JAKARTA, AFU.ID — Sebaran titik panas (hotspot) di Kalimantan melonjak tajam dalam pemantauan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) selama 17–19 Agustus 2026. Pada 19 Agustus, sebanyak 518 hotspot terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Jumlah tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan 109 titik yang tercatat sehari sebelumnya.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kemenhut yang menggunakan pemantauan satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua mencatat, 123 hotspot pada 17 Agustus pukul 07.00 WIB. Rinciannya, 93 titik berada di Kalimantan Barat, 28 titik di Kalimantan Tengah, dan dua titik di Kalimantan Selatan. Pada 18 Agustus, jumlahnya berubah menjadi 15 titik di Kalimantan Barat, 73 titik di Kalimantan Tengah, dan 21 titik di Kalimantan Selatan.
Lonjakan paling signifikan terjadi pada 19 Agustus pukul 07.00 WIB. Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot, Kalimantan Tengah 242 titik, dan Kalimantan Selatan 17 titik sehingga totalnya mencapai 518 hotspot. Secara kumulatif, selama 17-19 Agustus terdapat 367 hotspot di Kalimantan Barat, 343 di Kalimantan Tengah, dan 40 di Kalimantan Selatan atau total 750 titik.
Kemenhut menjelaskan, jumlah hotspot tidak dapat langsung dianggap sebagai jumlah kejadian kebakaran di lapangan. Satu kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga setiap temuan masih harus diverifikasi untuk memastikan lokasi, penyebab, kondisi, dan luas area yang terbakar. "Hotspot kategori high confidence menunjukkan tingkat keyakinan deteksi yang lebih tinggi terhadap adanya anomali panas," tulis Kemenhut dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
Kondisi kabut asap juga tidak bisa ditentukan hanya dari jumlah hotspot karena dipengaruhi arah dan kecepatan angin, kelembapan, kondisi atmosfer, karakteristik lahan, serta akumulasi asap dari berbagai lokasi. Pada 19 Agustus, jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak tercatat sekitar 1,2 kilometer, Palangka Raya sekitar 3 kilometer, sedangkan Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarbaru sempat turun hingga sekitar 400 meter. Sehari kemudian, jarak pandang di sejumlah wilayah membaik, tetapi Kemenhut mengingatkan kondisi asap dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran dan cuaca.
Penanganan karhutla di tiga provinsi tersebut dilakukan dengan melibatkan sekitar 12.880 personel gabungan, terdiri dari 1.410 personel di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan. “Operasi modifikasi cuaca juga disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan perkembangan kebakaran, sementara penanganan di Kalimantan Tengah diperkuat melalui operasi udara water bombing,” tulis Kemenhut. (RAI)