JAKARTA, AFU.ID — Korban tewas akibat banjir bandang yang menerjang wilayah Nepal dan Tibet, China, terus bertambah. Sebanyak 472 orang meninggal dunia, terdiri dari 469 korban di Nepal dan tiga orang di wilayah Tibet, pada Jumat (28/8/2026). Di sisi lain, lebih dari 1.500 orang masih dinyatakan hilang setelah bencana menerjang kawasan Himalaya.
Kepolisian Nepal melaporkan jumlah korban meninggal di negaranya meningkat dari 390 menjadi 469 orang dalam dua hari setelah bencana. Di Tibet, media pemerintah China melaporkan tiga orang tewas dan 558 lainnya masih hilang di kawasan Gyirong. Ratusan warga negara asing termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan karena wilayah tersebut menjadi jalur populer bagi wisatawan, pendaki, dan peziarah.
Tim penyelamat masih menyisir sejumlah lokasi yang terdampak paling parah. Sebanyak 3.253 orang telah dievakuasi menggunakan helikopter, operasi pencarian terus dilakukan di tengah kerusakan jalan dan jembatan akibat terjangan air, lumpur, batu, dan material es. Tim penyelamat juga menggunakan alat berat dan anjing pelacak untuk mencari korban yang tertimbun puing-puing bangunan.
Banjir bandang ini juga menimbulkan kekhawatiran baru karena terbentuk danau di wilayah hulu akibat material longsoran yang membendung aliran sungai. Otoritas China memperkirakan danau itu telah menampung sekitar 2 juta meter kubik air dan masih berpotensi menerima tambahan sekitar 3 juta meter kubik dalam tiga hari berikutnya. Jika bendungan alami tersebut jebol, pelepasan air dalam jumlah besar dapat memicu banjir susulan ke wilayah yang berada lebih rendah.
Ancaman tersebut membuat pemerintah Nepal dan China meningkatkan pemantauan di kawasan yang berpotensi terdampak. Angkatan Darat Nepal mengirim tim untuk memeriksa Sungai Bhotekoshi dan sejumlah titik lain, termasuk proyek pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli-1. “Sulit mencari jalan masuk dan keluar terowongan karena semuanya tertutup lumpur. Prioritas pertama kami adalah menyelamatkan orang-orang yang terdampar,” kata Basnet.
Banjir bandang yang datang secara tiba-tiba sebelumnya menghancurkan permukiman, jembatan, kendaraan, hingga sejumlah fasilitas infrastruktur di sepanjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet. Kajian awal US Geological Survey mengarah pada runtuhnya gletser yang membawa batuan, es, lumpur, dan puing hingga memicu aliran air besar di kawasan pegunungan. Operasi pencarian dan penyelamatan kini berpacu dengan waktu karena jumlah korban hilang masih tinggi dan ancaman banjir susulan. (RAI)