JAKARTA, AFU.ID — Keputusan Pemerintah Indonesia memulangkan pasukan Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JSDF) di tengah situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum sepenuhnya padam, khususnya di Kalimantan, menuai sorotan tajam publik. Langkah diplomasi penanganan bencana ini dipertanyakan karena dinilai kontradiktif di saat kabut asap akibat karhutla mulai mencemari wilayah regional dan di tengah sikap Indonesia yang dikabarkan menolak uluran tangan bantuan dari negara tetangga. Sorotan tajam ini salah satunya disuarakan oleh akun media sosial X @daddyyuki, yang mempertanyakan alasan di balik penghentian misi internasional tersebut.
"Kenapa Pemerintah Indonesia menghentikan bantuan dari Jepang untuk memadamkan kebakaran hutan di kalimantan? Setelah saya check ke website Department Pertahanan Jepang ternyata, Bantuan dari Jepang yang baru setengah jalan di paksa dihentikan atas alasan, Indonesia sanggup untuk memadamkan sisanya," tulis akun tersebut, dikutip Selasa (13/10/2026). Akun itu juga menambahkan kecurigaan publik. "Apakah benar sanggup memadamkan sendiri? atau takut terbongkar kedok dibalik kebakaran hutan? atau bagaimana? Negara Singapore dan Malaysia sudah marah besar nih?" tambahnya.
Kritik senada turut dilayangkan oleh akun @FaiNomady, yang menyoroti kontrasnya penanganan pemerintah terhadap tawaran mitigasi bencana internasional. "Bantuan negara lain padamkan Karhutla mengalir.... Tetapi tololnya 🇮🇩 malah tolak bantuan Malaysia (info wakil PM Malaysia). Lalu Jepang yang sudah bantu, Malah disuruh pulang dengan alasan bisa ditangani sendiri oleh Indonesia," cuitnya. Akun @RA_leather turut mempertegas keresahan publik dengan tajuk kekhawatiran atas tidak dimaksimalkannya bantuan asing di tengah eskalasi kabut asap yang semakin pekat.
Berdasarkan dokumen resmi rilis Kementerian Pertahanan Jepang tertanggal 29 September 2026, misi Bantuan Darurat Internasional yang melibatkan helikopter angkut CH-47 milik JSDF di Pulau Kalimantan (tercatat dalam dokumen Jepang sebagai Mantan-tō) sebetulnya telah berjalan sejak 28 Agustus 2026. Namun, dalam pengumuman resminya, pihak Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan bahwa penghentian misi tersebut dilakukan atas dasar hasil komunikasi bilateral dengan Jakarta. Berdasarkan hasil diskusi, Pemerintah Indonesia menyampaikan kepada pihak Jepang bahwa kegiatan pemadaman oleh JSDF telah berkontribusi mencegah meluasnya kebakaran, dan ke depannya situasi tersebut diklaim dapat ditangani sendiri oleh Pemerintah Indonesia.
"Pemerintah Indonesia telah memberitahu kami bahwa "aktivitas Pasukan Bela Diri telah berkontribusi mencegah penyebaran api, dan oleh karena itu pemerintah Indonesia sekarang dapat menangani situasi ini sendiri," demikian pernyataan resmi pihak Jepang. Atas dasar klaim kesiapan tersebut, Menteri Pertahanan Jepang lantas memerintahkan Panglima Komando Operasi Gabungan untuk mengakhiri misi dan memulangkan pasukan seketika persiapan kepulangan rampung.
Kendati pihak Tokyo mengonfirmasi adanya klaim kesiapan dari Jakarta, keputusan memulangkan bantuan asing di tengah karhutla yang masih menggunung ini memicu polemik diplomatik regional. Di saat tekanan dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura mulai meningkat akibat kiriman kabut asap lintas batas (transboundary haze), kebijakan pemerintah untuk menyetop bantuan eksternal justru dinilai sebagian kalangan sebagai langkah yang prematur dan mengabaikan realitas di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, desakan agar pemerintah bersikap transparan terkait efektivitas pemadaman mandiri di tengah kepulan asap yang terus meluas masih terus bergulir di ruang publik. Artis yang juga pegiat lingkungan Nana Mirdad dalam unggahannya di platform Thread, menyampaikan kekecewaannya terhadap lambannya upaya penanganan bencana tersebut. Ia merasa prihatin karena kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan itu belum juga mendapatkan penanganan yang menurutnya memadai.
Nana pun mempertanyakan respons terhadap bencana yang dampaknya semakin mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan bahwa kondisi tersebut membuat dirinya sedih sekaligus geram. "Sudah berbulan-bulan begini, tapi masih belum ada penanganan berarti," ujarnya. Nana Mirdad juga menyinggung dampak kabut asap yang dirasakan hingga negara tetangga. "Di negara tetangga, bahkan ada anak-anak yang meninggal karena kurang jarak pandang. Enggak ngerti lagi, sumpah! Kok bisa ya sampai slow begini nurani, keserakahan, dan ketidakpeduliannya. Kita butuh berdoa agar keajaiban terjadi di Kalimantan," tegas Nana. (MAR)