JAKARTA, AFU.ID — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan hingga mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan. Di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, jarak pandang sempat turun hingga kurang dari 400 meter akibat asap tebal. Sebanyak 12 penerbangan terdampak kondisi tersebut, terdiri atas delapan keberangkatan dan empat kedatangan.
Gangguan juga terjadi di Bandara Supadio, Kalimantan Barat, dengan jarak pandang pada pagi hari berada di kisaran 400–800 meter. Sebanyak 21 penerbangan pagi mengalami keterlambatan selama periode 18–21 Agustus akibat kabut asap karhutla. Kondisi ini menunjukkan dampak kebakaran belum sepenuhnya mereda meski operasi pemadaman telah dilakukan di sejumlah wilayah.
Dampak karhutla juga mulai terlihat pada kesehatan masyarakat di tengah tren peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kementerian Kesehatan mencatat kasus ISPA pada minggu ke-30 tahun 2026 mencapai sekitar 400 ribu kasus dalam sepekan, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Memasuki awal musim kemarau pada minggu ke-27 hingga 31, kasus ISPA secara nasional menunjukkan kecenderungan meningkat.
“Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau. Karhutla juga memberi dampak,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman di Jakarta, Jumat (21/8/2026). Aktivitas kebakaran hutan dan lahan menurut Kemenkes biasanya mulai meningkat pada Juli dan mencapai puncak pada Agustus hingga September. Sebagian besar wilayah Indonesia juga diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli–Agustus.
Kemenkes telah mengerahkan 90 tenaga kesehatan untuk menangani gangguan kesehatan akibat karhutla hingga 17 Agustus. Sebanyak 40 tenaga kesehatan dikirim ke Kalimantan Selatan, 27 ke Kalimantan Tengah, sembilan ke Kalimantan Barat, lima ke Kalimantan Timur, sedangkan sisanya ditempatkan di Riau dan Jambi. Personel yang dikerahkan terdiri atas dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli gizi, sanitarian, epidemiolog hingga pengemudi ambulans.
Dukungan logistik kesehatan juga dikirim ke daerah terdampak, termasuk 267.630 masker, 54 unit oksigen konsentrator, 36 tabung Oxycan dan sejumlah perlengkapan pelindung. Kemenkes meminta masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan ketika udara dipenuhi asap atau debu serta menggunakan masker yang menutup hidung dan mulut. Bayi, balita, ibu hamil, lansia serta penderita penyakit paru dan jantung menjadi kelompok yang diminta lebih ketat menghindari paparan asap.
Penanganan sumber karhutla dilakukan melalui operasi darat dan udara di wilayah dengan kebakaran tinggi. Di Kalimantan Tengah, pemerintah mengerahkan satgas udara dan darat untuk patroli, pemadaman, pendinginan lahan gambut serta mencegah api kembali muncul. Helikopter water bombing, patroli udara dan pemantauan menggunakan drone juga digunakan untuk menemukan serta menangani titik api lebih cepat.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah prioritas setelah luas lahan terdampak karhutla tercatat mencapai lebih dari 3.000 hektare pada akhir Juli. Pemerintah Kota Palangka Raya bahkan memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan hingga 8 September karena kebakaran masih terjadi dan sebagian titik api mulai mendekati permukiman. Karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman lebih sulit karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Di Kalimantan Barat, BNPB juga memperkuat operasi udara dengan menambah helikopter water bombing setelah kebakaran meluas pada awal Agustus. Pemadaman dari udara dilakukan bersamaan dengan operasi darat dan pemantauan titik panas untuk mencegah kebakaran berkembang lebih luas. Operasi modifikasi cuaca turut disiapkan pada wilayah prioritas ketika kondisi awan memungkinkan.
Kementerian Kehutanan melaporkan jumlah titik panas secara nasional turun dari 627 menjadi 121 titik berdasarkan pemantauan hingga pukul 10.42 WIB. Penurunan tersebut menjadi indikasi awal bahwa operasi penanganan mulai menekan jumlah hotspot, namun belum berarti gangguan karhutla telah berakhir. Kabut asap yang masih menurunkan jarak pandang dan mengganggu penerbangan di Kalimantan menunjukkan dampak kebakaran masih dirasakan masyarakat.
Situasi masih berpotensi berkembang karena Indonesia berada dalam periode puncak musim kemarau dan aktivitas karhutla diperkirakan tetap tinggi hingga September. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta meningkatkan patroli serta segera melaporkan kemunculan titik api agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas. Warga juga diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, demam tinggi atau nyeri dada selama periode kabut asap. (RHU)