Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Netizen Sebut Koster Gubernur Bali Arogan, Habis Omeli Pegawai Kelelahan, Kini Buang Muka Saat Owner SPBU Mengadu dan Menangis
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Gubernur Bali Wayan Koster mendapat sorotan negatif dari netizen setelah ia dituduh bersikap arogan saat menangani keluhan pemilik stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) terkait kelelahan pegawai yang melayani antrean pembeli yang mengular. Dalam sebuah video, Koster terlihat memalingkan wajah saat pemilik SPBU mengungkapkan kekhawatirannya, yang memicu kritik di media sosial. Meskipun menghadapi lonjakan kebutuhan BBM, Koster meminta pegawai untuk tetap melayani konsumen tanpa mengeluh, sementara Kepala Satpol PP Bali mengungkapkan bahwa distribusi BBM mengalami kendala akibat tingginya permintaan.
Pemilik stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) meminta bantuan armada tenaga tambahan untuk membantu penyaluran bensin di SPBU. (Dok. Istimewa)
JAKARTA, AFU.ID— Pemilik stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) meminta bantuan armada TNI-Polisi untuk menangani antrean mengular bahan bakar minyak (BBM) di kawasan Renon, Denpasar, Bali. Permintaan itu disampaikan langsung pemilik kepada Gubernur Bali Wayan Koster saat kunjungan pada Jumat (16/10/2026). Dalam video yang beredar di platform X, perempuan yang disebut sebagai pemilik SPBU itu menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi pegawai yang harus melayani lonjakan pembeli. “Mohon bantuannya, kirim armadanya, kasihan pegawai saya, cuman 30 orang, sudah tua-tua semua, kasihan,” ujarnya.
Saat pemilik SPBU menyampaikan keluhannya, Koster beberapa kali terlihat memalingkan wajah dan memasang ekspresi acuh tak acuh. Gestur tersebut menjadi perhatian warganet karena muncul ketika pemilik SPBU sedang menjelaskan betapa lelahnya kondisi para pegawainya dengan nada geram dan mata owner yang berkaca-kaca. Akun @cariaeosa mempertanyakan sikap Koster melalui komentar, “Diajakin ngomong kok nolah noleh sih koster?”Komentar lain datang dari akun @BoraNora613 yang menulis, “Dia gak bisa hargai rakyat,” sebagai bentuk kritik terhadap cara Koster menghadapi keluhan tersebut.
Situasi lelahnya pegawai SPBU ini juga diungkap Ariskaa Novitha Sari melalui unggahan di media sosial yang menceritakan pengalaman lembur selama dua hari. Ariskaa mengatakan para operator bekerja sejak pukul 14.00 hingga sekitar pukul 00.30, lalu kembali melayani pembeli sampai pukul 07.00 pagi. Ia mengeluhkan waktu istirahat yang terbatas dan kesempatan untuk makan dan bertemu keluarga yang ikut terpangkas akibat pekerjaan. “Makasih banyak tanpa pulang ketemu anak, tanpa makan, tanpa istrahat. Terima kasih Pak Koster memang top,” tulis Ariskaa dengan nada menyindir.
Keluhan itu sekaligus mempertegas sikap pegawai SPBU di Jalan Diponegoro, Denpasar, yang terlibat cekcok dengan Koster pada Rabu malam (14/10/2026). Operator tersebut menangis ketika mengadukan kelelahan karena diminta tetap melayani pembeli di tengah antrean BBM. “Saya bukan robot, saya juga capek, Pak,” ujar pegawai SPBU. Mendengar itu, Koster hanya dingin dan meminta pegawai itu diam serta menyuruhnya diusir.
Koster Minta SPBU Tetap Melayani, Distribusi BBM Terkendala
Dalam kunjungan ke beberapa SPBU di Bali, Koster meminta petugas tetap melayani konsumen meski mengalami kelelahan. “Enggak usah, jangan ngeluh. Layani konsumen. Walaupun capek, ya layani. Enggak boleh merasa capek,” kata Koster. Ia juga menyebut petugas TNI membantu pelayanan pada malam hari dan menjawab, “Ya, enggak ada masalah,” ketika ditanya mengenai persoalan tersebut.
Kepala Satpol PP Bali I Dewa Nyoman Dharmadi mengatakan lonjakan kebutuhan BBM mencapai dua kali lipat atau lebih dibandingkan hari biasa. Menurut dia, antrean muncul hampir bersamaan di sejumlah SPBU, sedangkan proses distribusi menghadapi kendala karena pasokan harus menjangkau banyak lokasi. “Ya, di semua SPBU bersamaan antrean, bersamaan juga habisnya. Nah, pendistribusian ini yang jadi sedikit kendala memang,” ujar Dharmadi.
Dharmadi menambahkan, tidak semua SPBU memiliki jumlah pekerja yang memadai untuk beroperasi selama 24 jam. Sejumlah lokasi yang kehabisan stok harus menghentikan pelayanan hingga pasokan tiba, sementara SPBU dengan personel cukup didorong tetap melayani masyarakat pada malam hari.