AFU.ID, JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir masuk dalam daftar pejabat dengan penilaian kinerja terbaik pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Temuan tersebut berdasarkan hasil Survei Nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” yang dipaparkan di Jakarta, Minggu.
Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno menyampaikan, Amran menempati posisi pertama dengan perolehan 15,4 persen. Teddy berada di urutan kedua dengan 14,5 persen, sedangkan Erick menempati posisi ketiga dengan 6 persen. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa ketiganya menjadi pejabat yang paling banyak disebut responden ketika diminta menyampaikan penilaian mengenai menteri atau pejabat berkinerja terbaik di pemerintahan Prabowo.
Namun, apa indikasi yang membuat ketiga pejabat tersebut memperoleh penilaian positif dari responden? Hasil survei PPI menunjukkan bahwa alasan yang mendasari penilaian terhadap masing-masing pejabat berbeda. Amran lebih banyak dikaitkan dengan isu swasembada pangan dan ketersediaan pupuk, Teddy dengan citra kerja dan komunikasi pemerintahan, sedangkan Erick dengan persepsi terhadap perkembangan tim nasional sepak bola Indonesia.
Amran Sulaiman: Swasembada Pangan Jadi Indikator Utama
Penilaian terhadap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman paling banyak dikaitkan dengan swasembada pangan. Berdasarkan rincian jawaban responden yang memberikan penilaian terhadap Amran, sebanyak 29,6 persen menyebut swasembada pangan sebagai alasan utama. Faktor berikutnya adalah pupuk murah dan berlimpah sebesar 17,6 persen, sementara 9,7 persen menilai kinerjanya terlihat secara langsung.
Besarnya persentase jawaban yang mengaitkan Amran dengan swasembada pangan menunjukkan bahwa isu kemandirian pangan menjadi salah satu faktor penting dalam persepsi responden terhadap kinerjanya. Isu tersebut berkaitan dengan upaya pemerintah meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada pasokan pangan dari luar negeri.
Selain itu, persoalan pupuk juga menjadi bagian penting dalam penilaian terhadap sektor pertanian. Ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau merupakan salah satu kebutuhan petani untuk mendukung kegiatan produksi. Karena itu, jawaban responden yang menyoroti pupuk murah dan berlimpah menunjukkan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan kebutuhan petani turut menjadi pertimbangan dalam menilai kinerja Menteri Pertanian.
Meski demikian, hasil survei tersebut menggambarkan alasan yang disampaikan responden, bukan pengukuran langsung terhadap tingkat keberhasilan seluruh program Kementerian Pertanian. Untuk menilai capaian swasembada pangan secara menyeluruh, diperlukan pula data produksi, kebutuhan konsumsi, impor, distribusi, serta ketersediaan pangan di berbagai daerah.
Teddy Indra Wijaya: Citra Kerja dan Komunikasi Pemerintah
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menempati posisi kedua dengan perolehan 14,5 persen. Berbeda dengan Amran yang penilaiannya banyak dikaitkan dengan persoalan pangan, Teddy lebih banyak memperoleh penilaian positif berdasarkan citra kerja dan cara berkomunikasi dengan masyarakat.
Sebanyak 19,6 persen responden dalam kelompok penilaiannya menyebut Teddy sebagai sosok yang sedikit bicara tetapi banyak bekerja. Selain itu, 15,6 persen responden menyebut penampilannya yang dinilai tampan dan gagah, sedangkan 11,9 persen menilai positif kemampuannya mengomunikasikan program pemerintah.
Data tersebut menunjukkan bahwa persepsi terhadap Teddy tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya sebagai Sekretaris Kabinet, tetapi juga dengan citra personal dan cara pemerintah menyampaikan informasi kepada publik. Penilaian mengenai sosok yang dianggap banyak bekerja dapat mencerminkan kesan responden terhadap aktivitas dan keterlibatannya dalam berbagai agenda pemerintahan.
Sementara itu, aspek komunikasi menjadi faktor lain yang ikut membentuk penilaian publik. Penyampaian informasi mengenai kebijakan dan program pemerintah dapat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap agenda yang sedang dijalankan. Kendati demikian, penilaian positif dalam survei tidak dengan sendirinya membuktikan efektivitas koordinasi pemerintahan atau keberhasilan seluruh program yang dikomunikasikan.
Erick Thohir: Persepsi terhadap Tim Nasional Jadi Faktor Utama
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menempati urutan ketiga dengan perolehan 6 persen. Penilaian positif terhadap Erick paling banyak dikaitkan dengan persepsi bahwa tim nasional sepak bola Indonesia semakin bagus, yang disebut oleh 15,6 persen responden dalam kelompok penilaiannya.
Selain itu, sebanyak 7,8 persen responden mengaitkan penilaian terhadap Erick dengan keberhasilan tim nasional masuk final ASEAN Cup. Persentase yang sama, yakni 7,8 persen, menyebut kinerjanya terlihat.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa sepak bola menjadi salah satu faktor yang menonjol dalam persepsi responden terhadap Erick. Perkembangan tim nasional memiliki daya tarik luas di tengah masyarakat sehingga dapat memengaruhi cara publik menilai pejabat yang dikaitkan dengan sektor olahraga.
Namun, penilaian tersebut perlu dibedakan dari evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Kementerian Pemuda dan Olahraga. Capaian olahraga nasional juga dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pembinaan atlet, tata kelola organisasi olahraga, kompetisi, fasilitas, serta peran berbagai pemangku kepentingan.
Saifullah Yusuf hingga Rosan Roeslani Masuk Daftar 10 Besar
Selain Amran, Teddy, dan Erick, survei PPI juga mencatat sejumlah pejabat lain dalam daftar 10 besar dengan penilaian kinerja terbaik. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menempati posisi keempat dengan 4,5 persen, disusul Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia dengan 3,2 persen.
Berikutnya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait memperoleh 2,1 persen. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mendapatkan 1,5 persen, sedangkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperoleh 1,1 persen.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi berada di posisi berikutnya dengan 0,9 persen, disusul Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani dengan 0,8 persen. Angka tersebut memperlihatkan sebaran jawaban responden yang menyebut para pejabat tersebut ketika diminta menilai kinerja terbaik di pemerintahan Prabowo.
Persentase Bukan Penilaian Menyeluruh terhadap Kinerja Kementerian
PPI menjelaskan bahwa persentase dalam daftar tersebut menunjukkan proporsi jawaban responden yang menyebut masing-masing pejabat secara spontan. Dengan demikian, angka itu tidak dapat diartikan sebagai persentase masyarakat yang menyatakan puas terhadap seluruh aspek kinerja kementerian atau lembaga yang dipimpin maupun dikoordinasikan oleh pejabat bersangkutan.
Perbedaan tersebut penting untuk memahami hasil survei secara tepat. Posisi teratas menunjukkan bahwa seorang pejabat lebih banyak disebut oleh responden dalam kategori penilaian yang ditanyakan, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh programnya paling berhasil dibandingkan program pejabat lain.
Selain itu, alasan yang disampaikan responden juga memperlihatkan bahwa penilaian publik dapat terbentuk dari beragam faktor, mulai dari isu kebijakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari hingga citra personal dan perhatian terhadap olahraga nasional.
Untuk menilai kinerja pemerintah secara lebih komprehensif, hasil survei persepsi publik perlu dibaca bersama indikator yang dapat diukur, seperti capaian program, realisasi anggaran, kualitas pelayanan publik, serta dampak kebijakan bagi masyarakat. (EER)