JAKARTA, AFU.ID — Dokumen rahasia intelijen Amerika Serikat terbaru mengenai pembunuhan Presiden John F. Kennedy (JFK) mengungkap fakta mengejutkan. Dokumen-dokumentersebut mengungkapkan, Central Intelligence Agency (CIA) telah merencanakan seluruh operasi pembunuhan sang presiden, dan memiliki keterkaitan dengan dinas intelijen Israel (Mossad), hingga beroperasi dari kediaman keluarga Rothschild di Paris. Rangkaian temuan mutakhir tersebut diungkap oleh akun pengawas data intelijen @DeepLeaksHQ melalui unggahannya yang dikutip pada Senin (12/10/2026).
Akun tersebut menegaskan, berkas-berkas rahasia ini menjadi bukti kuat terbuktinya berbagai dugaan yang selama ini dianggap sekadar teori konspirasi. "CIA merencanakan seluruh pembunuhan tersebut," tulis akun @DeepLeaksHQ dalam keterangannya. Akun tersebut juga menyoroti keterlibatan pihak eksternal serta jejaring finansial global dalam operasi terselubung itu.
"Keterkaitan dengan Mossad dan Israel. Hubungan dengan keluarga Rothschild? CIA beroperasi dari rumah Rothschild di Paris," lanjutnya. Tak hanya itu, @DeepLeaksHQ membeberkan adanya dugaan pembunuhan berencana terhadap pihak internal intelijen yang berusaha membocorkan rahasia ini ke publik. "Agen CIA Gary Underhill dibunuh setelah mengungkapkan bahwa pembunuhan JFK adalah operasi CIA," tulisnya.
Di samping itu, akun tersebut mengungkap fakta historis lainnya terkait hubungan keluarga Kennedy dengan lingkaran politik Washington. "JFK Jr. (putra JFK) menyebut Joe Biden sebagai Pengkhianat pada tahun 1994 dalam sebuah surat. Biden adalah seorang senator pada saat itu. Jadi semua teori konspirasi akhirnya menjadi kenyataan," pungkas akun tersebut. Klaim-klaim tajam yang diunggah @DeepLeaksHQ tersebut diperkuat oleh bukti otentik berupa salinan lembaran memorandum rahasia milik Pemerintah Amerika Serikat yang terlampir dalam berkas temuan. Salah satu dokumen rahasia FBI tertanggal 17 Maret 1965 yang ditujukan kepada W. C. Sullivan mengungkapkan bahwa sejak tahun 1954 telah disetujui sebuah prosedur operasional dengan kode Bureau Informant 100.
Dokumen itu mencatat bahwa sebagian besar informasi intelijen yang dikelola oleh pejabat CIA James Angleton berasal dari hubungan kerja sama langsung antara CIA dengan Layanan Intelijen Israel (Israeli Intelligence Service) atau Mossad, serta memantau pergerakan warga negara Amerika Serikat yang bepergian ke Rusia melalui jalur Israel. Keterkaitan erat antara CIA dan intelijen Israel juga tertuang secara mendalam dalam memorandum rahasia FBI lainnya tertanggal 30 April 1954 dari W. A. Branigan kepada A. H. Belmont.
Dalam berkas bertajuk James Angleton CIA tersebut, terungkap bahwa Angleton secara rutin menyerahkan informasi rahasia hasil operasi CIA kepada FBI tanpa melalui saluran resmi. Prosedur internal mengatur bahwa setiap informasi yang berhubungan dengan pihak atau individu di Israel wajib dikordinasikan dan disetujui terlebih dahulu oleh Angleton sebelum disebarkan ke luar biro, guna menyamarkan asal-usul sumber data agar tidak terlacak langsung ke jaringan intelijen asing.

Bukti paling signifikan mengenai keterlibatan jaringan finansial elit dunia terpapar dalam lembaran transkrip kesaksian rahasia CIA yang tersimpan di Perpustakaan Gerald Ford. Dalam dokumen pemeriksaan tersebut, seorang pejabat CIA membeberkan bahwa pos stasiun operasi CIA di Paris saat itu baru saja dipindahkan keluar dari area Kedutaan Besar AS dan menempati bekas istana atau kediaman keluarga Rothschild (old Rothschild Palace).
Karena curiga tempat tersebut telah dipasangi alat penyadap oleh pihak lawan, para agen CIA terpaksa melakukan seluruh percakapan strategi dan diskusi sensitif sambil berjalan-jalan di area taman. Transkrip itu juga menyebutkan nama pejabat Staf Aktivitas Khusus CIA, Nestor Sanchez, yang mengendalikan kontak dengan kelompok militer Kuba di bawah pengawasan langsung Robert F. Kennedy untuk saudaranya, Presiden JFK.
Ungkapan dan temuan dokumen ini mencuat seiring dengan kebijakan keterbukaan informasi besar-besaran yang diambil oleh Pemerintah Amerika Serikat. Melalui arahan langsung Presiden Donald Trump, puluhan ribu halaman dokumen pembunuhan JFK tanpa sensor telah resmi dirilis ke publik secara bertahap, yang mulai dibuka sejak 18 Maret 2025 dan terus diperbarui hingga awal tahun 2026. Keseluruhan dokumen yang diresmikan tersebut mencakup kumpulan arsip investigasi mendalam dari CIA dan FBI, catatan pengawasan ketat terhadap Lee Harvey Oswald—termasuk detail kunjungannya ke Mexico City pada September 1963—serta berbagai memo internal rahasia dan laporan evaluasi kritis terhadap hasil temuan Komisi Warren. (MAR)