minimnya pasokan air dan logistik pemadaman di akar rumput, Norsan justru naik pitam, meninggikan suara, dan mempertanyakan kontribusi mahasiswa di lapangan, sebelum akhirnya dilerai oleh aparat. "Apa mahasiswa bantu padamkan api?" ujarnya.
Rangkaian blunder komunikasi dan sikap abai para penguasa daerah ini dikecam lantaran dinilai tidak menghargai warga dan petugas yang sedang berjibaku mengatasi masalah karhutla. Terlebih, dampak karhutla juga jadi sorotan internasional lantaran asapnya mengganggu hingga ke Malaysia dan Singapura. Berdasarkan data resmi yang dilaporkan dalam rapat terbatas penanganan karhutla yang dipimpin oleh Presiden RI Prabowo Subianto secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026) malam, situasi di lapangan masih membutuhkan kerja keras masif.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, memaparkan bahwa luas kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas yang masih ditangani satgas darat mencapai 639,23 hektare. Kondisi terparah terkonsentrasi di Kalimantan Tengah akibat munculnya titik api baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, yang mencakup lahan seluas 513,89 hektare.
Suharyanto menjelaskan bahwa operasi pemadaman via udara menggunakan helikopter water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah sempat terkendala oleh jarak pandang (visibility) yang sangat rendah akibat kabut asap yang terlampau tebal. Kendati demikian, operasi darat yang didukung lebih dari 60.177 personel gabungan terus digenjot untuk mempercepat pemadaman sebelum tibanya musim hujan merata. (MAR)