JAKARTA, AFU.ID — Kabar bakal masuknya Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Partai Buruh, Said Iqbal ke Istana Negara, akhirnya terkonfirmasi. Iqbal diumumkan bakal dilantik menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Senin (8/6/2026), sore, pukul 16.30.
"Jam 16.30 dilantik di istana," ujar Said kepada para wartawan. Said menjelaskan, dirinya telah dihubungi oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengenai kabar pelantikan ini. "Ditelpon semalam oleh Pak Seskab Letkol Teddy," katanya.
Jabatan Said sebagai penasehat ini memang tak masuk jajaran kabinet. Namun ini bukan posisi sembarangan. Merujuk pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 137 Tahun 2024, posisi penasihat khusus memiliki kedudukan serta fasilitas finansial dan struktural yang setingkat dengan menteri.
Masuknya Saiq Iqbal ke Istana sendiri sebenarnya bukan hal yang aneh. Sinyal kedekatan Said dan Prabowo yang sebelum cenderung tak terkspose, mulai terlihat saat peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 lalu. Saat itu para buruh yang tergabung dalam KSPI merayakan "May Day" di Silang Monas bersama Prabowo.
Sejumlah 200 ribu buruh tampak larut dalam perayaan yang lebih tampak seperti karnaval ketimbang aksi massa buruh menuntut kesejahteraan seperti biasanya. Prabowo juga tampil percaya diri di hadapan para buruh. Mengenakan baju safari krem andalannya, Prabowo menyalami massa, melempar topinya ke kerumunan, bahkan ikut berjoget bersama di atas panggung diiringi lagu "Kamu Ngga Sendirian" yang dibawakan oleh grup band Tipe-X. Bahkan kemudian Prabowo sampai melepas baju safarinya dan mengenakan kaus hitam.
Seperti yang sempat diutarakan oleh Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI M. Qodari, kehadiran presiden di Monas merupakan simbol nyata komitmen pemerintah untuk menghapus stigma lama yang menempatkan negara berseberangan dengan pekerja.
"Pemerintah ingin menegaskan satu hal bahwa posisi pemerintah bukan berhadapan dengan pekerja atau buruh, melainkan menempatkan elemen pekerja sebagai mitra strategis pembangunan," jelas Qodari saat itu.
Di atas panggung May Day 2026 pula, pemerintah memberikan "hadiah besar" yang telah dinanti selama puluhan tahun guna melunakkan tensi pergerakan: pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT).
"Hari ini saya bisa melaporkan kepada saudara-saudara bahwa kita telah mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga. Ini adalah perjuangan lama, perjuangan 22 tahun. Bahkan selama republik berdiri belum pernah ada undang-undang perlindungan pekerja rumah tangga," ujar Presiden Prabowo di hadapan ratusan ribu buruh di Monas (1/5/2026).
Prabowo juga dengan bangga mengumumkan telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026, yang memangkas batas maksimal potongan komisi aplikator ojek online (ojol) menjadi hanya 8% dari sebelumnya 20 persen. Aturan ini memastikan mitra pengemudi menerima minimal 92% dari pendapatan bersih perjalanan mereka.
Di hadapan para buruh, Prabowo juga mengumumkan penerbitan Perpres Nomor 25 Tahun 2026 tentang ratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188. Melalui peraturan tersebut, Kepala Negara menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan perlindungan dan kesejahteraan pada nelayan.
"Ada satu lagi hadiah untuk buruh. Saya juga baru saja tanda tangan Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2026 tentang Ratifikasi Konvensi International Labour Organization Nomor 188, untuk memastikan perlindungan dan kesejahteraan bagi awak kapal perikanan," jelas Prabowo.
Kemudian, Presiden Prabowo Subianto juga secara resmi mengesahkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Pembentukan Satuan Tugas Mitigasi Pemutusan Hubungan Kerja dan Kesejahteraan Buruh untuk melindungi pekerja dari ancaman PHK.
"Kalau ada pengusaha yang menyerah, jangan khawatir. Negara kita kuat, negara akan mengambil alih. Negara akan membela rakyat Indonesia. Jangan khawatir," tegas Prabowo.
Aksi Prabowo di depan para buruh ini memang seolah menjadi sinyal pemerintah bakal berpihak pada mereka. Peringatan May Day 2026 yang dikoordinir Said Iqbal ini juga seolah menjadi sinyal awal bakal masuknya Said ke Istana.
Sinyal itulah yang kemudian dikonfirmasi oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi beberapa hari sebelum kabar resmi pelantikan Said beredar. Prasetyo mengatakan, penunjukan Said Iqbal tidak lepas dari rekam jejaknya. "Kemungkinan berkaitan dengan tentunya perjuangan beliau selama ini, dengan buruh, tenaga kerja," sebut Prasetyo Hadi.
Masuknya pimpinan buruh ke dalam lingkaran ini kekuasaan ini, menimbulkan beragam reaksi dari kalangan aktivis pergerakan buru. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menyatakan dukungannya secara penuh. Dia yakin Said tidak akan luntur perjuangannya setelah duduk di kursi empuk Istana. "Bung Iqbal tidak akan meninggalkan perjuangan untuk kesejahteraan kaum buruh," ujarnya.
Namun, masuknya para pimpinan aktivis buruh ini juga dinilai sebagai cara Prabowo "menjinakkan" kaum buruh. Said Iqbal sendiri bukan tokoh buruh pertama yang masuk Istana. Andi Gani Nena Wea sendiri ditunjuk menjadi Staf Khusus atau Penasihat Kapolri di bidang Ketenagakerjaan sejak tanggal 1 Mei 2024.
Kemudian pada 27 April 2026 lalu, Presiden Prabowo juga telah melantik Mohammad Jumhur Hidayat, Ketua Umum KSPSI sebagai Menteri Lingkungan Hidup. Masuknya tokoh-tokoh buruh ke lingkaran Prabowo tetap saja dinilai mengandung risiko "melumpuhkan" gerakan buruh.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai kehadiran Said Iqbal di lingkar kekuasaan berpotensi mengurangi daya kritis gerakan buruh terhadap kebijakan pemerintah.
"Namun sisi negatif bila Said Iqbal masuk, tentu narasi kritis kaum buruh tereduksi," kata Agung dalam siaran persnya.
Meski di sisi lain, Agung juga tak menampik, masuknya tokoh buruh ke Istana juga bisa berpotensi membawa dampak positif. Dia menilai, dari sisi kapasitas dan pengalaman, Said Iqbal merupakan figur yang sangat memahami persoalan ketenagakerjaan dan memiliki basis dukungan kuat di kalangan pekerja.
"Secara kualitas mumpuni karena selama ini bertungkus lumus dengan isu perburuhan dan memiliki basis kuat untuk memudahkan pemerintah mengakomodasi kepentingan buruh," kata Agung.
Said Iqbal sendiri memang bukan tokoh buruh sembarangan. Pria kelahiran Jakarta, 5 Juli 1968, jelas bukan tokoh karbitan. Dia merintis jalan aktivismenya dari bawah, saat menjadi Ketua Serikat Pekerja tingkat basis (pabrik) di sebuah perusahaan elektronika di kawasan industri Bekasi pada tahun 1992.
Said yang lulusan sarjana di Universitas Jayabaya dan meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) ini, dikenal memiliki kemampuan negosiasi dan orasinya membuat karier strukturalnya melesat.
Ia dipercaya memimpin Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Puncaknya, ia terpilih sebagai Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), salah satu aliansi buruh terbesar di Indonesia yang membawahi jutaan pekerja sektor manufaktur, metal, elektronik, dan jasa.
Di bawah komandonya, KSPI bertransformasi menjadi mesin unjuk rasa yang paling ditakuti lintas rezim karena kedisiplinan massanya. Kiprah Iqbal diakui di panggung internasional. Pada tahun 2013, ia meraih penghargaan bergengsi The Febe Elisabeth Velasquez Award dari FNV (Federasi Serikat Pekerja Belanda).
Penghargaan ini menobatkan Said Iqbal sebagai Tokoh Buruh Terbaik Dunia atas keberanian dan konsistensinya memperjuangkan upah layak, jaminan kesehatan gratis untuk seluruh rakyat, serta membatasi sistem kerja alih daya (outsourcing) di Indonesia melalui mogok nasional yang melumpuhkan kawasan industri.
Sadar bahwa demonstrasi jalanan kerap menemui jalan buntu di parlemen, Said Iqbal mengambil langkah berani pada Oktober 2021 dengan menghidupkan kembali Partai Buruh (yang awalnya didirikan Muchtar Pakpahan). Sebagai Presiden Partai Buruh, ia mencoba membawa gerakan ini ke ranah politik elektoral pada Pemilu 2024. Melalui instrumen partai ini, ia secara masif mengonsolidasikan elemen buruh tani, nelayan, guru honorer, hingga ojek online untuk membangun kesadaran kelas pekerja.
Meski dalam kampanyenya Partai Buruh bersumpah tidak akan berkoalisi dengan partai-partai pendukung Omnibus Law, pasca Pemilu Said Iqbal menunjukkan kelenturan politik yang tinggi. Alih-alih berada di oposisi murni, ia mulai membuka ruang dialog formal dengan Prabowo Subianto. Puncaknya terlihat pada kemesraan perayaan May Day 2026 di Monas, yang menjadi jembatan formal baginya menuju kursi Penasihat Khusus Presiden pada Juni 2026.
Rekam jejak yang panjang dan militansi massa di belakang Said Iqbal inilah yang membuat posisinya sangat strategis. Bagi Presiden Prabowo, menempatkan Said Iqbal di Istana adalah langkah taktis untuk meredam potensi guncangan ketenagakerjaan, sementara bagi pergerakan buruh, langkah ini menjadi perjudian terbesar atas independensi mereka.
MAR