AFU.id

Prabowo Buka Opsi MBG Dikelola dengan Model "School-Based Kitchen" ala Jepang

Bagikan:

Penulis: Agung Riyadi

Ringkasan Berita

Presiden Prabowo Subianto mengizinkan kajian untuk mengimplementasikan pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan model "School-Based Kitchen" ala Jepang, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas makanan di sekolah. Rapat terbatas yang diadakan di Jakarta memberikan waktu satu bulan bagi Badan Gizi Nasional untuk mengevaluasi alternatif skema pengelolaan ini, setelah sebelumnya mengalami kritik terkait sistem sentralistik yang menyebabkan penurunan kualitas makanan dan kasus keracunan. Meskipun ada dukungan terhadap perubahan ini, tantangan tetap ada, terutama dalam hal regulasi dan infrastruktur sekolah yang tidak siap untuk menerima model baru tersebut.

Prabowo Buka Opsi MBG Dikelola dengan Model "School-Based Kitchen" ala Jepang
Siswa menunjukkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah (ANTARA)

Sentimen Berita

33% sumber condong ke kiri

Kiri33%
Tirto
Netral33%
Okezone
Kanan34%
Republika

Jika Indonesia baru meraba-raba konsep school-based kitchen, Jepang telah menyempurnakan sistem ini selama lebih dari satu abad melalui program makan siang sekolah nasional yang dikenal dengan nama Kyushoku. Di Jepang, makan siang di sekolah bukan sekadar urusan mengisi perut kosong, melainkan bagian integral dari kurikulum pendidikan karakter (shokuiku atau pendidikan pangan).

Terkait makanan, sumber bahan baku MBG di Jepang mengutamakan bahan pangan lokal (local sourcing) dari pertanian di sekitar distrik sekolah untuk meminimalkan waktu perjalanan logistik. Jarak dari dapur sekolah ke ruang kelas disetting kurang dari 5 menit, untuk memastikan makanan disajikan pada suhu optimal (panas tetap panas, dingin tetap dingin) guna mencegah bakteri berkembang biak.

Kemudian, seluruh staf dapur wajib mengenakan seragam sterilisasi penuh (baju putih, masker, penutup rambut) dan menjalani pemeriksaan kesehatan periodik secara ketat. Siswa di Jepang juga diajarkan mandiri mengambil makanannya sendiri alias tidak ada pelayan. Siswa secara bergilir bertugas memakai apron steril, membawa makanan ke kelas, membagikannya secara adil, dan membersihkan kembali peralatan makan secara mandiri.

Untuk menjaga keamanan pangan, standar sanitasi sekolah di Jepang sangat ketat sehingga sampel dari setiap porsi makanan yang dimasak di sekolah wajib dibekukan dan disimpan selama dua minggu di laboratorium sekolah. Tujuannya adalah sebagai rujukan investigasi instan jika di kemudian hari muncul keluhan sakit perut dari salah satu siswa.

Pintu alternatif kini telah dibuka oleh Presiden Prabowo. Namun, tantangan terbesar BGN di bawah kendali Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, adalah melakukan rekayasa regulasi terhadap Perpres 115 yang telanjur membatasi ruang gerak penyaluran hanya via SPPG.

Agustina membenarkan bahwa saat ini regulasi awal memang sangat kaku. "Kan kalau menurut Perpres 115, skema pelaksanaannya hanya melalui SPPG. Pilihannya hanya itu. Pak Presiden tadi mengatakan 'silakan dikaji kalau ada alternatif yang lain, boleh'. Beliau meminta setiap pilihan kebijakan dikaji dengan baik apa dasarnya," urai Agustina.

Pemerintah kini memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk merumuskan ulang peta jalan MBG. Jika desentralisasi berbasis kantin sekolah ini berhasil digulirkan, program MBG tidak hanya akan menjadi jaring pengaman nutrisi nasional, tetapi juga mesin penggerak ekonomi mikro di sekitar gerbang sekolah dan pasar-pasar tradisional di seluruh pelosok Indonesia.

MAR

Berita Terkait

Pilihan Redaksi