JAKARTA - AFU.ID, Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Perancis 27 Mei 2026 kemarin berbeda dari dua kunjungan sebelumnya. Pasalnya, kunjungan kali ini dilakukan bertepatan dengan perayaan nasional Hari Raya Iduladha.
Sehingga, Prabowo menggelar shalat Iduladha 1447 Hijriah di Wisma Indonesia, Paris, Perancis bersama warga negara Indonesia (WNI) dan diaspora yang berada di sana. Namun bukan ini yang jadi sorotan publik saat ini, tetapi pada durasi kunjungannya ke Perancis yang sudah tiga kali dalam setahun.
Sepanjang 2026, Prabowo telah tiga kali mengunjungi Perancis sejak awal tahun. Kunjungan pertama berlangsung pada 23 Januari 2026, kemudian kunjungan kedua pada 14 April 2026, dan kunjungan terbaru pada 27 Mei 2026.
Tak jauh berbeda dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya, rangkaian acara di Perancis kali ini juga terkait diplomasi bilateral, penguatan kerjasama strategis, hingga pemenuhan undangan kenegaraan dari Presiden Perancis Emmanuel Macron.
Ketua Program Studi Hubungan Internasional UMY, Ade Marup Wirasenjaya, menilai kunjungan Prabowo berkaitan dengan karakter atau orientasi politik. Berbeda dengan Jokowi, Prabowo lebih berorientasi pada agenda politik luar negeri.
"Nah, tapi kalau bagi saya itu tidak lepas dari ambisi-ambisi Prabowo yang memang ingin ya setidaknya dari Asia Tenggara ada pemimpin yang diperhitungkan lah kira-kira. Mungkin Pak Prabowo ingin seperti Erdogan mungkin," katanya, Jumat (29/5/2026), seperti dikutip dari Suara.
Apa Agenda Prabowo di Perancis Kali Ini?
Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan untuk memenuhi undangan Macron yang sempat tertunda.
"Ini adalah undangan dari Presiden Macron yang sebenarnya sempat tertunda," ujar Sugiono, Rabu (27/5/2026).
Sugiono menjelaskan, kunjungan itu semula direncanakan berlangsung pada April 2026. Namun, jadwal kedua kepala negara saat itu belum cocok sehingga agenda tersebut belum dapat terlaksana.
Macron kembali menyampaikan undangan tersebut saat Prabowo berkunjung ke Paris dalam pertemuan sebelumnya. Macron kemudian mengusulkan jadwal baru untuk kunjungan kenegaraan Prabowo ke Perancis.
"Jadi, karena sudah diajukan dua kali, ini yang kedua, Presiden memenuhi undangan ini dan hadir di Paris dalam rangka kunjungan kenegaraan, sebagai kunjungan balasan Presiden Macron ke Indonesia," kata Sugiono.
Macron Puji Hubungan Indonesia-Perancis
Presiden Republik Prancis Emmanuel Macron menegaskan komitmen memperkuat hubungan strategis menjadi kemitraan global di berbagai bidang bersama Indonesia.
Hal itu diungkap dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Istana Elysee, Paris, Kamis (28/5/2026).
"Indonesia adalah mitra penting strategis dari Indo-Pasifik dan saya yakin ini juga bagian dari keyakinan Bapak Prabowo," ujar Macron, Jumat (29/5/2026)
Macron menyoroti kerjasama Indonesia-Perancis di bidang pertahanan. Itu ditandai dengan kedatangan pesawat tempur Rafale pertama di Indonesia sebagai bukti nyata hubungan strategis yang terus berkembang.
"Kemarin ini ada pesawat tempur Rafale yang pertama yang baru tiba di Indonesia, yang menjadi bukti dari hubungan ini dan diskusi hari ini, ini juga adalah bukti keinginan untuk terus maju di jalur ini," katanya.
Presiden Macron juga menekankan pentingnya penguatan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi antara Indonesia dengan Prancis maupun Uni Eropa.
Ia berharap perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (YE) segera diberlakukan guna mempercepat arus perdagangan dan investasi di berbagai sektor strategis seperti transportasi, kesehatan, transisi energi, hingga pertahanan.
Presiden Macron turut menyampaikan apresiasi atas dibukanya pasar Indonesia bagi sektor peternakan sapi perah dan sapi daging asal Prancis. Selain itu Presiden Macron menyambut baik rencana investasi Danantara sebagai bagian dari penguatan hubungan ekonomi kedua negara.
Di bidang budaya dan pendidikan, kedua pemimpin negara juga berkomitmen memperdalam kerja sama yang sebelumnya telah diperkuat melalui deklarasi bersama strategi kebudayaan di Candi Borobudur pada Mei 2025.
Kerja sama tersebut mencakup sektor permuseuman, sastra, perfilman, mode, hingga penguatan kolaborasi ilmiah, teknologi, dan universitas dalam Tahun Inovasi Prancis-Indonesia 2026.
"Prancis hendak ingin menyambut lebih banyak mahasiswa, peneliti, talenta," ujar Presiden Macron.
Setelah dari Rusia
Sebelumnya, Presiden Prabowo melakukan kunjungan kerja ke Paris, Perancis, Senin malam, 13 April 2026, sekitar pukul 23.50 waktu Paris. Kunjungan ini dilakukan setelah dari kunjungan ke Rusia, bertemu dengan Presiden Putin selama 5 jam.
Pertemuan Prabowo dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron berlangsung di Istana Élysée pada 14 April 2026.
"Setelah melakukan pertemuan yang berlangsung selama lima jam dengan Presiden Putin di Istana Kremlin, Bapak Presiden langsung bertolak menuju Perancis dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam dan tiba tengah malam di Paris," ujar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Selasa (14/4/2026).
Teddy menyampaikan, pertemuan itu tidak hanya membahas penguatan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Perancis. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang bagi Indonesia untuk menyampaikan pandangan strategis terkait dinamika global.
"Dalam pertemuan tersebut, Bapak Presiden selain memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Perancis, juga akan menyampaikan posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan mendorong perdamaian dunia," ujar Teddy.
Setelah dari Davos
Kunjungan Presiden Prabowo ke Perancis pertama kali berlangsung pada Jumat, 23 Januari 2026, tepat setelah menghadiri World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos.
Di Davos, Prabowo menyampaikan pidato kunci memperkenalkan konsep "Prabowonomics", yaitu visi ekonomi Indonesia yang fokus pada kesejahteraan rakyat, pengentasan kemiskinan, investasi, dan tata kelola yang bersih.
Setelah itu, dirinya berkunjung ke Paviliun Indonesia untuk bertemu investor dan memperkuat diplomasi ekonomi. Menariknya, pada agenda kunjungan kenegaraan ini, Prabowo juga mengikuti peluncuran Gaza Board of Peace (BoP).
Dari Zurich, Prabowo terbang ke Paris pada 23 Januari 2026 siang. Kunjungan pertama ini berlangsung singkat, yaitu hanya kurang lebih 5 jam untuk memenuhi undangan pribadi Presiden Emmanuel Macron.
Seskab Teddy menyebut pertemuan ini bertujuan untuk melakukan koordinasi isu global dan membahas peran Perancis sebagai tuan rumah G7.
"Kunjungan Presiden ke Perancis merupakan bagian dari agenda diplomasi bilateral untuk memperkuat hubungan kerja sama strategis antara Indonesia dan Perancis," kata Teddy, Jumat (23/1/2026). (EER)