Kebakaran hutan di Kalimantan, Indonesia, berdampak pada Malaysia dengan menyebarnya kabut asap yang membuat 108 sekolah di Sarawak ditutup sementara akibat kualitas udara yang memburuk, dengan indeks polusi mencapai lebih dari 200. Pemerintah Malaysia mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan dan meminta warga yang mengalami gangguan pernapasan untuk segera memeriksakan diri. Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.487 titik panas di Kalimantan, dengan Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak, sehingga pemerintah memperkuat kesiapsiagaan dan pemantauan untuk mencegah meluasnya kebakaran.
Petugas pemadam kebakaran bersama tim gabungan berjibaku memadamkan sejumlah titik api yang mulai meluas di Penajam Pasir Utara, Rabu (19/8/2026). Foto istimewa
Jakarta, AFU.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan, Indonesia, berdampak hingga ke Malaysia. Kabut asap yang menyebar ke Sarawak membuat 108 sekolah di wilayah Serian ditutup sementara. Penutupan dilakukan setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk dan indeks polusi udara atau Air Pollutant Index (API) mencapai lebih dari 200.
Komite Manajemen Bencana Sarawak menyatakan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung melalui pembelajaran dari rumah selama sekolah ditutup. "Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Asap Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Dinas Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200," demikian pernyataan resmi komite tersebut, dikutip dari Bernama, Jumat (21/8/2026).
Kualitas udara di Sarawak menunjukkan tren memburuk sejak 1 Agustus. Pada 12 Agustus pukul 16.00 waktu setempat, dua wilayah mencatat indeks polusi udara dalam kategori sangat tidak sehat. Tebedu mencatat API 212, sedangkan Serian mencapai 202. Sementara itu, 11 wilayah lainnya juga mengalami penurunan kualitas udara, yakni Miri, Lundu, Lubok Antu, Lawas, Samalaju, Samarahan, Kuching, Sri Aman, Sarikei, Sibu, dan Bintulu.
Malaysia mengategorikan API 0-50 sebagai kualitas udara sehat, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan lebih dari 300 sebagai berbahaya. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan turut menjadi perhatian. Pemerintah Malaysia meminta masyarakat mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara berada di atas ambang tidak sehat.
Kementerian Kesehatan Malaysia juga meminta warga segera mendapatkan pemeriksaan apabila mengalami gangguan pernapasan, termasuk sesak napas atau batuk yang berlangsung lama. Pemerintah Malaysia meningkatkan pengawasan terhadap penyakit yang berkaitan dengan kabut asap serta memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan. Persediaan obat-obatan dan tenaga medis juga disiapkan untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya gangguan kesehatan akibat paparan udara tercemar.
Dampak kabut asap yang mencapai Sarawak terjadi ketika aktivitas karhutla di Kalimantan masih tinggi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.487 titik panas di wilayah Kalimantan berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8/2026). Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 767 titik. Kalimantan Barat menyusul dengan 560 titik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing tercatat memiliki 74 titik panas. Kalimantan Utara menjadi wilayah dengan jumlah paling sedikit, yakni tiga titik. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan sebaran titik panas tersebut masih menjadi perhatian pemerintah karena terjadi di tengah musim kemarau.
"Jumlah tersebut tersebar dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik," kata Berton dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026). BNPB bersama pemerintah daerah terus memantau perkembangan titik panas dan memetakan wilayah yang berpotensi mengalami karhutla.
Kesiapsiagaan lintas sektor juga diperkuat untuk mencegah kebakaran meluas. Pemerintah daerah diminta memastikan sarana dan prasarana pemadaman tersedia serta memperkuat sistem deteksi dini. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran di wilayah yang rawan terbakar. Warga yang menemukan titik api diminta segera melaporkannya kepada otoritas setempat agar petugas dapat melakukan penanganan dengan cepat. (FAD)