JAKARTA, AFU.ID — Polisi Australia masih menyelidiki motif di balik penabrakan yang membuat anggota parlemen independen Helen Haines kehilangan kedua kakinya. Aparat belum menyimpulkan apakah serangan itu bermotif politik, terkait pandangan ekstrem, atau dipengaruhi kondisi kesehatan mental pelaku. “Berita baik dari semua ini, Helen masih hidup dan kondisinya stabil. Itu yang paling penting bagi keluarga kami sekarang,” ujar suami korban, Phil Haines. Melbourne, Rabu (21/10/2026).
Phil mengungkapkan dokter sempat berupaya menyelamatkan kedua kaki istrinya, namun cedera yang dialami terlalu parah sehingga amputasi tidak dapat dihindari. Peristiwa itu terjadi pada Senin sekitar pukul 15.35 waktu setempat di depan kantor konstituen Haines di Wangaratta, negara bagian Victoria. Polisi menduga pelaku, Brendan Nugent (43), mengendarai Toyota LandCruiser, melakukan putar balik, lalu menabrak Haines yang saat itu berada di dekat kendaraannya.
Keterangan saksi yang diperoleh penyidik menunjukkan penabrakan tidak berhenti pada benturan pertama. Setelah menghantam korban, pelaku diduga memundurkan kendaraan lalu kembali menabrak Haines untuk kedua kalinya. Polisi Victoria kemudian menyatakan kasus tersebut merupakan serangan yang ditargetkan atau targeted attack. Warga yang berada di sekitar lokasi langsung mengejar dan menahan pelaku hingga polisi tiba. Salah seorang saksi, Ricky Jefferies, membantu melumpuhkan tersangka setelah awalnya mengira kejadian itu merupakan kecelakaan lalu lintas biasa. Saksi juga menemukan pisau di dalam kendaraan yang digunakan pelaku.
Korban kemudian diterbangkan ke Melbourne dalam kondisi kritis. Tim dokter melakukan operasi darurat dan sempat berhasil menyelamatkan nyawa Haines. Namun kerusakan parah pada kedua kakinya membuat dokter akhirnya memutuskan melakukan amputasi. Sehari setelah kejadian, polisi menetapkan Nugent sebagai tersangka. Ia didakwa dengan tuduhan mengemudi berbahaya yang menyebabkan luka serius, sengaja menyebabkan luka serius, serta melukai pejabat publik federal. Tersangka juga menghadapi dakwaan tambahan terkait kepemilikan dan budidaya ganja.
Kasus ini menarik perhatian nasional karena melibatkan anggota parlemen federal aktif. Haines merupakan anggota parlemen independen untuk daerah pemilihan Indi sejak 2019 dan dikenal aktif mengadvokasi isu perubahan iklim, perumahan warga, serta transparansi pemerintahan. Pemerintah Australia langsung melibatkan sejumlah lembaga dalam penyelidikan. Selain Polisi Victoria, investigasi juga melibatkan Australian Federal Police (AFP), badan intelijen domestik Australia, serta unit kontra-terorisme. Aparat masih mengumpulkan bukti untuk memastikan motif sebenarnya di balik serangan tersebut.
Hingga saat ini polisi belum menemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan adanya motif politik. Namun penyidik mengaku sedang memeriksa aktivitas media sosial pelaku, pandangan anti-pemerintah yang mungkin dianutnya, serta kemungkinan keterkaitan dengan paham ekstrem tertentu. Beberapa media Australia juga mengungkap bahwa Nugent dikenal sering mengunggah pandangan tentang politik, lingkungan hidup, konflik internasional, dan kebijakan pemerintah. Meski demikian, belum ditemukan bukti bahwa serangan tersebut dilakukan karena sikap politik atau aktivitas parlemen yang dijalankan Haines.
Jalur penyelidikan lain yang turut didalami adalah kondisi kesehatan mental pelaku. Pengacara Nugent menyatakan kliennya memiliki gangguan neurologis langka bernama idiopathic transverse myelitis dan pernah mengalami masalah kesehatan mental. Tetangga pelaku juga mengaku beberapa kali melaporkannya kepada polisi karena perilaku yang dianggap mengkhawatirkan. Dalam sidang perdana di Wangaratta Magistrates Court, Nugent tidak mengajukan jaminan dan akan tetap ditahan hingga sidang berikutnya pada Februari 2027. Polisi menegaskan penyelidikan masih berlangsung dan seluruh kemungkinan motif masih terbuka. (RHU)