JAKARTA, AFU.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan membuat kualitas udara memburuk dan kabut asap semakin mengganggu aktivitas warga. Di beberapa wilayah, asap bahkan telah menurunkan jarak pandang hingga hanya ratusan meter serta mengganggu penerbangan. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia dan penderita penyakit pernapasan.
Kementerian Kesehatan mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada awal musim kemarau 2026 menunjukkan tren peningkatan hingga lebih dari 400 ribu kasus per minggu. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Karhutla menjadi salah satu faktor yang dinilai turut memberikan dampak terhadap peningkatan gangguan pernapasan selama musim kemarau.
“Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau. Karhutla juga memberi dampak,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman di Jakarta, Jumat (21/8/2026). Pemerintah telah mengerahkan 90 tenaga kesehatan ke sejumlah daerah terdampak, termasuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Sebanyak 267.630 masker serta berbagai logistik kesehatan juga telah didistribusikan.
Lalu, apa yang perlu dilakukan masyarakat ketika kualitas udara semakin buruk akibat asap karhutla? Berikut empat langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan.
1. Kurangi Aktivitas di Luar dan Tutup Pintu serta Jendela
Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi ketika kondisi udara sedang dipenuhi asap atau debu. Semakin lama seseorang berada di luar dan semakin berat aktivitas fisiknya, semakin banyak udara beserta partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan. Olahraga dan aktivitas berat di luar ruangan sebaiknya ditunda sampai kualitas udara membaik.
Pintu dan jendela rumah juga sebaiknya ditutup ketika asap sedang pekat untuk membatasi masuknya partikel dari luar. Berada di dalam rumah memang tidak menghilangkan seluruh paparan, tetapi dapat menguranginya dibandingkan berada terus-menerus di luar ruangan. Jika kondisi di dalam rumah terlalu panas atau asap tetap masuk dalam jumlah besar, warga dapat mempertimbangkan berada sementara di tempat yang memiliki udara lebih bersih.
2. Gunakan Masker yang Tepat jika Harus Keluar Rumah
Warga yang tetap harus bekerja, bersekolah atau melakukan aktivitas di luar perlu menggunakan masker yang menutup hidung dan mulut dengan baik. Respirator seperti N95 yang terpasang dengan rapat dapat membantu menyaring partikel halus dari asap lebih efektif. Penggunaan masker tetap perlu disertai dengan pembatasan durasi berada di luar ruangan.
Masker tidak membuat seseorang bebas berada di lingkungan berasap selama mungkin. Anak-anak, lansia, ibu hamil serta penderita asma, penyakit paru dan penyakit jantung tetap perlu meminimalkan paparan. Kelompok tersebut memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan ketika kualitas udara memburuk.
3. Jaga Udara di Dalam Rumah Tetap Bersih
Pendingin ruangan atau AC dapat digunakan selama tidak memasukkan banyak udara dari luar. Jika tersedia pilihan fresh air dan recirculate, sistem dapat diatur ke mode sirkulasi ulang agar udara di dalam ruangan lebih banyak diputar kembali. Pembersih udara dengan filter yang mampu menangkap partikel halus juga dapat digunakan jika tersedia.
Aktivitas yang justru menambah polusi di dalam rumah perlu dikurangi selama kabut asap terjadi. Merokok, membakar lilin atau dupa serta penggunaan aerosol dapat menambah partikel dan polutan di ruangan. Permukaan yang berdebu dapat dibersihkan menggunakan kain atau pel lembap agar partikel yang mengendap tidak kembali beterbangan.
4. Kenali Gejala dan Jangan Menunda ke Fasilitas Kesehatan
Paparan asap dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mata perih hingga sesak napas. Kemenkes meminta masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada atau keluhan lain yang semakin berat. Kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama pada kelompok yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung sebelumnya.
Masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, cukup beristirahat, mencuci tangan dan menghindari rokok. Persediaan obat rutin bagi penderita penyakit kronis perlu dipastikan tetap tersedia selama periode kabut asap. Kondisi kualitas udara juga perlu terus dipantau sebelum memutuskan kembali melakukan aktivitas di luar ruangan.
Risiko karhutla masih perlu diwaspadai karena aktivitas kebakaran hutan biasanya meningkat mulai Juli dan dapat mencapai puncaknya pada Agustus hingga September. Dengan kondisi tersebut, mengurangi paparan menjadi langkah penting selama sumber kebakaran masih ditangani. Perlindungan sejak dari dalam rumah dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan akibat udara yang tercemar asap. (RHU)