JAKARTA, AFU.ID - Sebanyak 591 sekolah di 10 distrik di Negara Bagian Sarawak, Malaysia ditutup sementara selama dua hari, Kamis dan Jumat (21/8/2026) menyusul memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Langkah darurat itu diambil Pemerintah Negara Bagian Sarawak untuk mengantisipasi bahaya ispa pada siswa.
Berdasarkan data Departemen Pendidikan Sarawak (JPNS) pemerintah setempat, sebanyak 197.323 siswa dari 509 sekolah dasar dengan 107.590 murid dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 pelajar dialihkan ke pembelajaran daring. Adapun wilayah yang terdampak di negara tetangga ini meliputi Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.
Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan meluas dari barat hingga timur. Sepanjang periode 1–19 Agustus 2026 saja telah terdeteksi sebanyak 7.286 titik panas (hotspot) di Kalimantan. Sebetulnya, kebakaran hutan juga terjadi di Sarawak, dengan jumlah titik panas 148, jauh lebih sedikit dibanding di Kalimantan. Pergerakan angin membawa asap pekat dari Kalimantan Barat langsung menuju utara ke wilayah Sarawak. Kondisi ini memicu lonjakan Indeks Pencemaran Udara (IPU) di Sarawak ke tingkat berbahaya.
Pada Jumat pagi, wilayah Serian mencatat rekor IPU tertinggi mencapai angka 242 atau masuk kategori Sangat Tidak Sehat. Sementara itu, beberapa wilayah padat penduduk lainnya juga berada pada kategori Tidak Sehat, di antaranya Sri Aman (189), Kuching (188), dan Samarahan (180). Pemerintah Sarawak mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker guna menghindari dampak kabut asap.
Sementara itu, kasus infeksi saluran pernafasan akut (Ispa) melonjak di wilayah Kalimantan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 151.965 kasus sepanjang 1 Januari hingga 7 Agustus 2026 di Kalimantan Barat saja. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, pemerintah telah melakukan penanganan bersama dinas kesehatan di daerah serta pemangku kepentingan lainnya. “Ini upaya Kemenkes, selain dari dinkes setempat dan stakeholders lainnya, untuk daerah yang terdampak karhutla,” kata Aji dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8/2026).
Selain di Kalbar, kenaikan kasus Ispa juga terjadi di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Mempawah. Kenaikan kasus ISPA juga terjadi di Kalimantan Tengah. Kemenkes mencatat peningkatan kasus dalam dua hari berturut-turut. Pada 18 Agustus 2026, terdapat 475 kasus ISPA. Jumlah tersebut kemudian naik menjadi 547 kasus pada 19 Agustus 2026. Sementara di Kalimantan Selatan, tren kasus ISPA tercatat meningkat 22,2 persen. Selain ISPA, beberapa penyakit lain juga mengalami kenaikan. Tren kasus diare akut meningkat 16,7 persen, suspek demam tifoid naik 7,1 persen, dan influenza-like illness (ILI) meningkat 7,1 persen. Sementara itu, tren kasus pneumonia tercatat turun 2,5 persen. Di Riau, Kemenkes mencatat 1.377 kasus ISPA selama periode 1 hingga 19 Agustus 2026. Selain ISPA, terdapat 34 kasus asma, 19 kasus iritasi kulit, enam kasus konjungtivitis, dan 12 kasus pneumonia pada periode yang sama. (EER)