Produksi Gula Masih Bergantung Produktivitas dan Peremajaan
Lebih lanjut, Andi Amran Sulaiman menjelaskan kementeriannya memperkuat sisi hulu melalui pengembangan kawasan tebu sekitar 97.970 hektare dengan dukungan anggaran sekitar Rp1,448 triliun pada 2026. Program itu mencakup peremajaan melalui bongkar ratoon untuk mengganti tanaman tua atau mengalami penurunan produktivitas. Termasuk menyiapkan sekitar 5,9 miliar mata benih tebu unggul untuk mendukung pengembangan sekitar 99.547 hektare di 10 provinsi dan 74 kabupaten.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal (Plt Dirjen) Perkebunan Kementan RI, Heru Tri Widarto menyebut peningkatan produksi harus berjalan bersama dengan peningkatan produktivitas tanaman. Ia juga menilai, langkah menambah luas tanam tak akan cukup merealisasikan target swasembada gula konsumsi. “Yang kita dorong adalah peningkatan produktivitas dari hulu, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, perbaikan budidaya, bongkar ratoon, dukungan sarana produksi, hingga penguatan pendampingan kepada pekebun,” tuturnya.
Selain peremajaan dan benih, Kementan RI mengalokasikan 1.000 unit irigasi perpompaan untuk komoditas tebu pada 2026. Infrastruktur itu untuk menjaga produktivitas tanaman, terutama pada wilayah yang menghadapi risiko kekeringan. Mereka juga menggunakan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sistem Si-PERDITAN untuk memperkuat mitigasi gangguan iklim.
Baca Juga
Dari sisi industri, produksi 2026 tertopang oleh 58 pabrik gula yang terdiri atas 39 pabrik gula Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan 19 milik swasta. Industri itu melibatkan sekitar 731.705 pekebun tebu, sehingga peningkatan produksi berkaitan langsung dengan keberlanjutan pendapatan pelaku usaha di tingkat kebun. Oleh karenanya, Kementan RI terus menjaga keseimbangan pasokan, pendistribusian, dan harga agar peningkatan produksi tak berhenti sebagai capaian statistik.
Pada akhirnya, kenaikan produksi GKP menjadi 3,02 juta ton memang memperkuat pasokan gula domestik, tetapi tantangan produktivitas belum selesai. Rendemen 7,51% masih jauh dari target 11,20% yang membuat peremajaan, benih unggul, irigasi, dan perbaikan budidaya harus menghasilkan peningkatan yang terukur. Tanpa lonjakan produktivitas dan rendemen, kenaikan produksi berisiko lebih banyak bergantung pada perluasan areal daripada efisiensi sektor gula nasional. (ADR)





























