JAKARTA, AFU.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mencapai 2.207 hektare sepanjang Mei hingga Agustus 2026. Kebakaran terjadi saat wilayah tersebut menghadapi kemarau panjang. Petugas masih mengantisipasi kemunculan api di sejumlah titik rawan.
Humas Taman Nasional Baluran Bintang mengatakan kondisi kemarau membuat potensi kebakaran masih perlu diwaspadai. Pihak taman nasional melakukan pemantauan dan penanganan pada area yang berisiko terbakar. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas ke kawasan lain.
Taman Nasional Baluran juga membentuk tim khusus untuk mengantisipasi karhutla. Tim tersebut bekerja bersama Manggala Agni Kementerian Kehutanan. Kolaborasi dilakukan untuk memperkuat pemantauan, pencegahan, dan respons apabila ditemukan titik api.
Pengelola taman nasional menyediakan layanan pengaduan bagi pengendara yang melintas di Jalan Nasional. Masyarakat dapat melaporkan kemunculan api melalui call center 081125033339. Laporan warga dibutuhkan agar petugas dapat segera memeriksa lokasi yang diduga mengalami kebakaran.
Bintang mengatakan karhutla belum berdampak signifikan terhadap fauna di kawasan tersebut. Menurut dia, api tidak membakar seluruh area dan masih banyak wilayah yang aman bagi satwa. “Dampak ke fauna sepertinya tidak terlalu masif karena area yang tidak terbakar masih sangat luas,” kata Bintang, Selasa (1/9/2026).
Kondisi kawasan yang belum terbakar memungkinkan satwa berpindah ke lokasi yang lebih aman. “Masih banyak area yang tidak terbakar, sehingga kawanan satwa bisa migrasi ke tempat yang lebih aman,” ujar Bintang. Meski demikian, pemantauan tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran mengganggu habitat satwa.
Taman Nasional Baluran memiliki luas sekitar 25.000 hektare, termasuk zona inti seluas 12.000 hektare. Kawasan tersebut menjadi habitat bagi 26 jenis mamalia, 155 jenis burung, serta berbagai jenis reptil. Luas wilayah dan keragaman fauna membuat pengendalian karhutla menjadi bagian penting dari perlindungan ekosistem.
Petugas bersama Manggala Agni masih melakukan antisipasi di titik rawan selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran yang dapat memicu api di kawasan taman nasional. Pengendara juga diimbau segera menghubungi call center apabila melihat asap atau titik api dari jalur yang dilalui. (RHU)