Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Skadik 103 Beri Pembekalan Prajurit TNI AU Tangani Karhutla yang Semakin Meluas dengan Menggunakan Drone
Bagikan:
Penulis: Aldi Herlanda · Reporter: Aldi Herlanda
Komandan Skadik 103 Letkol Pnb (N) Galih Kusumayuda saat Wawancara dengan Wartawan di Markas Skadik 103, Tasikmalaya (Foto: Antara)
JAKARTA, AFU.ID — Skadron Pendidikan (Skadik) 10 memberikan pengajaran kepada siswa TNI Angkatan Udara (AU) untuk menangani bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pembelajaran ini terkait penggunaan pesawat tanpa awak atau drone. Komandan Skadik 103 Letkol Pnb (N) Galih Kusumayuda mengatakan, drone menjadi salah satu alat yang dapat membantu menangani Karhutla terutama dalam pemantauan titik-titik api melalui udara. "Contohnya ada karhutla yang lagi marak, kita juga sudah kasih training ke mereka (siswa) bagaimana menjejak hotspot-hotspot itu," katanya, Rabu (21/10/2026).
Galih menjelaskan, drone yang dimiliki TNI AU saat ini memiliki teknologi sensor termal sehingga mampu mendeteksi suhu di daerah-daerah tertentu. Kemampuan drone ini juga dirasa mampu bertahan. "Di sini para siswa memang kita sudah ajarkan basic-basic menggunakan sensor-sensor drone yang diperlukan untuk misi-misi," jelasnya. Ia berharap hasil dari pembelajaran ini para prajurit mampu menggunakan drone untuk misi kemanusiaan atau operasi militer selain perang (OMSP).
Sebagai informasi, berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia hingga Oktober 2026 mencapai 677.000 hektare. Sementara data satelit Nusantara Atlas, akumulasi luas area terbakar hingga akhir September 2026 menembus 1,92 juta hektare.
Sebaran wilayah terdampak di antaranya, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Sumatera Selatan. Akibat karhutla tersebut, wilayah yang terdampak memiliki kondisi udara sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Tak hanya itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 18 Oktober, jumlah kumulatif kasus ISPA kini mencapai 306.309 kasus. sebanyak 69.015 kasus dialami balita berusia 0 hingga 5 tahun. Sementara itu, kelompok anak-anak berusia 6 hingga 9 tahun yang terdampak ISPA tercatat 77.022 kasus dan kelompok lanjut usia (lansia) sebanyak 49.680 kasus. (AHA)