JAKARTA, AFU.ID — Sedikitnya 14 penerbangan dari Bandar Udara Internasional Sentani, Kabupaten Jayapura, mengalami penundaan akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengurangi jarak pandang di sejumlah wilayah tujuan di Tanah Papua.
Penundaan penerbangan terutama terjadi pada rute menuju Wamena dan Dekai. Otoritas bandara berharap penerbangan dapat kembali normal pada Kamis, apabila kondisi cuaca dan jarak pandang di bandara tujuan membaik. Informasi tersebut disampaikan oleh Humas Bandar Udara Internasional Sentani, Syahrial. "Penundaan penerbangan dari Bandara Sentani itu seluruhnya tujuan kota-kota di Tanah Papua yakni Wamena dan Dekai," kata Syahrial.
Menurut dia, kabut asap akibat karhutla menyebabkan operasional penerbangan tidak dapat dilakukan sesuai jadwal karena pertimbangan keselamatan penerbangan. Sejumlah maskapai yang terdampak antara lain Trigana Air, Sriwijaya Air, dan Wings Air.
Dari total 14 penerbangan yang ditunda, sebagian besar merupakan rute kargo dan penumpang tujuan Wamena. Beberapa penerbangan lainnya melayani rute Dekai. Seluruh jadwal yang tertunda direncanakan kembali beroperasi setelah kondisi cuaca memungkinkan.
Syahrial mengatakan jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap menjadi alasan utama penundaan penerbangan. Karena itu, maskapai dan otoritas bandara memilih menunda keberangkatan hingga kondisi dinyatakan aman. "Kabut asap akibat karhutla di bandara tujuan menyebabkan ditundanya penerbangan dan dijadwalkan kembali Kamis (15/10/26)," ujarnya.
Secara terpisah, Kepala Perwakilan Wamena, Michael Biduri, membenarkan bahwa seluruh penerbangan Trigana Air menuju dan dari Wamena terpaksa ditunda akibat kondisi cuaca tersebut. Menurut Michael, kabut asap menyebabkan jarak pandang di Bandara Wamena berada di bawah standar keselamatan penerbangan sehingga pesawat tidak dapat melakukan pendaratan maupun lepas landas. "Kabut asap akibat karhutla menyebabkan jarak pandang di Bandara Wamena terbatas sehingga penerbangan ditunda menjadi Kamis" kata Michael.
Gangguan penerbangan ini berpotensi memengaruhi distribusi logistik maupun mobilitas masyarakat di wilayah pegunungan Papua yang selama ini sangat bergantung pada transportasi udara. Otoritas bandara dan maskapai terus memantau perkembangan cuaca sebelum memutuskan jadwal penerbangan berikutnya. (RHU)