AFU.id

Daftar 4 Provinsi dengan Titik Panas Kebakaran Hutan, Kalbar Jadi yang Terbanyak

Bagikan:

Penulis: Fadhlan RobbaniReporter: Fadhlan Robbani

Ringkasan Berita

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi empat provinsi sebagai prioritas pemantauan titik panas yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur, dengan Kalimantan Barat mencatatkan jumlah titik panas tertinggi. BMKG juga memprediksi bahwa musim hujan baru akan mulai memasuki beberapa wilayah pada pertengahan Oktober 2026, sementara untuk mengatasi karhutla, pemerintah berencana melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Barat antara tanggal 23 hingga 27 Agustus, meskipun Kalimantan Tengah mengalami kendala dalam pelaksanaan OMC akibat kurangnya potensi awan hujan.

Daftar 4 Provinsi dengan Titik Panas Kebakaran Hutan, Kalbar Jadi yang Terbanyak
Petugas terus berupaya melakukan penanganan karhutla di kawasan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, Rabu (19/8/2026). (ANTARA/Muhammad Arif Hidayat)

Kalbar Berpeluang Jalani Modifikasi Cuaca

Untuk membantu penanganan karhutla sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Menurut Teuku, operasi tersebut tidak hanya bertujuan membantu pemadaman karhutla, tetapi juga mendukung pengisian waduk. BMKG menyiapkan OMC di enam provinsi utama yang mengalami karhutla.

Pesawat yang semula digunakan untuk patroli dapat dialihkan untuk menjalankan operasi apabila menemukan awan yang memenuhi syarat untuk disemai menjadi hujan. Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang memiliki peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat. "Dan dari catatan kami, bahwa untuk Kalimantan Barat ada potensi OMC pada tanggal 23 sampai 27 Agustus, sehingga nanti akan kami optimalkan untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca," ujar Teuku.

Berbeda dengan Kalimantan Barat, pelaksanaan OMC di Kalimantan Tengah menghadapi kendala kondisi atmosfer. BMKG memprediksi belum tersedia awan hujan yang dapat disemai hingga akhir Agustus. Kondisi tersebut membuat upaya modifikasi cuaca di wilayah itu tidak mudah dilakukan. "Yang menjadi masalah adalah Kalimantan Tengah, karena sampai akhir Agustus tidak ada potensi awan hujan yang dapat kita semai menjadi hujan di sana," imbuhnya. (FAD)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi