JAKARTA, AFU.ID — Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian di Kalimantan saat musim kemarau 2026 memasuki periode paling rawan. BMKG memperingatkan risiko karhutla meningkat pada Agustus–September, terutama di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Persoalannya bukan hanya soal cuaca panas, tetapi kombinasi aktivitas manusia, kekeringan, El Niño, lahan gambut, hingga angin yang membuat api lebih mudah muncul dan sulit dihentikan.
“99 persen lahan yang terbakar ini karena ulah manusia,” kata Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan saat meninjau karhutla di Kubu Raya, Jumat (07/08/2026). Pernyataan itu disampaikan dalam konteks kebakaran yang ditangani di wilayah tersebut dan tidak serta-merta menjadi angka untuk seluruh kebakaran di Kalimantan. Namun, BNPB berulang kali mengingatkan aktivitas pembakaran lahan menjadi salah satu faktor utama yang harus dicegah.
1. Aktivitas manusia menjadi sumber api
Karhutla pada banyak kasus bermula dari aktivitas manusia, termasuk pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. Risiko juga dapat muncul dari pembakaran sampah maupun sumber api lain ketika vegetasi sedang sangat kering. Karena itu, BNPB dan BMKG terus mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sembarangan di kawasan hutan, semak, lahan kering maupun gambut.
Cara membakar lahan kerap dipilih karena dianggap lebih cepat dan murah dibandingkan membersihkan lahan menggunakan alat atau metode lain. Masalah muncul ketika api tidak sepenuhnya terkendali dan merambat ke vegetasi maupun lahan gambut di sekitarnya. Pada kondisi kemarau, sumber api yang awalnya terbatas dapat berkembang menjadi kebakaran dengan area jauh lebih luas.
2. Musim kemarau membuat lahan semakin kering
Faktor berikutnya adalah musim kemarau yang mengurangi kelembapan tanah dan vegetasi. Daun, semak, rumput serta material organik yang mengering menjadi bahan bakar yang membuat api lebih mudah menyala dan menjalar. Kondisi ini menjadi salah satu alasan risiko karhutla meningkat ketika periode tanpa hujan berlangsung lebih panjang.
Dampaknya sudah terlihat dalam pemantauan tahun ini. Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi 5.019 titik panas secara nasional dengan konsentrasi antara lain di Kalimantan Barat, Papua Selatan dan Riau. BNPB juga mencatat luas lahan terbakar di Kalimantan Barat telah mencapai 28.216,31 hektare sejak Januari hingga akhir Juni 2026.
3. El Niño memperparah kekeringan
Musim kemarau tahun ini juga beriringan dengan El Niño yang membuat situasi semakin rawan. BMKG menjelaskan El Niño dan kemarau merupakan dua fenomena berbeda, tetapi ketika terjadi bersamaan, curah hujan dapat berkurang lebih jauh dan kondisi permukaan menjadi lebih kering. Risiko karhutla pun meningkat karena bahan bakar alami di permukaan semakin mudah terbakar.
Pada akhir Juli, BMKG mencatat indeks Niño 3.4 sudah mencapai 1,56 atau melewati ambang kategori El Niño kuat. Risiko karhutla diprediksi mencapai periode tertinggi pada Agustus hingga September, termasuk di sejumlah wilayah Kalimantan. Pemerintah kemudian mengintensifkan operasi modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan lahan rawan dan membantu penanganan kebakaran.
4. Gambut menyimpan bara di bawah tanah
Inilah faktor yang membuat kebakaran di sebagian wilayah Kalimantan berbeda dengan kebakaran biasa. Lahan gambut secara alami merupakan lahan basah, tetapi ketika kehilangan banyak air dan mengering, material organiknya menjadi sangat rentan terbakar. Api bahkan dapat merambat dan bertahan di lapisan di bawah permukaan tanah.
Kepala BNPB Suharyanto menyebut pemadaman di lahan gambut tidak selalu selesai hanya dengan mematikan api yang tampak di permukaan. Bara dapat masih tersimpan di dalam tanah dan kembali menghasilkan asap atau memunculkan api. Kondisi itulah yang membuat water bombing maupun penyemprotan dari darat harus dilakukan berulang dan sering membutuhkan pembasahan yang jauh lebih menyeluruh.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang menghadapi persoalan ini. BNPB mencatat luas lahan terdampak kebakaran di provinsi tersebut mencapai 3.069,52 hektare pada akhir Juli, sementara karakteristik lahan gambut membuat pemadaman menjadi lebih sulit. Pemerintah menjadikan wilayah itu sebagai salah satu prioritas penanganan karhutla tahun ini.
5. Angin membantu api menjalar
Setelah api muncul, angin dapat mempercepat penyebarannya ke area lain. BNPB mengingatkan potensi angin kencang pada musim kemarau dapat membuat api bergerak lebih cepat ketika bertemu semak, rumput dan vegetasi kering. Semakin banyak bahan bakar kering di sekitar lokasi kebakaran, semakin sulit pula petugas menahan perluasan api.
Kombinasi angin, vegetasi kering dan gambut membuat kebakaran dapat berkembang meski sumber awalnya relatif kecil. Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada memadamkan api yang sudah besar, tetapi juga mendeteksi titik panas dan memadamkan sumber api sedini mungkin. Pembasahan gambut sebelum mencapai kondisi kering ekstrem juga menjadi bagian penting dari strategi pencegahan.
Jadi, penyebab kebakaran Kalimantan tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu faktor. Aktivitas manusia menjadi sumber api penting dalam banyak kejadian, sementara kemarau, El Niño, gambut kering dan angin menciptakan kondisi yang membuat kebakaran jauh lebih mudah berkembang. Faktor gambut kemudian menjadi alasan utama mengapa api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar mati.
Karhutla 2026 menunjukkan risiko itu masih nyata. BMKG bahkan memperkirakan periode Agustus–September sebagai fase dengan ancaman karhutla tinggi di Sumatra dan Kalimantan seiring kemarau dan pengaruh El Niño. Karena itu, pencegahan sumber api tetap menjadi langkah paling efektif sebelum kebakaran mencapai lapisan gambut dan berubah menjadi peristiwa yang jauh lebih sulit dikendalikan. (RHU)