AFU.id

Demo 20 Oktober: 500 Massa Diperkirakan Serbu Tugu Tani, Apa Tuntutannya?

Bagikan:

Penulis: Fadhlan RobbaniReporter: Fadhlan Robbani

Ringkasan Berita

Pada tanggal 20 Oktober 2026, sekitar 500 massa diperkirakan akan menggelar aksi demonstrasi di Tugu Tani, Jakarta, untuk menyampaikan berbagai tuntutan terkait kinerja pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka selama dua tahun, termasuk penanganan kebakaran hutan, biaya hidup yang tinggi, dan isu korupsi. Demonstrasi ini diorganisir oleh mahasiswa dan koalisi masyarakat sipil, yang berdasarkan survei menunjukkan mayoritas responden menganggap pemerintahan tersebut gagal. Tuntutan yang diajukan mencakup penetapan karhutla sebagai bencana nasional, perbaikan kebijakan ekonomi, serta penurunan biaya pendidikan dan layanan publik.

Demo 20 Oktober: 500 Massa Diperkirakan Serbu Tugu Tani, Apa Tuntutannya?
Arsip - Aksi massa demo di Bundaran HI, Jumat (12/6/2026). (AFU.ID/Fadhlan Robbani))

Proyeksi Tuntutan

Dalam aksi 20 Oktober, mahasiswa dan koalisi masyarakat sipil memproyeksikan sejumlah tuntutan yang akan disampaikan kepada pemerintah. Isu yang dibawa mencakup persoalan lingkungan, ekonomi, kebebasan berpendapat, korupsi, hingga biaya layanan publik. Pada isu lingkungan, massa akan mendesak pemerintah menetapkan karhutla dan banjir sebagai bencana nasional.

Mereka juga menuntut pemerintah menjamin pemulihan kesehatan warga terdampak serta menindak dan mencabut izin perusahaan yang terbukti bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan. Di sektor ekonomi, tuntutan diarahkan pada perbaikan kebijakan ekonomi dan pemulihan kepercayaan pasar. Persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta pembatasan kebebasan berpendapat juga diproyeksikan menjadi bagian dari tuntutan aksi.

Selain itu, mahasiswa akan menyoroti mahalnya biaya pendidikan, kesehatan, dan layanan publik. Mereka menuntut biaya layanan tersebut diturunkan serta aksesnya diberikan secara merata kepada masyarakat. Yatalathof mengatakan tuntutan tersebut berangkat dari penilaian mahasiswa terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

“Dua tahun pemerintahan yang gagal untuk apa di evaluasi? Kita bergerak karena sudah tidak ada harapan. Kedaulatan rakyat direbut oleh penguasa dapat dilihat dari segala ironi dan penindasan di berbagai daerah. Jadi kita bergerak atas dasar ingin rakyat berdaulat juga,” ujar Yatalathof. (FAD)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi