JAKARTA, AFU.ID — Peternak ayam petelur menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Massa memprotes mahalnya pakan dan rendahnya harga telur di tingkat kandang. Dalam tuntutannya, peternak meminta pemerintah menurunkan harga pakan, menjamin pasokan jagung, dan memperbaiki harga jual telur yang belum menutup biaya produksi. Mahalnya pakan ternak ini telah dirasakan peternak selama sekitar enam bulan akibat biaya produksi yang terus meningkat tanpa diimbangi pendapatan yang memadai.
Berdasarkan keluhan yang disampaikan dalam aksi, harga telur di tingkat kandang berkisar Rp19.000–Rp20.500 per kilogram, sedangkan harga acuan pemerintah berada di kisaran Rp24.500–Rp26.500 per kilogram. Para peternak mendesak pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap harga bahan baku pakan serta melindungi peternak kecil dari persaingan bisnis korporat besar.
Tuntutan peternak tidak hanya berasal dari rendahnya harga telur, tetapi juga kenaikan harga jagung yang menjadi sekitar 50 persen komposisi pakan ayam petelur. Harga jagung yang sebelumnya berkisar Rp5.500–Rp6.000 per kilogram kini mencapai Rp8.000–Rp8.400 per kilogram, bahkan pasokannya dilaporkan sulit diperoleh di sejumlah wilayah. Ketimpangan harga tersebut membuat biaya produksi semakin berat karena peternak harus membeli pakan lebih mahal ketika hasil penjualan telur justru memberikan pendapatan lebih rendah.
Respons Mentan Amran: Tak Perlu Demo, Datang Saja ke Saya
Dua hari setelah demonstrasi, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bertemu dengan perwakilan peternak untuk membahas persoalan harga pakan dan telur. Pemerintah menawarkan penyaluran awal sekitar 5.000 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk membantu sentra peternakan ayam petelur. Amran juga menyiapkan bantuan benih jagung gratis bagi lahan seluas 20.000 hektare hingga Desember 2026, dengan hasil panen diarahkan untuk memenuhi kebutuhan peternak.
“Ini saya minta seluruh asosiasi tidak usah repotkan turun demo, datang ke saya, insyaallah selama kebijakan di tangan saya, saya beresin untuk peternak Indonesia,” kata Amran di kawasan Kalibata, Jakarta, Jumat (9/10/2026). Selain bantuan benih dan jagung subsidi, pemerintah menyiapkan skema resi gudang agar peternak dapat menyimpan cadangan jagung tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan modal pembelian sekaligus. Melalui skema tersebut, Perum Bulog dapat membeli dan menyimpan jagung yang ditunjuk, tetapi kepemilikannya tetap berada pada peternak sehingga komoditas itu dapat dijual dengan persetujuan pemilik.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut, pembangunan gudang jagung yang dilengkapi fasilitas pengeringan dan pengolahan masih dalam proses lelang. Wilayah prioritas mencakup Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan sejumlah daerah penghasil jagung lainnya. Target dukungan pasokan jagung minimal 250.000 ton per triwulan untuk kebutuhan peternak. Namun, penyerapan hasil panen masih menghadapi kendala kualitas, terutama kadar air jagung yang harus memenuhi standar yang ditetapkan Bulog. (RAI)