JAKARTA, AFU.ID — Program Budi Daya Tematik berbasis sistem Mini Recirculating Aquaculture System (RAS) menghadapi tantangan kesiapan lokasi. Pasalnya, Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pembangunan sekitar 40.000 titik di seluruh Indonesia hingga 2029. Namun, dari 5.051 desa yang terverifikasi di enam provinsi, baru 1.454 teridentifikasi siap bangun.
Data tersebut menunjukkan perluasan program masih sangat bergantung terhadap pemenuhan persyaratan teknis di tingkat desa. Menteri KP RI, Sakti Wahyu Trenggono lantas berupaya memastikan mockup program itu tetap berjalan di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Ia ingin melihat efektivitas model budi daya modern bernilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Dalam pemodelannya, Mini RAS hadir sebagai teknologi produksi ikan dan bagian dari rantai pasok industri perikanan di tingkat desa. Ekosistem yang terbangun mencakup penyediaan benih, pakan, pengolahan, hingga kegiatan pendukung lainnya. Skema itu membuat kesiapan desa menjadi faktor penting karena program tak berhenti pada pembangunan fasilitas budi daya.
KKP RI sendiri menargetkan pelaksanaan program di 4.000 titik pada 2026, yang tersebar di Pulau Jawa dan Lampung melalui dua tahap masing-masing 2.000 titik. Pada tahap awal, proses verifikasi berjalan untuk memastikan desa memenuhi persyaratan sebelum memulai pembangunan. “Membangun Mini RAS adalah sebuah terobosan, kita akan bangun di setiap desa untuk membentuk mata rantai industri,” ungkap Sakti Wahyu Trenggono dikutip Afu.id dari website KKP RI, Senin (28/9/2026).
Hanya saja, target 40.000 ribu Budi Daya Mini RAS masih harus berhadapan dengan kondisi riil di lapangan. Dari verifikasi awal, KKP RI telah memeriksa 5.051 desa di Banten, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sebanyak 1.454 desa dinyatakan siap bangun, sedangkan desa lainnya masih menjalani penyesuaian teknis dan evaluasi.
Oleh karenanya, pembangunan mockup menjadi tahap untuk menguji desain, aspek teknis, dan keekonomian sebelum model diterapkan secara lebih luas. Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budi Daya KKP RI, Tb Haeru Rahayu menyatakan penyempurnaan sangat penting agar target pembangunan dapat berjalan sesuai perencanaan. “Dari sini, desain dan perhitungan keekonomiannya terus kita sempurnakan sebelum diterapkan secara lebih luas,” tuturnya.
Pada akhirnya, besarnya target pembangunan tak serta-merta menunjukkan kesiapan implementasi. Selisih antara jumlah desa yang terverifikasi dan desa yang siap bangun memperlihatkan tantangan berikutnya adalah memastikan aspek teknis, ekonomi, dan ekosistem usaha benar-benar tersedia di lokasi. Dengan begitu, ekspansi Program Budi Daya Tematik berbasis sistem Mini RAS tak berhenti pada pembangunan titik, tetapi dapat menghasilkan rantai produksi yang berjalan. (ADR)