Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat di Pontianak, Kalimantan Barat, memicu kekhawatiran orang tua siswa yang meminta agar sekolah diliburkan atau menerapkan pembelajaran daring. Salah satu orang tua, Rahmawati, menyatakan bahwa kondisi kabut asap telah memburuk dalam tiga hari terakhir, dan mendesak Pemerintah Kota Pontianak untuk mempertimbangkan kesehatan siswa dalam menentukan kebijakan belajar. Data dari BPBD Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan adanya 3.759 titik panas di sejumlah daerah, meskipun tidak terdeteksi titik panas di Kota Pontianak selama periode pemantauan.
Ilustrasi. Sejumlah pengendara motor melintasi jalan yang diselimuti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (5/3/2026). (ANTARA FOTO/Jessica Wuysang)
JAKARTA, AFU.ID — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Kondisi tersebut membuat orang tua siswa khawatir dan meminta sekolah kembali diliburkan atau menerapkan pembelajaran dari rumah. Orang tua siswa kelas 2 MIN 4 Pontianak, Rahmawati, mengatakan kabut asap mulai terasa pekat dalam tiga hari terakhir.
Sebelumnya, sekolah sempat diliburkan sebelum kembali menggelar pembelajaran tatap muka. "Dalam tiga hari ini asap mulai pekat. Hari ini juga. Sebelumnya sempat libur, sudah masuk lagi. Kalau kondisi mulai pekat lagi, saya berharap kembali sekolah diliburkan atau belajar dari rumah saja secara daring," kata Rahmawati di Pontianak, Jumat (21/8/2026).
Rahmawati meminta Pemerintah Kota Pontianak melalui dinas terkait mempertimbangkan kondisi kabut asap dalam menentukan kegiatan belajar siswa. Menurut dia, siswa tetap beraktivitas di lingkungan sekolah, termasuk bermain di luar ruangan. Kondisi tersebut menjadi perhatian orang tua ketika kabut asap menyelimuti wilayah Pontianak.
"Kita tahu anak-anak di sekolah pasti bermain di luar dan belum mengerti betul asap itu berbahaya. Jadi kami harap Pemerintah Kota Pontianak melalui dinas terkait mengeluarkan kebijakan untuk sementara bisa meliburkan atau belajar secara daring," ujarnya. Berdasarkan data BPBD Provinsi Kalimantan Barat yang bersumber dari pemantauan BMKG, sebanyak 3.759 titik panas terdeteksi pada 20 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.
Kabupaten Ketapang mencatat jumlah titik panas terbanyak dengan 1.795 titik. Selanjutnya Sanggau 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, dan Melawi 190 titik. Titik panas juga terdeteksi di Sekadau sebanyak 150 titik, Kapuas Hulu 126 titik, Sintang 111 titik, Bengkayang 95 titik, Sambas 59 titik, Mempawah 44 titik, dan Singkawang satu titik. Sementara itu, tidak terdeteksi titik panas di Kota Pontianak pada periode pemantauan tersebut. Kondisi udara di Pontianak juga tercatat buruk pada Kamis (21/8/2026). (FAD)