JAKARTA, AFU.ID — Bencana banjir bandang yang melanda Nepal telah menyebabkan sedikitnya 10 ribu keluarga kehilangan tempat tinggal. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebut kondisi di lapangan sebagai bencana yang katastropik. "Situasinya sangat parah dan menimbulkan kerusakan besar," kata Juru Bicara IFRC, Tommaso Della Longa, Kamis (28/8/2026).
Berdasarkan data terbaru yang dirilis kepolisian setempat, bencana ini telah merenggut 389 nyawa. Selain angka kematian tersebut, kepolisian mencatat 466 warga mengalami luka-luka akibat bencana ini. Tim bantuan mengalami kesulitan menjangkau para korban lantaran infrastruktur jalan dan jembatan rusak parah, jaringan komunikasi terputus total, sehingga sejumlah wilayah hanya bisa diakses lewat udara menggunakan helikopter.
Sementara, Kepala Delegasi IFRC di Nepal, David Fisher mengungkapkan beberapa desa dan pusat perekonomian lokal bahkan tersapu habis oleh terjangan banjir bandang tersebut. Dari hasil pengamatan citra satelit, para ahli menduga pemicu banjir adalah runtuhnya bongkahan besar es dari gletser di kawasan Himalaya.
Bongkahan es tersebut kurang lebih 20 kilometer di sisi timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi. Longsoran es dan bebatuan dalam jumlah besar itu diduga jatuh langsung ke aliran Sungai Bhotekoshi di bawahnya. Insiden tersebut yang disebut sebagai pemicu terjadinya banjir bandang secara mendadak dan dalam skala besar.
Dari seluruh wilayah terdampak, Distrik Chitwan menjadi lokasi paling parah dengan 137 jenazah berhasil dievakuasi. Posisi kedua ditempati Nawalparasi Timur dengan 87 korban jiwa. Di luar dua distrik itu, jenazah korban juga ditemukan tersebar di Dhading, Gorkha, Nuwakot, Tanahun, Nawalparasi Barat, hingga Rasuwa.
Setidaknya ribuan personel kepolisian diturunkan untuk menjalankan misi evakuasi dan penyelamatan korban. Ironisnya, di tengah operasi tersebut, 18 anggota kepolisian sendiri justru dilaporkan hilang kontak dan belum diketahui keberadaannya, sementara pencarian terhadap mereka maupun korban lain yang belum ditemukan masih terus dilakukan hingga kini. (NAD)