JAKARTA, AFU.ID - Bencana banjir bandang dahsyat yang dipicu oleh runtuhnya gletser di dataran tinggi Himalaya menewaskan sedikitnya 1.066 orang di sepanjang perbatasan Nepal dan Tibet, China. Gelombang air dingin bercampur lumpur, bebatuan, dan material longsoran tersebut menyapu permukiman serta menghancurkan puluhan jembatan dan pembangkit listrik. Hingga Selasa, otoritas di kedua negara mencatat sebanyak 4.462 orang masih dinyatakan hilang di tengah cuaca ekstrem yang terus mengguyur lokasi bencana.
Ledakan jumlah korban tewas membuat fasilitas kamar jenazah di Nepal mengalami kelebihan kapasitas hingga kewalahan menampung jasad. Pemerintah setempat akhirnya mengambil keputusan darurat untuk memakamkan ratusan jenazah yang belum teridentifikasi setelah tim medis mengambil sampel DNA. Luapan arus deras bahkan membawa sedikitnya 17 mayat hingga terdampar ke aliran sungai di wilayah negara tetangga, India.
Fokus utama operasi penyelamatan kini dipusatkan pada proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), tempat sekitar 100 pekerja diduga masih terjebak di dalam terowongan. Alat berat, mesin bor, hingga bahan peledak dikerahkan untuk membobol material lumpur pekat yang menyumbat saluran bawah tanah. "Keajaiban memang terjadi, pada tahap ini saya tidak ingin sepenuhnya menyerah pada harapan," ujar Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, Rabu (2/9/2026).
Pencarian korban juga diwarnai sirnanya harapan ribuan keluarga yang kerabatnya hilang tanpa jejak. Dari total korban hilang, tercatat sebanyak 583 warga negara asing di Nepal dan 261 warga asing di China yang mayoritas merupakan pendaki gunung serta peziarah Hindu belum ditemukan. Sebagian keluarga di Kathmandu bahkan mulai menggelar upacara pemakaman simbolis dengan membakar boneka jerami karena meyakini jasad kerabat mereka tidak akan pernah ditemukan.
Tragedi dahsyat di pegunungan tertinggi dunia ini kian menegaskan ancaman nyata krisis pemanasan global yang memicu laju pencairan gletser secara tidak terkendali. Para pakar lingkungan mengingatkan bahwa kerusakan ekosistem Himalaya bakal mengancam pasokan air bagi 1,65 miliar jiwa di Asia Selatan. Khanal menegaskan bahwa bencana ini harus menjadi alarm keras bagi komunitas internasional untuk segera mengalirkan bantuan keadilan iklim bagi negara-negara rentan.
Di kawasan Tibet, pemerintah China mengerahkan lebih dari 2.000 personel militer dan tim penyelamat untuk memulihkan jaringan listrik serta jalur komunikasi yang terputus total. Namun, ketatnya pembatasan akses bagi jurnalis independen memicu kritik dari kelompok advokasi yang mempertanyakan transparansi data korban. Kerusakan infrastruktur yang masif diperkirakan menelan biaya rekonstruksi hingga miliaran dolar AS, menjadi beban berat bagi anggaran Nepal. (RHU)