JAKARTA, AFU.ID — Nurisa Dian Ashrifah mempersembahkan medali emas ke-5 Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pemanah nomor compound putri itu tidak hanya membawa pulang emas, tetapi juga mencatat sejarah baru bagi olahraga panahan Indonesia. Untuk pertama kalinya, atlet panahan Indonesia berhasil merebut medali emas di ajang Asian Games.
Nurisa atau yang akrab disapa Hani berasal dari Kota Semarang, Jawa Tengah. Atlet berusia 20 tahun itu saat ini tercatat sebagai mahasiswi program studi Manajemen di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Di luar aktivitas akademik, Nurisa merupakan atlet spesialis nomor compound putri yang telah menekuni panahan sejak usia 11 tahun.
Perjalanan Nurisa menuju level internasional dimulai ketika masih berada di kelompok usia muda. Konsistensinya membuat ia tumbuh menjadi salah satu atlet panahan compound putri terbaik yang dimiliki Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, namanya mulai rutin muncul dalam berbagai kejuaraan internasional. Puncaknya terjadi ketika ia tampil di Asian Games 2026.
Prestasi internasional Nurisa sebenarnya sudah terlihat sejak SEA Games 2025 di Thailand. Pada ajang tersebut, ia berhasil merebut medali emas nomor individu compound putri setelah mengalahkan wakil Singapura. Ia juga ikut membawa Indonesia meraih emas nomor beregu putri yang mengakhiri penantian panjang Indonesia di nomor tersebut. Selain dua emas, Nurisa juga menyumbang satu medali perunggu pada ajang yang sama.
Namun prestasi terbesar dalam kariernya sejauh ini datang di Asian Games 2026. Nurisa berhasil melangkah hingga partai final nomor compound individu putri dan menghadapi pemanah Filipina, Amaya Amparo Cojuangco. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Nurisa menang dengan skor 139-137. Kemenangan tersebut memastikan medali emas untuk Indonesia sekaligus mencatatkan sejarah baru bagi panahan Merah Putih.
Perjalanan menuju emas tidak berlangsung mudah. Sebelum mencapai final, Nurisa harus menghadapi sejumlah pemanah unggulan Asia. Pada babak perempat final, ia berhasil menyingkirkan unggulan utama asal India, Chikitha Taniparthi. Hasil tersebut menjadi salah satu kunci yang membuka jalan menuju podium tertinggi.
Salah satu momen paling menentukan terjadi pada partai final. Laporan pertandingan menyebut kondisi lapangan di Okazaki sempat dipengaruhi embusan angin yang membuat akurasi tembakan para atlet terganggu. Dalam situasi tersebut, Nurisa mampu menjaga ketenangan dan membalikkan keadaan pada seri-seri terakhir. Ketenangan itulah yang kemudian mengantarkannya merebut emas.
Keberhasilan Nurisa juga terbilang melampaui ekspektasi tim. Menjelang Asian Games 2026, tim panahan Indonesia datang tanpa target muluk karena persiapan yang tidak ideal. Namun pemanah asal Semarang tersebut justru berhasil menghasilkan salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah panahan nasional. Medali emas yang diraihnya menjadi kontribusi penting bagi posisi Indonesia di klasemen Asian Games 2026.
Di berbagai kesempatan, Nurisa dikenal sebagai atlet yang dekat dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Ia beberapa kali menyampaikan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari dukungan keluarga, pelatih, serta orang-orang yang mendampinginya sejak awal berlatih panahan. Sikap rendah hati itu membuat namanya semakin dikenal luas setelah keberhasilannya di Jepang.
Dari seorang atlet yang mulai berlatih pada usia 11 tahun hingga menjadi peraih emas Asian Games, perjalanan Nurisa Dian Ashrifah kini menjadi bagian dari sejarah olahraga Indonesia. Pada usia 20 tahun, ia bukan hanya membawa pulang medali emas, tetapi juga mengakhiri penantian panjang panahan Indonesia di panggung Asian Games. (RHU)