JAKARTA, AFU.ID — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur mulai meningkat seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) dr. Jaya Mualimin mengatakan, hingga memasuki pekan ke-34 tahun 2026, kasus ISPA di Kaltim tercatat sekitar 9.499 kasus. Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan awal tahun, namun belum menunjukkan lonjakan signifikan.
Pada Januari 2026, kasus ISPA tercatat sekitar 9.300 kasus. Jumlah kasus sempat menurun pada pertengahan tahun, kemudian kembali naik seiring memasuki musim kemarau dan meningkatnya titik api. “Pertengahan tahun memang sempat turun, kemudian naik lagi karena dipicu titik-titik api yang ada,” ujarnya. Kondisi ini diperparah oleh asap kiriman dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. “Ditambah lagi asap kiriman dari Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Kita juga tidak hujan, sehingga kondisi ini menjadi salah satu perhatian kita, terutama di Kutai Barat,” kata Jaya.
Dinkes Kaltim juga menyoroti kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah. Daerah yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah Kutai Barat dan Berau, disusul Kutai Kartanegara. Di Kutai Barat, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sempat mencapai 318 mikrogram per meter kubik, yang masuk kategori berbahaya. Saat ini angka tersebut turun menjadi sekitar 280, namun masih tergolong sangat tidak sehat (nilai ideal di bawah 55).
Data Sebaran Kasus ISPA di Kalimantan Timur
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kaltim hingga Agustus 2026, jumlah kasus ISPA tertinggi tercatat di:
- Balikpapan: 66.468 kasus
- Samarinda: 48.230 kasus
- Kutai Kartanegara: 29.453 kasus
- Paser: 22.284 kasus
- Kutai Timur: 22.032 kasus
- Berau: 20.549 kasus
- Penajam Paser Utara: 10.386 kasus
- Bontang: 7.670 kasus
- Mahakam Ulu: 1.482 kasus
Jaya mengingatkan bahwa tingginya angka kasus juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk di masing-masing daerah. Selain ISPA, paparan udara buruk juga berisiko menimbulkan diare (terutama di wilayah dengan keterbatasan air bersih) serta alergi atau gatal-gatal akibat debu. Kondisi lingkungan yang banyak tikus juga meningkatkan risiko leptospirosis. Masyarakat diimbau membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan makanan. Gejala leptospirosis meliputi demam, menggigil, dan gangguan pencernaan.
Untuk kasus ISPA, sebagian besar dapat sembuh dalam sekitar satu minggu karena umumnya disebabkan oleh virus. Namun, jika disertai demam, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Masyarakat juga dapat memantau kualitas udara melalui sistem ISPU Net. (EER)