LAMPUNG SELATAN, AFU.ID - Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan tercatat mengalami empat kali gempa letusan dalam enam jam terakhir berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik gunung api tersebut. “Sebanyak empat kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 58-67 mm, dan lama gempa 30-54 detik,” kata Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa Suwarno di Lampung Selatan, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, pengamatan kegempaan lainnya juga mencatat beberapa kali gempa vulkanik dangkal dan dalam dengan amplitudo mencapai 27-63 mm, lama gempa 17-250 detik. “Terjadi 100 kali gempa hembusan dengan amplitudo 27-63 mm dan lama gempa 17-250 detik. 5 kali harmonik dengan amplitudo 47-61 mm, dan lama gempa 98-1054 detik. Selain itu, dua kali gempa low frequency dengan amplitudo 31-45 mm, dan lama gempa 16 detik. 25 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 20-56 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 8-25 detik, dan 1 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 3-60 mm, dominan 20 mm,” katanya.
Ia menjelaskan peningkatan aktivitas vulkanik tersebut terus dipantau secara intensif melalui pengamatan visual maupun instrumental untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api secara berkelanjutan. Untuk pengamatan visual, Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut, kemudian asap kawah tidak teramati dan cuaca cerah hingga berawan, serta angin lemah ke arah barat laut. Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dan hitam dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100-400 meter dari puncak. "Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah utara, timur laut, barat dan barat laut,” ujar dia.
Peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi sejak awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Meski demikian, aktivitas gunung api tersebut masih berada dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG. Masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau tidak beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi guna menghindari risiko yang dapat ditimbulkan akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.
Selain itu, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi cuaca sebelum melaut. Warga diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan oleh lembaga berwenang.