JAKARTA, AFU.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah wilayah Kalimantan sepanjang Agustus 2026. Kabut asap mulai mengganggu aktivitas warga, menurunkan jarak pandang hingga memicu keluhan gangguan pernapasan. Kondisi terparah terjadi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pada Rabu (19/8/2026), konsentrasi PM2.5 mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori berbahaya atau sangat tidak sehat. Angka tersebut jauh di atas ambang 250,5 mikrogram per meter kubik.
Warga Liang Anggang, Banjarbaru, Windy, mengatakan asap karhutla yang telah berlangsung beberapa pekan semakin pekat dalam beberapa hari terakhir. Asap bahkan masuk ke rumah warga di sekitar lokasi kebakaran. “Bikin pernapasan sesak karena asap juga masuk ke dalam rumah warga yang khususnya dekat dengan kebakaran lahan dan pengendara yang melintas,” kata Windy, Rabu (19/8).
Tebalnya asap juga membuat jarak pandang di sejumlah lokasi hanya sekitar tiga meter. Hingga Rabu sore, kebakaran masih terlihat di beberapa titik pinggir jalan. Dampaknya mulai merambah aktivitas publik. Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mengundur jam masuk sekolah terdampak menjadi pukul 09.00 Wita mulai Kamis (20/8). Kabut asap juga menyebabkan 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor mengalami keterlambatan.
Di Kalimantan Tengah, kabut asap menyelimuti Palangka Raya sejak Selasa (18/8). BPBD mencatat 298 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 261,41 hektare sepanjang 1 Juni hingga 19 Agustus 2026. Dampak kesehatan juga mulai terlihat. Sebanyak 2.052 warga di Kalimantan Tengah tercatat mengalami ISPA dalam satu pekan. Di Palangka Raya, jumlah kasus ISPA dilaporkan mencapai 12.394 kasus.
Kotawaringin Barat juga menghadapi kondisi serupa. Luas lahan terbakar mencapai 859,49 hektare dari 189 kejadian dengan 461 titik panas. Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan lahan terbakar terluas, mencapai 584,41 hektare. Empat wilayah kerja puskesmas di Kotawaringin Barat bahkan masuk zona merah kasus ISPA. Puskesmas Sungai Rangit mencatat 395 kasus, Kumai 193 kasus, Madurejo 183 kasus dan Karang Mulya 137 kasus pada periode minggu ke-26 hingga minggu ke-30 2026.
Sementara di Kalimantan Barat, kualitas udara Pontianak pada Kamis (20/8) pagi masuk kategori tidak sehat dengan indeks 191. Konsentrasi PM2.5 mencapai 112 mikrogram per meter kubik atau sekitar 22,4 kali standar WHO. Kabut asap di Pontianak diduga dipengaruhi karhutla di sejumlah wilayah sekitar, seperti Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara dan Landak. Kalimantan Barat tercatat memiliki 4.041 titik panas, termasuk 352 titik dengan tingkat tinggi.
Kabut asap juga mulai terasa di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Asap tipis terlihat di sejumlah kawasan pada Rabu (19/8) dan diduga merupakan kiriman dari wilayah Kabupaten Banjar, Barito Kuala dan Tanah Laut. Untuk mengurangi paparan asap, Polsek Banjarmasin Tengah membagikan 500 masker kepada pengendara, pelajar dan warga pada Kamis (20/8). Masyarakat juga diminta membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak.
Paparan asap karhutla menjadi perhatian karena mengandung partikel halus seperti PM2.5 yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Dalam konsentrasi tinggi, polutan tersebut dapat menyebabkan iritasi dan memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan. Pemerintah daerah di sejumlah wilayah Kalimantan kini meningkatkan penanganan karhutla seiring meluasnya dampak asap. Persoalan karhutla tidak lagi hanya mengancam lingkungan, tetapi mulai mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. (EER)