JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahan hebat setelah Komite Nobel Norwegia resmi menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian 2026 kepada hakim senior asal Afrika Selatan, Navi Pillay. Saat berbicara dalam panggung kampanye Partai Republik di Syracuse, New York, serta dilanjutkan lewat rentetan unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut keputusan tersebut sebagai noda yang tak terhapuskan bagi Norwegia serta menegaskan bahwa penghargaan tersebut kini telah kehilangan seluruh kredibilitasnya. Trump mengaku tidak pernah mendengar nama Navi Pillay—mantan Presiden Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda, eks Komisioner Tinggi PBB untuk HAM, yang baru-baru ini memimpin Komisi Penyelidikan PBB yang menyimpulkan terjadinya genosida oleh Israel di Jalur Gaza.
"Hari ini, mereka memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada orang yang saya, maupun orang lain, tak pernah dengar sebelumnya. Dia tokoh misterius... Saya tidak tahu apa-apa tentang wanita ini, begitu pula orang lain! Faktanya, sepengetahuan saya, tidak ada seorang pun yang pernah mendengar namanya, kecuali fakta bahwa dia, sudah sangat jelas, membenci Israel," cetus Trump di hadapan para pendukungnya, Sabtu (10/10/2026).
Melalui klaimnya, Presiden AS tersebut menganggap dirinya dan negaranya jauh lebih berhak memboyong medali emas serta penghargaan bergengsi itu atas apa yang ia sebut sebagai "rekam jejak perdamaian" dalam menghentikan konflik di berbagai penjuru dunia. "Wanita ini yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian, mengungguli Amerika Serikat yang hebat, yang perwakilannya, SAYA, telah mendamaikan delapan perang, dan melakukan banyak hal lainnya," tulis Trump di Truth Social.
"Untuk satu dari delapan perang itu saja, harusnya pantas diganjar Hadiah Nobel. Saya hentikan delapan perang. Belum ada presiden yang bisa seperti ini sebelum saya. Kenyataannya, saya seharusnya memenangkan delapan Nobel Perdamaian, bukan hanya satu," tegasnya.
Trump bahkan secara terbuka melayangkan ancaman diplomatis dan kritikan tajam yang menyasar langsung negara penyelenggara, Norwegia. "Amerika Serikat, yang diwakili saya sebagai presidennya, seharusnya menerima Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi saya tidak mendapatkannya. Ini adalah noda yang tak dapat terhapuskan bagi Norwegia," ujar Trump. "Hadiah Nobel 'Perdamaian' akan selamanya terdiskreditkan oleh segelintir Ideolog Radikal yang Anti-demokrasi dan merupakan Musuh Peradaban! Dan kita tidak akan melupakan hal ini, Norwegia," tambahnya.
Di lain pihak, Ketua Komite Nobel Norwegia di Oslo, Jorgen Watne Frydnes, menegaskan bahwa penganugerahan kepada hakim wanita berusia 85 tahun tersebut didasari atas dedikasi tanpa kompromi terhadap penegakan hukum internasional dan pengadilan kejahatan perang. Frydnes menyebut sosok Pillay memegang peran "sangat penting dalam memastikan bahwa kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida diadili".
Merespons kabar kemenangannya serta amukan dari sang Presiden AS di Nuremberg, Navi Pillay justru menanggapinya dengan kelakar santai di hadapan para pendukungnya. "Jika Anda bertepuk tangan sedikit lebih meriah lagi, saya mungkin akan berbagi penghargaan ini dengan Trump," kelakar Pillay yang disambut standing ovation para hadirin.
Pillay turut mengakui bahwa reaksi pertamanya saat menerima kabar penghargaan tersebut adalah mengira hal itu sebagai lelucon. Mengenai laporan keberaniannya memimpin COI PBB dalam menyimpulkan genosida di Gaza, Pillay menambahkan, "Salah satu tanggapan utama terhadap laporan tersebut adalah apresiasi atas keberanian saya. Dan Anda bisa membayangkan betapa terkejutnya saya, mengapa seseorang memerlukan keberanian untuk menyuarakan kebenaran?" Upacara resmi penganugerahan medali emas beserta hadiah uang tunai sebesar US$1,2 juta (sekitar Rp21,4 miliar) dijadwalkan berlangsung di Oslo pada 10 Desember mendatang. (MAR)