JAKARTA, AFU.ID - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa sekitar 3 juta warga di Indonesia terpapar langsung asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) memuncak seiring memasuki puncak musim kemarau, di mana sebaran asap telah meluas ke 87 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya paparan partikel halus PM2,5 yang terkandung di dalam kabut asap. Partikel mikroskopis berukuran kurang dari 2,5 mikrometer ini berisiko tinggi menembus hingga ke bagian terdalam paru-paru dan memicu berbagai gangguan pernapasan berat.
”Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2,5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA,” kata Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Menkes menginstruksikan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis, untuk secara disiplin menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta memantau kualitas udara secara berkala. Selain itu, warga diminta tidak menunda pemeriksaan medis jika mengalami gejala iritasi berat, batuk menetap, atau sesak napas.
Secara terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman menyebutkan, angka kasus ISPA nasional terus menunjukkan tren kenaikan hingga menembus angka lebih dari 400 ribu kasus per minggu. Peningkatan signifikan ini bertepatan dengan puncak musim kemarau yang berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus.
”Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau. Karhutla juga memberi dampak,” ujar Aji Muhawarman.
Guna merespons krisis kesehatan di daerah terdampak, Kemenkes telah mengerahkan sebanyak 90 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, apoteker, sanitarian, hingga epidemiolog. Sebagian besar tenaga medis disebar ke wilayah dengan tingkat paparan paling parah, seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Langkah mitigasi ini turut disokong pengiriman ratusan ribu masker, tabung oksigen, alat pelindung diri (APD), serta makanan tambahan bagi masyarakat. (ANT/MAR)