JAKARTA, AFU.ID — Peternakan sapi perah Dago Dairy resmi tutup di bulan Agustus 2026 ini. Dalam dua tahun ke belakang, usaha yang berada di kawasan Buniwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat tersebut kekurangan karyawan. Keputusan tersebut disampaikan oleh pemilik peternakan, Mark Hallet bersama istrinya Yanti dalam akun Instagram @dago_dairy.
Mark Hallet atau yang biasa disapa Mr. Mark menyebut kurangnya karyawan yang dialami membuat dirinya dengan sang istri kesulitan membagi waktu. “Kami harus bekerja dua shift, kami harus merawat kedua putra kami di Australia dan merawat sapi, kami tidak punya waktu untuk menjalankan keduanya sekaligus,” ujarnya dalam keterangan.
Lebih lanjut, Mark mengatakan saat ini, minat anak muda untuk bekerja di bidang peternakan sangat minim. Hal tersebut yang dikatakan menjadi latarbelakang usahanya harus gulung tikar. “Kami cinta Indonesia, tetapi tidak ingin melanjutkan peternakan,” katanya. Berdasarkan laporan Mark di Instagramnya, peternakan sapi Dago Dairy juga sempat mengalami kekeringan akibat musim kemarau pada bulan April lalu. Hal tersebut membuat Mark menanam rumput buatan.
Dago Dairy merupakan usaha peternakan sapi yang didirikan sejak tahun 2015. Peternakan ini menghasilkan susu segar atau fresh milk, yogurt dan keju berkualitas. Produknya diproduksi dengan metode pasteurisasi suhu rendah 65 derajat celcius sehingga mampu mempertahankan nutrisi dan protein.
Selain dapat menjadi tempat destinasi wisata yang diminati turis, tempat ini umumnya dijadikan objek wisata edukasi untuk masyarakat terkait budi daya sapi perah. Mark pun turun langsung menjadi pembina edukasi sapi perah kepada para pengunjung. Mulai dari pelajar sampai orang dewasa.
Dalam penutupnya, Mark menyampaikan terima kasih kepada sejumlah pihak yang telah bekerja sama dengannya. Beberapa perusahaan dan usaha yang bekerja sama ialah cafe dan bakery, rumah sakit Borromeus dan Adventure, Supermarket Yogya Riau Junction dan Supermarket Setiabudhi. (NAD)