Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Fenomena Tanah Retak dan Bergeser Pasca Gempa Flores NTT, Apa Penyebabnya?
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Flores, NTT, fenomena tanah retak dan pergeseran terjadi di beberapa wilayah, termasuk Kampung Paku, Desa Golo Linus, yang mengancam lebih dari 100 jiwa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa gempa dapat mengubah bentuk dan ketinggian permukaan tanah, dengan pergeseran yang dipengaruhi oleh kondisi tanah dan kekuatan guncangan. Selain itu, indikasi likuifaksi juga ditemukan di kawasan Waekokak-Mbay, menandakan adanya masalah stabilitas tanah yang perlu ditangani secara serius.
Kondisi jalan di daerah Manatu, Flores, NTT. (Foto: X/@IndonesiaFedera)
JAKARTA, AFU.ID — Tanah retak dan mengalami pergeseran muncul di sejumlah wilayah Flores setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Salah satu lokasi terdampak berada di Kampung Paku, Desa Golo Linus, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur. Retakan yang membentang dari jalan kampung hingga halaman dan bangunan rumah warga. Kondisi tersebut membuat warga memilih meninggalkan rumah karena retakan terus melebar setelah gempa susulan.
Fenomena itu mendapat penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut gempa dapat mengubah bentuk dan ketinggian permukaan tanah. Pergeseran bisa berlangsung secara vertikal maupun horizontal, tergantung respons lapisan tanah terhadap guncangan dan pergerakan patahan. “Pergerakan vertikal yang tidak seragam dapat menyebabkan deformasi atau perubahan bentuk permukaan jalan,” tulis BMKG dalam penjelasannya.
Dampak pergerakan tanah terlihat pada permukaan jalan yang bergelombang, retakan memanjang, dan perubahan posisi bangunan. Kondisi tanah, kandungan air, topografi, kemiringan lereng, beban bangunan, dan kuatnya guncangan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tingkat kerusakan di setiap wilayah. Di Jembatan Marapokot, Kabupaten Nagekeo, misalnya, BMKG menemukan tanah lunak dengan daya dukung rendah yang rentan mengalami penurunan tidak merata.
Survei BMKG di Kecamatan Elar, Manggarai Timur, juga menemukan retakan pada permukaan tanah akibat guncangan kuat. Di Kampung Paku, retakan tersebut mengancam sekitar 14 rumah yang dihuni 14 kepala keluarga dengan jumlah warga lebih dari 100 jiwa. Camat Elar Selatan Herman Agas mengatakan, “Sekarang tanah terbelah itu semakin meluas akibat gempa susulan yang terus terjadi.”
Selain retakan, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan indikasi likuifaksi di kawasan Waekokak-Mbay berupa kemunculan air yang membawa pasir dan lumpur ke permukaan. Fenomena tersebut terjadi ketika tanah jenuh air kehilangan kekuatannya akibat guncangan gempa dan dapat mengganggu kestabilan bangunan. BMKG menegaskan pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan karakteristik setiap retakan secara lebih rinci agar penyebabnya dapat ditentukan secara ilmiah. (RAI)