JAKARTA, AFU.ID — Desak Made Rita Kusuma Dewi mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Atlet asal Bali tersebut berhasil mempertahankan dominasinya di nomor speed putri, sekaligus mengukuhkan statusnya sebagai salah satu atlet panjat tebing terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Keberhasilan tersebut juga memastikan target minimal empat medali emas yang ditetapkan Indonesia di Asian Games 2026 tercapai.
Lahir di Buleleng, Bali, pada 24 Januari 2001, Desak tumbuh sebagai atlet yang terbiasa dengan persaingan sejak usia dini. Perempuan yang kini berusia 25 tahun itu mulai mengenal olahraga panjat tebing ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat kelas dua SD, Desak sering mengikuti bibinya yang berlatih di arena panjat tebing Taman Kota Singaraja. Dari situlah ketertarikannya terhadap olahraga ekstrem tersebut mulai tumbuh.
Berbeda dengan banyak atlet panjat tebing yang memilih nomor lead atau bouldering, Desak justru jatuh hati pada nomor speed climbing. Ia mengaku menyukai tantangan memacu waktu dan sensasi adrenalin yang muncul ketika harus menyelesaikan lintasan secepat mungkin. Pilihan tersebut kemudian menjadi jalan yang membawanya menuju berbagai prestasi internasional.
Bakat Desak mulai menarik perhatian nasional setelah tampil menonjol di berbagai kejuaraan. Pada Kejuaraan Nasional Panjat Tebing di Riau tahun 2018, ia berhasil meraih dua medali emas. Prestasi tersebut berlanjut saat ia merebut medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021. Sejak 2020, Desak resmi dibina di Pelatnas Federasi Panjat Tebing Indonesia di bawah arahan pelatih Hendra Basir.
Puncak karier internasionalnya mulai terlihat pada 2023. Desak membuat kejutan besar ketika tampil di IFSC Climbing World Championships 2023 di Bern, Swiss. Dalam kejuaraan dunia tersebut, ia berhasil merebut medali emas dan menyandang gelar juara dunia nomor speed putri. Keberhasilan itu sekaligus mengamankan tiket Indonesia menuju Olimpiade Paris 2024.
Prestasi Desak tidak berhenti di level dunia. Pada Asian Games Hangzhou 2022, ia berhasil merebut medali emas dan menjadi salah satu andalan Indonesia di cabang panjat tebing. Empat tahun kemudian di Aichi-Nagoya 2026, Desak kembali naik ke podium tertinggi dan mempertahankan statusnya sebagai juara Asian Games. Dengan dua emas Asian Games berturut-turut, ia menjadi salah satu atlet Indonesia dengan dominasi terkuat di level Asia.
Final Asian Games 2026 menjadi salah satu penampilan paling dramatis dalam kariernya. Menghadapi rival kuat asal China, an, Desak harus bertarung hingga detik terakhir. Ia akhirnya menyentuh garis finis dengan catatan waktu 6,062 detik, hanya unggul 0,002 detik dari lawannya. Selisih yang sangat tipis tersebut cukup untuk memastikan medali emas kembali menjadi milik Indonesia.
Keberhasilan itu semakin istimewa karena sebelumnya Desak juga telah mencatatkan rekor Asia dengan waktu 6,07 detik pada Kejuaraan Asia 2026 di Meishan, China. Catatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu atlet speed climbing tercepat di dunia. Dominasi itu membuat namanya terus diperhitungkan dalam setiap kejuaraan internasional yang diikuti.
Di luar arena pertandingan, Desak juga dikenal sebagai sosok akademisi. Ia merupakan lulusan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Prestasi akademik dan olahraga yang berjalan beriringan menjadikannya salah satu figur atlet muda yang banyak mendapat perhatian.
Atas pencapaiannya di tingkat internasional, Desak masuk dalam daftar BBC 100 Women 2023, penghargaan yang diberikan kepada perempuan-perempuan inspiratif dari berbagai negara. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilannya tidak hanya berdampak bagi dunia olahraga Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian dunia internasional.
Kini, dengan status juara dunia, pemegang rekor Asia, dan peraih dua emas Asian Games berturut-turut, Desak Made Rita Kusuma Dewi telah menjelma menjadi simbol kekuatan baru olahraga Indonesia. Dari arena panjat tebing di Singaraja hingga podium tertinggi Asia, perjalanan Desak menunjukkan bagaimana ketekunan dan konsistensi mampu membawa atlet Indonesia berdiri sejajar dengan yang terbaik di dunia. (RHU)