Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Tebar Tepung Ubi, Jurus Baru Presiden Prabowo Subianto Padamkan Karhutla
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan inovasi penggunaan tepung ubi sebagai alternatif bahan pemadam untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatra Selatan. Dalam rapat penanganan karhutla, ia menginstruksikan agar inovasi ini dikembangkan dan diuji secara praktis, serta melibatkan tim pemadam untuk mengatasi sisa lahan terbakar. Selain itu, Prabowo menekankan pentingnya pencegahan dengan melibatkan TNI dan Polri dalam edukasi masyarakat serta mengembangkan infrastruktur yang dapat memberikan manfaat ekonomi di kawasan gambut.
Presiden RI, Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan karhutla di Posko Utama Satuan Tugas Karhutla Sumsel, Palembang, Senin (24/8/2026). (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)
JAKARTA, AFU.ID — Tepung ubi menjadi inovasi alternatif untuk mempercepat upaya pemadaman dan mencegah penyebaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Gagasan itu muncul tatkala Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto meminta jajarannya mencari bahan pemadam yang lebih efektif dan praktis. Inovasi itu mengarah untuk mendukung tim pemadam menghadapi sisa lahan terbakar sekitar 1.900 hektare di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel).
Prabowo Subianto menyampaikan arahan tersebut ketika memimpin rapat penanganan karhutla di Posko Utama Satuan Tugas Karhutla Sumsel, Palembang, Senin (24/8/2026). Kepala Negara menginstruksikan setiap kendala yang terjadi di lapangan segera dievaluasi agar kebutuhan tambahan dapat dipenuhi pemerintah pusat. Ia juga meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji material pemadam alternatif.
Presiden Prabowo menyatakan, material tersebut perlu dikembangkan dalam bentuk yang praktis, sehingga dapat dibawa langsung oleh tim pemadam. Harapannya, pendekatan itu dapat mempercepat respons ketika api muncul atau mulai menyebar di area rawan. Ia juga meminta jajaran pemerintah untuk menelusuri sumber material, sekaligus kemungkinan produksinya secara lebih luas.
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), yakni Jenderal Listyo Sigit Prabowo lantas melaporkan adanya inovasi bahan pemadam berbahan baku tepung ubi atau singkong. Ia menjelaskan, material itu berpotensi menghambat proses pembakaran dengan memisahkan unsur yang mendukung munculnya api. Mayjen TNI Ujang Darwis selaku Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) II/Sriwijaya menambahkan, inovasi itu sudah tersampaikan kepada jajaran terkait dan BNPB.
Presiden Prabowo Subianto pun merespons dengan meminta proses produksi dan pengujian segera terlaksana secara lebih luas. Kendati menyadari kapasitas produksinya masih terbatas, Ia menilai bahan itu sangat efektif dan mempunyai peluang pengembangan dalam skala lebih besar. “Menarik sekali, bahan bakunya dari ubi atau singkong, berarti kita akan ubi bombing,” ungkapnya.
Selain mengembangkan tepung ubi, Prabowo Subianto meminta Panglima TNI menguji kemampuan Tim Alpha untuk mendukung penanganan karhutla di Provinsi Sumsel. Pemerintah RI juga akan mengevaluasi berbagai metode agar pemadaman berlangsung lebih cepat dan menyeluruh. Kepala Negara lantas menegaskan, seluruh sumber daya, teknologi, hingga inovasi akan terpakai sesuai kebutuhan di lapangan.
Tepung Ubi Bukan Satu-satunya Langkah Pengendalian Karhutla
Selain menabur tepung ubi, Pemerintah RI akan memperkuat pencegahan karhutla dengan melibatkan unsur pusat dan daerah secara lebih luas. Presiden Prabowo menginstruksikan sekitar 1.000 perwira TNI dan Polri untuk membantu edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat. Ia berharap, langkah itu dapat membuat pencegahan yang tak hanya mengandalkan respons pascatitik api muncul.
Selain edukasi, Pemerintah Daerah (Pemda) harus segera menindaklanjuti setiap titik yang teridentifikasi agar tak berkembang menjadi kebakaran lebih luas. Presiden RI mengutarakan, kecepatan merespons titik panas menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. “Kita harus waspada karena memang ramalan El Nino tahun ini cukup berat,” tutur Prabowo.
Dalam jangka panjang, kawasan gambut juga akan menjadi bagian dari solusi pengendalian sekaligus pengembangan ekonomi masyarakat. Presiden Prabowo Subianto mendorong penambahan sumur bor, embung, dan kanal di kawasan gambut produktif. Ia meminta BRIN untuk mengkaji kemungkinan pemanfaatan infrastruktur tersebut untuk kegiatan produktif, termasuk budidaya ikan tertentu.
Langkah tersebut menunjukkan strategi penanganan karhutla di Indonesia tak hanya berorientasi pada pemadaman. Infrastruktur pengendalian juga diarahkan memiliki manfaat ekonomi agar masyarakat memperoleh insentif untuk menjaga kawasan gambut. “Alam kita ini harus kreatif, inovatif, dan mencari peluang,” ujar Prabowo Subianto.
Pengembangan tepung ubi tentu saja menjadi salah satu eksperimen baru di tengah kebutuhan mempercepat respons terhadap karhutla. Namun, tetap perlu adanya pembuktian melalui produksi, pengujian, dan evaluasi efektivitas sebelum menerapkannya secara luas. Besarnya luasan terbakar di Riau dan sisa lahan di Sumsel maupun wilayah lain menunjukkan pencegahan, kecepatan respons, serta pengujian teknologi harus berjalan bersamaan. (ADR)