JAKARTA, AFU.ID — Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan yang melibatkan dukungan internasional berujung pada perdebatan hangat di media sosial. Kedatangan 180 personel militer beserta armada pemadam dari Jepang dikomentari orang Jepang sendiri, lantaran kedatangan tentaranya untuk memadamkan karhutla itu malah disambut parade meriah.
Akun akun @ushinai_p, yang mengunggah cuitan dalam teks asli bahasa Jepang menyatakan keherananya atas penyambutan meriah itu. "Tentara Jepang tiba di Indonesia untuk membantu upaya pemadaman kebakaran di Kalimantan. Namun, para prajurit Jepang dibuat bingung oleh penyambutan dari militer Indonesia yang terlampau antusias. Di Jakarta, mereka menerima penyambutan yang rasanya seperti festival perayaan besar," demikian kutipan cuitan @ushinai_p, dikutip Sabtu (12/9/2026).
"Kapan pemerintah Indonesia akan mulai serius? Pemerintah Indonesia konyol dan membuang-buang waktu... Para prajurit Jepang benar-benar fokus untuk memadamkan api secepat mungkin. Namun, pasukan Indonesia justru merencanakan acara yang tidak ada gunanya," tambahnya.

Cuitan itu segera mengundang komentar netizen Indonesia. "Tentara Jepang bingung. Datang ke Indo yg lagi kena bencana kebakaran hutan, tapi ternyata disambut meriah kayak lagi perayaan akbar," kata akun @twoyulll. "Kebakaran lahan hutan tu dalam itungan detik bakal terus meluas. Lebih penting seremonialnya, kerjanya tar dulu," tambahnya.
"Orang Jepang sampai geleng2 kepala lihat tingkah pejabat2 Indonesia. Hanya ada di NKRI, udah bencana masih bikin seremonial," kata akun @ainurohman.
Seperti diketahui, kedatangan armada Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) merupakan bagian dari misi penanggulangan bencana kemanusiaan (Humanitarian Assistance and Disaster Relief/HADR) yang dijadwalkan berlangsung selama 21 hari di lapangan. Kapal armada Jepang JS Kunisaki yang mengangkut tiga helikopter serta ratusan personel bersandar di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Armada tersebut diproyeksikan memperkuat operasi pemadaman titik api via udara (water bombing) menggunakan helikopter tipe CH-47 Chinook dengan pangkalan operasi utama di Pontianak.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kedatangan bantuan militer ini merupakan implementasi nyata dari kesepakatan diplomasi pertahanan yang sudah ditandatangani kedua negara. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letjen TNI Tri Budi Utomo menjelaskan bahwa pengerahan bantuan ini merujuk pada perjanjian kerja sama pertahanan (Defence Cooperation Arrangement/DCA) antara Indonesia dan Jepang yang disahkan pada 4 Mei 2026. Ia menekankan pentingnya memandang kerja sama kemanusiaan ini secara utuh dalam bingkai diplomasi pertahanan antarnegara.
Di sisi lain, Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengonfirmasi bahwa seluruh personil dan armada bantuan asal Jepang diintegrasikan secara penuh ke dalam komando tim pemadam darat dan udara yang sudah berada di Kalimantan Barat. Pemerintah Indonesia memastikan tetap memegang kendali operasional secara utuh dalam penanganan karhutla tersebut, dengan menempatkan aset serta personel dari Negeri Sakura sebagai unsur pendukung taktikal. (MAR)