JAKARTA, AFU.ID — Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Komite Sadar (Selamatkan Daulat Rakyat) akan menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta pada Selasa (20/10/2026), bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Aksi akan berlangsung di dua titik, yakni Tugu Proklamasi dan Tugu Tani, Jakarta Pusat.
Komite Sadar terdiri dari mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Menurut keterangan penyelenggara, sebagian kampus akan menggelar aksi di daerah masing-masing, sementara aksi di Jakarta akan dipusatkan di dua lokasi tersebut.
Rangkaian kegiatan akan diawali dengan aksi simbolik di kawasan Tugu Proklamasi pada pagi hari. Setelah itu, mahasiswa akan melanjutkan aksi massa di kawasan Tugu Tani pada siang hingga sore hari. Demonstrasi tersebut digelar bertepatan dengan peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Dalam aksi tersebut, Komite Sadar akan membawa lima tuntutan utama. Pertama, meminta pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir sebagai bencana nasional, memulihkan kesehatan warga terdampak, serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang dinilai bertanggung jawab atas krisis tersebut. Kedua, memperbaiki tata kelola kebijakan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan pasar.
Ketiga, menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat. Keempat, memberantas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima, menurunkan biaya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik serta memastikan akses yang lebih merata bagi masyarakat.
Menjelang aksi, Komite Sadar juga mempublikasikan hasil survei yang disebut melibatkan 560 responden dari Sumatra hingga Papua. Berdasarkan survei tersebut, 78,8 persen responden disebut menilai pemerintahan Prabowo-Gibran beserta kabinetnya gagal menjawab berbagai persoalan publik. Angka tersebut merupakan hasil survei yang dipublikasikan penyelenggara aksi dan belum disertai publikasi metodologi secara terbuka.
Survei yang sama menyebut isu lingkungan menjadi perhatian terbesar responden. Sebanyak 83,5 persen responden menyoroti deforestasi dan kebakaran hutan, 71,1 persen menyoroti mahalnya harga kebutuhan pokok, serta 70,6 persen menyoroti korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu, 67,4 persen responden menilai biaya pendidikan masih menjadi persoalan penting, sementara 62,7 persen responden menyoroti kebebasan berpendapat. (RHU)