JAKARTA, AFU.ID — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan bukan hanya berdampak terhadap wilayah Indonesia, tetapi juga dapat bergerak melintasi batas negara hingga Malaysia. BNPB mencatat citra satelit menunjukkan asap dari wilayah yang berbatasan dengan Kalimantan Barat menyeberang menuju Malaysia pada 4 serta 6–9 Agustus 2026. Pergerakan itu terutama dipengaruhi arah angin, kondisi musim kemarau, dan besarnya sumber asap dari kebakaran yang berlangsung di daratan Kalimantan.
BMKG sebelumnya mendeteksi sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Khusus dari Kalimantan Barat, pergerakan asap terpantau dominan menuju barat laut, arah yang menghubungkan wilayah tersebut dengan Sarawak, Malaysia. Kondisi geografis kedua wilayah yang bertetangga membuat asap dapat melewati perbatasan ketika angin membawa partikel hasil pembakaran dalam jumlah besar.
“Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, Kamis (30/07/2026). Kombinasi El Niño dan musim kemarau membuat curah hujan berkurang sehingga tanah serta vegetasi menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Kondisi tersebut sekaligus memperbesar peluang kebakaran berlangsung lebih lama dan menghasilkan asap dalam jumlah lebih banyak.
Arah angin kemudian menjadi faktor yang menentukan ke mana asap tersebut bergerak. BNPB menjelaskan peralihan musim membuat angin dominan bergerak dari tenggara menuju barat sehingga berpotensi membawa asap dari wilayah Indonesia ke Malaysia. Dalam kondisi tertentu, partikel asap dapat terbawa hingga ratusan kilometer dari titik kebakaran dan membentuk kabut asap lintas batas atau transboundary haze.
Besarnya sumber kebakaran di Kalimantan Barat membuat potensi asap lintas batas semakin menjadi perhatian. Hingga 9 Agustus, BNPB mencatat sekitar 28.680 hektare lahan telah terbakar di provinsi tersebut, menjadi yang terluas di antara enam provinsi prioritas penanganan karhutla. Kalimantan Tengah pada periode yang sama mencatat sekitar 3.069 hektare dan Kalimantan Selatan sekitar 383 hektare lahan terbakar.
BMKG juga mencatat 5.019 titik panas terdeteksi di Indonesia hingga 29 Juli, dengan konsentrasi antara lain berada di Kalimantan Barat. Banyaknya titik panas tidak otomatis berarti jumlah kebakaran yang sama, tetapi menjadi indikator adanya anomali suhu permukaan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Ketika titik-titik kebakaran berkembang di tengah kondisi lahan kering, volume asap yang masuk ke atmosfer dapat meningkat dan terbawa mengikuti pola angin regional.
Dampaknya kemudian terlihat di Sarawak pada pertengahan Agustus. Indeks Pencemaran Udara di Tebedu sempat mencapai 212 dan Serian 202 atau masuk kategori sangat tidak sehat, sementara sejumlah wilayah lain di Sarawak berada pada kategori tidak sehat. Sebanyak 108 sekolah di wilayah Serian sempat ditutup sementara sebagai langkah perlindungan setelah indeks pencemaran udara menembus angka 200.
Namun, kabut asap yang terjadi di suatu wilayah tidak selalu dapat langsung dikaitkan dengan satu titik kebakaran tertentu tanpa melihat data satelit dan pola angin pada waktu yang sama. Dalam kasus awal Agustus, BNPB menyatakan citra satelit memang memperlihatkan asap menyeberang menuju Malaysia yang berbatasan dengan Kalimantan Barat. Karena itu, pergerakan asap lintas batas perlu dilihat sebagai kombinasi antara sumber kebakaran, kondisi atmosfer, arah angin, dan lamanya periode kering.
Risiko tersebut belum sepenuhnya berakhir karena Agustus hingga September diperkirakan menjadi periode dengan ancaman karhutla tinggi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Pemerintah melakukan operasi darat, pemadaman udara hingga modifikasi cuaca untuk mempertahankan kelembapan lahan dan menekan penyebaran api. Selama kebakaran masih menghasilkan asap dan pola angin mengarah ke barat laut, peluang kabut asap dari Kalimantan kembali mencapai Malaysia tetap terbuka. (RHU)